4 Pesepakbola Yang Langsung Melanjutkan Kiprah Sebagai Juru Racik

Berita Bola – Ryan Giggs merupakan salah satu pemain yang langsung jadi manajer setelah mengakhiri kiprahnya sebagai pesepakbola. Terlebih, kesebelasan pertama yang ia tangani adalah eks kesebelasannya sendiri, Manchester United. Sayangnya, kiprah Giggs sebagai manajer tak berjalan lama. Pihak manajemen MU memutuskan menunjuk Jose Mourinho sebagai pelatih baru United di awal musim ini.

Giggs pun kemudian angkat kaki dari Old Trafford demi menemukan kesebelasan yang menginginkan jasanya. Namun sampai saat ini, Giggs belum menemukan kesebelasan tersebut. Sempat beredar isu Giggs akan menangani Swansea musim lalu. Tapi Giggs menyangkal hal itu. Selain Giggs, ada sejumlah pemain lain yang tak ragu langsung jadi seorang juru taktik begitu gantung sepatu. Berikut ulasannya :

1. Garry Monk (Swansea City)


Garry Monk mengabdi pada Swansea City sejak 2004 sampai 2014. Namanya pun dijadikan salah satu legenda The Swans. Monk telah merumput bersama Swansea total sebanyak 260 laga. Pada 2013, Monk bahkan masih terdaftar sebagai pemain dan ikut menyumbangkan trofi Piala Liga untuk Swansea.

Keputusan para atasan mendepak Michael Laudrup kemudian berbuah manis bagi Monk. Ia kemudian ditunjuk menjadi manajer sementara Swansea di tahun 2014 lalu. Performanya yang apik di sisa musim 2013/14 membuatnya dipertahankan hingga semusim berikutnya. Tapi sayangnya, Monk tak berhasil di saat ia ditunjuk jadi manajer tetap Swansea dan kemudian ia dibebas tugaskan pada November 2015 silam.

2. Gianluca Vialli (Chelsea)


Tidak memerlukan waktu lama untuk Vialli mendapat kepercayaan menjadi juru taktik setelah dirinya gantung sepatu di Chelsea tahun 1999. Di musim selanjutnya, Vialli langsung ditunjuk jadi juru racik Chelsea mengambil alih kedudukan Ruud Gullit baru di depak. Sejatinya, Vialli sudah menangani The Blues sejak musim 1998. Namun kala itu ia masih berpredikat sebagai pemain sekaligus pelatih.

Kiprah Vialli sebagai juru taktik tetap di Chelsea bisa dibilang sukses. Vialli menyumbangkan 1 trofi Piala FA dan 1 trofi Community Shield. Sayang di musim 2001, Vialli berseteru dengan beberapa pemain pilar The Blues di antaranya Gianfranco Zola. Vialli pun kemudian didepak para petinggi Chelsea dan kemudian hijrah ke Watford. Di Watford pun ia tak lama, hanya semusim.

3. Ruud Gullit (Chelsea)


Pendahulu Vialli, Ruud Gullit juga langsung menjadi juru taktik begitu mengakhiri karier sebagai pemain. Terlebih, Gullit mengemban peran ganda sebagai pemain sekaligus pelatih di Stamford Bridge selama dua musim. Gullit dipercaya menempati posisi Glenn Hoddle yang ditunjuk menjadi manajer timnas Inggris.

Ia menjadi pria berkebangsaan Belanda pertama yang berkarir di Liga Inggris. Di awal kariernya, Gullit cukup sukses dengan mengantarkan The Blues finis di peringkat keenam. Tapi Gullit lalu didepak di musim selanjutnya karena suatu konflik dengan petinggi Chelsea.

4. Kenny Dalglish (Liverpool)


Sepak terjang Dalglish sebagai juru racik Liverpool tidak luput dari peristiwa Heysel tahun 1985. Joe Fagan sebagai manajer Liverpool memilih mundur tak lama setelah tragedi itu. Dalglish lalu ditunjuk menjadi pemain sekaligus manajer. Di musim pertamanya, Dalglish menyumbangkan double winners bagi The Gunners: trofi Liga Inggris dan trofi Piala FA.

Liverpool sempat puasa trofi di musim 1987/88, tapi Dalglish mampu menebus kegagalan ini dengan merengkuh trofi Liga di musim 1989/90. Total, Dalglish menyumbangkan sembilan trofi selama periode perdananya menangani Liverpool. Dalglish kembali mengelola Liverpool di April 2011. Sempat menghadiahi trofi Piala Liga pada 2011/12, Dalgslish kemudian dilengserkan pada 2012 karena tak berhasil mengantarkan Liverpool masuk zona Eropa.

Borriello Kembali Tunjukkan Tajinya Bersama Cagliari

Serie A – Sebagai kesebelasan pendatang baru di Serie A, Cagliari memang aktif di jendela transfer musim panas awal musim ini dengan meminang pemain baru sebagai usaha agar keberadaan mereka di kompetisi kasta tertinggi di Italia itu bukan sekedar angin lalu semata. Salah satu pemain yang diboyongnya adalah striker kawakan asli Italia, Marco Borriello secara cuma-cuma dengan durasi kontrak satu musim ditambah opsi perpanjangan kontrak di musim selanjutnya.

Banyak yang menilai kedatangan pemain 34 tahun ke Cagliari ini adalah pembelian yang percuma. Maklum, tak sedikit pihak yang menilai karier Borriello telah tamat. Hal tersebut didasari dari performanya di Atalanta musim lalu, dimana pemain yang menyandang nomor 22 ini hanya mampu mencetak 4 gol dari 14 laga yang ia ikuti di Serie A.

Kendati demikian, ada pula dukungan yang diarahkan kepadanya. Salah satunya adalah dari legenda Italia, Christian Vieri. Ia berjanji jika Borriello sanggup membukukan 15 gol, maka ia akan membayarinya semasa jeda musim panas nanti.

Saat ini, Vieri sedang dibuat kerepotan karena kawannya itu sanggup memenuhi tantangan yang diberikan padanya awal musim lalu. Nama Borriello kembali jadi sorotan di Italia karena kembali menunjukkan tajinya di depan gawang lawan. Total pemain yang pernah dipinjamkan ke West ham ini telah mencatatkan 16 gol di semua kompetisi yang dilakoni oleh Cagliari sekaligus sebagai pemain paling subur di kesebelasan tersebut.


Torehan itu mengukuhkan dirinya menjadi striker Italia terproduktif kedua di bawah Belotti di daftar pencetak gol terbanyak sementara Liga Italia. Hal ini menyebabkan Andrea D’Amico selaku agen Borriello berpendapat, kliennya layak untuk kembali membela Tim Nasional Gli Azzurri.

Borriello sendiri telah mencicipi penampilan bersama timnas sebanyak 7 kali. Namanya sempat bertengger di dalam daftar skuad Italia di kompetisi Piala Eropa tahun 2008 lalu. Sayang, ia tak diturunkan dalam kejuaraan tersebut. Perjalanan kiprah Borriello memang bisa dianalogikan dengan wahana roller coaster. Memulai karier di AC Milan, ia justru menghabiskan waktu dengan dipinjamkan ke kesebelasan medioker.

Kiprahnya mulai melambung ketika membela klub promosi, Genoa di musim 2007/2008. Bahkan di kesebelasan yang berjuluk Rossoblu tersebut, Borriello di bawah rezim Gian Piero Gasperini sanggup keluar sebagai top skorer ketiga di Serie A di bawah duet Juventus, yaitu Del Piero dan Trezeguet.

Berkat pencapaiannya tersebut, ia pun diminta kembali oleh AC Milan. Sayangnya, merumput disana mengakibatkan kariernya tenggelam. Tapi daya tarik pria kelahiran Juni 1982 ini nyatanya tetap memukau. Dalam sebuah interview ia mengungkapkan bahwa dirinya hampir berseragam Manchester City dan Real Madrid, tapi tawaran itu ditolaknya dan tetap bertahan di San Siro, yang kala itu dibesut oleh Allegri.

Saat ini, di usia yang dikatakan sudah tua bagi seorang atlet sepak bola, Borriello pun menikmati kariernya di Cagliari. Boriello pun tak menargetkan ekspektasi yang berlebihan selain menyelamatkan kesebelasan yang merengkuh titel Serie B musim lalu dari zona degradasi. Kalau pun di akhir musim nanti Borriello menegaskan untuk gantung sepatu, maka ia tak perlu lagi repot untuk menentukan tempat tujuan berlibur dan biayanya.

Wenger Diharapkan Mampu Mengantisipasi Keterpurukan Yang Tengah Melanda Skuatnya

Liga Inggris – Arsene Wenger mengungkapkan bahwa duel menghadapi West Brom adalah laga yang kerap terjadi Liga Inggris, dimana ada kesebelasan yang menguasai ball posession dan tim yang lainnya menjaga lini pertahanan dengan baik, mengandalkan strategi serangan balik. Meski skuat asuhannya mampu menguasai bola hingga 77 persen tapi tak cukup banyak membuat peluang.


Pernyataan Wenger itu seolah mendeskripsikan secara singkat hari sial lainnya bagi Arsenal di pentas Liga Inggris. Walau Arsenal sempat menyeimbangkan keadaan berkat aksi Alexis Sanchez, pada akhirnya ketidakberhasilan mereka untuk melahirkan peluang harus kembali diganjar mahal dengan membawa pulang kekalahan.

Tony Pulis selaku juru taktik West Brom pun turut berpendapat bahwa ia dan timnya telah bekerja sangat keras di sesi latihan demi tetap mengamankan posisi. Sewaktu anggota lawan berhasil lolos dari pengawasan, mereka bisa saja jadi ancaman. Mungkin itulah penyesalan satu-satunya Pulis ketika Alexis menyeimbangkan kedudukan.

Dari pernyataan ke-2 juru racik usai berakhirnya laga pun sangat terlihat perbedaan diantara keduanya. Satu pihak mengatakan bahwa memang begitulah jalannya Liga Inggris, sementara pelatih yang lain menungkapkan caranya bermain dalam pertandingan-pertandingan tertentu.

Hal ini sudah pasti dikarenakan satu juru taktik berhasil memetik kemenangan dan satunya harus rela kesebelasannya dikalahkan. Tapi, dari konferensi pers ke-2 pelatih kawakan tersebut, Pulis memang terlihat lebih siap untuk kembali menghadirkan kejutan bagi Wenger.

Kekalahan sepertinya sudah menjadi sesuatu yang biasa dialami skuat The Gunners tiap pekannya. Entah di ajang apapun, sepertinya para pendukung mereka pun tidak lagi bisa merasakan keyakinan untuk menang menjelang pertandingan.

Aksi protes pun sudah dilontarkan untuk memaksa kepergian juru taktik asal Perancis tersebut. Mulai dari aksi di tribun hingga spanduk menggunakan pesawat, semua itu rela dilakukan oleh pendukung The Gunners demi melihat skuat favoritnya bisa melangkah menuju periode yang baru.

Memang, Wenger sukses mengantarkan Arsenal berkompetisi dengan tim elit Eropa. Tapi, di sisi lain, ia juga membuat Arsenal mempunyai kelemahan-kelemahan yang dengan enteng dijelajahi lawan, seperti kecenderungan untuk mengelola bola terlalu lama dan kurang kuatnya pengawalan dalam bola mati.

Hal itu pun nampak ketika The Gunners kecolongan gol terlebih dahulu. Ramsey dan Chamberlain tak cermat dalam memperhitungkan pergerakan defender The Baggies itu di area kotak penalti. Begitu pula Xhaka yang tidak siap mengawasi pergerakan pemain lainnya. Hal inilah yang sukses dimanfaatkan oleh skuat besutan Pulis dengan sempurna dan menyumbangkan mereka tiga poin.

Sebelum kemunculan Wenger, bisa dikatakan Arsenal cukup ahli dalam memanfaatkan bola mati. Tony Adams dan Steve Bould yang saat ini merupakan asisten manajer terlihat teratur menebarkan teror dari kehadiran mereka dalam situasi tendangan sudut. Begitu pula ketika menghadapi situasi bola mati dari lawannya.

Di Bawah rezim George Graham, bola mati merupakan salah satu kekuatan utama The Gunners. Efektivitas skuat besutan Graham dalam mampraktekkan strategi tersebut menjadi kunci kesuksesan Arsenal yang jadi begitu mengerikan dalam memanfaatkan bola mati.

Satu hal yang mungkin dapat sedikit menghibur pendukung Arsenal adalah probabilitas perginya Wenger dari Emirates pada akhir musim. Dengan kontrak yang akan habis dan belum ada sinyal diperpanjang, Wenger pun menyatakan bahwa ia sudah memiliki rencana untuk masa depannya.

Saat ini, fokus juru taktik asal Perancis itu tentu adalah untuk mengantarkan The Gunners finis setinggi mungkin. Dengan Tottenham Hotspur, Liverpool, Manchester City, dan Manchester United yang juga memperebutkan tiket untuk tampil di zona Liga Champions, perjalanan Arsenal tentu masih cukup berat. Dan, tentu akan sangat disesalkan apabila kepelatihan Wenger di Arsenal harus diakhiri dengan berakhirnya tren positif mereka, yaitu finis diluar empat besar.

PSG Akan Kembali Bersandar Pada Performa Gemilang Cavani

Liga Perancis – Akhir pekan ini, Paris Saint-Germain akan menjamu Olympique Lyon di ibukota Perancis. Lain hal dengan PSG, skuat besutan Bruni Genesio saat ini masih meneruskan kiprahnya di kompetisi Eropa, bersama AS Monaco yang juga lolos ke putaran perempat final Liga Champions.

Umumnya, PSG juga menjadi wakil Perancis yang terus melangkah. Namun, comeback yang dilakukan Barcelona di Camp Nou terpaksa menyirnakan segala asa pasukan yang dibesut Unai Emery untuk membukukan kejayaan pertama mereka di kompetisi paling bergengsi di Eropa.

Meskipun performa mereka terlindung berkat aksi memukau Monaco atas Manchester City, apa yang disuguhkan Lyon di Europa League juga seharusnya mendapat apresiasi. Menang 4-2 di leg pertama dan kalah 2-1 pada leg kedua, Les Gones sukses memantapkan langkah mereka ke putaran perempat final. Kelolosan Lyon ini tentu adalah kabar yang cukup baik bagi Ligue 1 dan PSG. Kenapa PSG? Karena tentu Lyon akan merasa sedikit kelelahan setelah duel di Olimpico dan hal itulah yang semestinya mampu jadi keuntungan bagi Les Parisien.


BagiĀ Edinson Cavani, tentu ini adalah kesempatan besar bagi timnya untuk terus mendekati Monaco di puncak klasemen. Soal keperluan pribadi, menghadapi Lyon pun bisa menjadi peluang penyerang Uruguay itu untuk memperbanyak pundi-pundi golnya di liga yang saat ini sudah di angka 27.

Setelah laga kontra Blaugrana, Cavani memang dianggap sebagai salah satu pemain yang memiliki sikap pantang menyerah. Jikalau secara tim dirasa PSG kelihatan kurang siap untuk berseteru dengan Barcelona, maka berbeda dengan Cavani.

Apabila boleh memberikan apresiasi pada individu di skuat besutan Emery, maka Cavani lah yang paling layak. Pemain berusia 30 tahun itu nampak penuh semangat sepanjang laga di Camp Nou. Walau gol yang ia cetak pada akhirnyatak berhasil membawa timnya lolos, Cavani bisa dikatakan sebagai Man of the Match PSG kala itu.

Peningkatan performa Cavani inipun semakin memperkuat pengaruhnya di ruang ganti. Walau bukanlah anggota tim yang banyak berbicara, pengaruh Cavani di lapangan sangat terlihat. Mungkin, bila kelak Thiago Silva tidak lagi menyandang ban kapten Les Parisien, maka Cavani-lah yang pantas jadi kandidat terkuat.

Seiring dengan datangnya tuntutan besar dan performa yang belum kembali ke puncaknya, Thiago pun mungkin bakal kehilangan jabatannya itu akhir musim ini, jika sang juru racik dapat menentukan keputusan dengan tepat.

Cavani jelas akan kembali jadi pilar penting PSG di duel melawan Lyon. Pada perjumpaan pertama kedua kubu di Stade de Gerland, Cavani menyumbangkan dua gol pada kemenangan 2-1 bagi Les Parisien kala itu. Dan, ia juga telah mencatatkan empat gol dan satu assist dalam lima laga terakhirnya di Ligue 1.

Cavani pun nyaris tidak pernah mengecewakan sang juru racik, rekan-rekannya, dan para fans sewaktu ia tampil pada pertandingan besar. Dan perjumpaan antara PSG dan Lyon tentu masuk dalam golongan pertandingan besar.

Dengan kontrak barunya yang belum juga menemui titik temu, tentu Cavani memiliki banyak pertimbangan untuk membuat pihak manajemen menyodorkan kontrak baru untuknya. Bahkan, tawaran dari PSG pun bisa saja lebih royal apabila striker andalan mereka itu terus menampilkan performa yang konsisten. Dan, sejauh yang sudah ia tampilkan musim ini, Cavani tengah dalam performa terbaiknya. Dan ia adalah pemain yang subur sebagai salah satu striker yang wajib diawasi.

Sejumlah Kesebelasan Yang Punggawanya Paling Banyak Diminati Klub Lain

Berita Bola – Serie A Italia merupakan salah satu pentas bagi pemain-pemain top. Bukan cuma di klub-klub besar, pemain-pemain top juga banyak tersebar di klub-klub medioker atau bahkan di klub papan bawah. Pemain top umumnya akan banyak dibidik. Entah berhasil ditebus atau tidak, adalah urusan lain. Sebab memang, kesebelasan biasanya akan beruaha keras mempertahankan pemain andalannya.

Misalnya saja Juventus yang berupaya membentengi striker andalannya Paulo Dybala dari bidikan Real Madrid dan Barcelona. Saat ini, ada beberapa kesebelasan di Serie A yang pemainnya banyak dibidik. Di antara pemain-pemain itu kebanyakan merupakan pemain jebolan akademi sendiri. Tapi, banyak pula yang merupakan pemain pendatang, yang kemudian berkembang dan gemilang. Berikut empat kesebelasan Serie A yang punggawanya paling banyak dibidik :

1. Atalanta


Akhir-akhir ini, Atalanta jadi gerai yang paling banyak diminati oleh klub-klub top. Lantaran di sana dihiasi banyak bibit-bibit muda yang sedang gemilang. Misalnya Roberto Gagliardini, yang akhirnya hijrah ke Inter Milan pada jendela transfer musim dingin lalu. Lalu Mattia Caldara, yang telah berseragam Juventus, masih dibiarkan merumput di Bergamo untuk setahun ke depan.

Disamping itu, La Dea juga sepertinya harus rela ditinggalkan Alessandro Bastoni dan Frank Kessie. Bastoni sedang dibidik oleh Nerazzurri, sedangkan Kessie sepertinya akan hijrah ke klub Serigala Ibukota.

2. Fiorentina


Selain Atalanta, kesebelasan medioker Serie A yang punggawanya banyak dibidik adalah Fiorentina. Bahkan, dari seluruh isu tentan kepindahan pemain, nama Fiorentina nyaris tak pernah absen. Lihat saja bagaimanapara kesebelasan top seperti Inter, Roma, Juventus, Milan, Manchester United, dan Arsenal memburu para punggawa La Viola.

Salah satu yang terbaru dan sering dirumorkan adalah Federico Bernardeschi. Pemain sayap 23 tahun itu bahkan adalah salah satu pemain top Serie A saat ini. Namun bukan hanya Bernardeschi. Bintang-bintang Fiorentina yang lain seperti Nicola Kalinic, Milan Badelj, dan Federico Chiesa, juga banyak yang mengincar.

3. AC Milan


Pemain top yang merumput di kesebelasan top umumnya sedikit yang melirik. Selain karena sulit direkrut, pemain yang bersangkutan juga umumnya akan setia dengan kesebelasan tersebut. Tapinya hal itu sepertinya tak berlaku pada para bintang AC Milan. Mungkin karena alasan masih muda, sehingga dinilai masih belum mempunyai prinsip yang kokoh, mereka tetap banyak dilirik kesebelasan top lain.

Salah satunya adalah penjaga gawang berusia 18 tahun, Gianluigi Donnarumma. Kiper muda itu sangat didambakan oleh Juventus, Real Madrid, Manchester United, Chelsea, dan Paris Saint Germain. Para kesebelasan tersebut siap menggandeng kiper masa depan Italia itu dengan mahar yang fantastis. Selain Donnarumma, pemain belia Rossonerri lainnya yang juga banyak dibidik adalah Mattia De Sciglio, Alessio Romagnoli, dan Manuel Locatelli.

4. Napoli

Hal yang sama pun berlaku pada Napoli. Walau konsisten menduduki papan atas Serie A dalam beberapa tahun belakangan, tetap saja pemain mereka banyak dibidik. Napoli bisa jadi belum dinilai sebagai kesebelasan yang sanggup mempertahankan pemain andalannya.

Misalnya Gonzalo Higuain. Berjasa besar bagi Partenopei selama tiga musim, termasuk menduduki top skorer pada musim 2015/2016 dengan 36 gol, Napoli akhirnya harus rela kehilangan Higuain yang hijrah ke klub seterunya, Juventus, dengan mahar 90 juta euro. Sebelum Higuain, Napoli juga telah ditinggal oleh Edinson Cavani dan Ezequiel Lavezzi.

Setelah Higuain, perburuan pemain-pemain Napoli belum berakhir. Kini yang paling banyak diminati adalah Kalidou Koulibaly. Defender asal Senegal itu dibidik Chelsea dan Inter Milan. Selain dia, punggawa Partenopei lainnya yang juga dibidik adalah Amadou Diawara, Lorenzo Insigne, dan Dries Mertens.