Geluti Bisnis Oleh-Oleh Minang, Wanita Ini Raup Omzet Puluhan Juta

Tak dapat dipungkiri lagi jika saat ini, semakin marak bisnis yang berkembang di Indonesia, mulai dari usaha di bidang kuliner, fashion, dan lain sebagainya. Tak hanya itu, bisnis oleh-oleh juga mampu menawarkan peluang usaha yang menggiurkan, seperti halnya Mimi Silvia, wanita asal Batusangkar, Sumatera Barat yang menjalani bisnis oleh-oleh khas Minang sambil menempuh pendidikan S2 di Universitas Indonesia.

Keinginan wanita yang akrab disapa Mimi ini dalam memulai sebuah usaha terbesit ketika pulang ke kampung halamannya di pertengahan tahun 2016. Menurutnya, daerah Batusangkar punya beragam potensi untuk mengembangkan bisnis oleh-oleh asal Minang. “Jika oleh-oleh khas Minang semakin dikenal, tentunya perekonomian di daerah tersebut mampu berkembang dengan cepat. Untuk itu saya memutuskan untuk menjual oleh-oleh khas Minang dengan memanfaatkan media online,” ungkap Mimi.

Dalam bisnis oleh-olehnya tersebut, Mimi menjual beragam jenis produk kuliner seperti, serundeng, rendang, ikan bilih balado, dan masih banyak lagi. Sejumlah produk tersebut adalah hasil buatan dari keluarganya sendiri. “Saya bisa menjamin kualitas kuliner khas Batusangkar yang dibuat sendiri oleh keluarga. Sejumlah produk makanan ini saya bungkus menggunakan kemasan yang menarik dan mengusung brand O-NE,” tambahnya.

Meskipun produk yang dijual adalah jajanan tradisional, tapinya Mimi mengemasnya dengan begitu modern. Bahkan kemasannya pun terjaga kerapihan dan kebersihannya. “Semua produk yang dijual adalah barang baru, karena baru diproduksi ketika ada pesanan. Kami juga tidak menggunakan bahan pengawet, sehingga sangat terjamin keamanannya,” pungkasnya.

 

Untuk memasarkan bisnis oleh-oleh kulinernya itu, Mimi menggunakan media sosial pribadinya, seperti Instagram, Path, dan Facebook. Selain itu, Mimi juga melakukan penawaran langsung kepada kerabat dan rekan-rekannya melalui Whatshap.

Sampai saat ini, Mimi sudah mendapatkan cukup banyak pelanggan, yang didominasi oleh pembeli yang berada di daerah Bandung dan Jabodetabek. Tak hanya itu, bahkan produk O-NE juga telah dibeli untuk dibawa ke luar negeri, seperti Australia, Belanda, dan juga Inggris.

Pembeli dari produk buatan Mimi cukup beragam, mulai dari rekan-rekannya di SMA dan kuliah, teman di kantor lamanya, bahkan sampai beberapa kementrian. Ada juga dosen Mimi yang saat ini menjadi reseller dari produk O-NE. “Kami juga sudah mengikuti pasar lelang di Padang dan beragam pameran bisnis lainnya untuk memperkenalkan produk ini lebih luas lagi,” beber Mimi.

Bisnis oleh-oleh ini dimulai dengan bermodalkan dana sebesar Rp 10 juta dan saat ini Mimi sudah mampu menghasilkan omzet mencapai puluhan juta rupiah. “Modal awal dari bisnis oleh-oleh khas Minang ini tidak sampai Rp 10 jutaan, awalnya hanya beberapa juta saja yang dipergunakan untuk membeli packaging dan sealernya. Modal produksinya justru yang lebih mahal,” ujar Mimi.

Bisnis oleh-oleh kuliner khas Minang ini menawarkan produk dengan kisaran harga yang beragam. Untuk produk rendangnya dijual di kisaran Rp 200 ribu hingga Rp 280 ribu per kg, rendang telur dan serundeng dijual dengan harga di kisaran Rp 15 ribu – Rp 40 ribu, sesuai dengan ukurannya. Sementara untuk produk ikan bilihnya, Mimi menjualnya dengan harga mulai dari Rp 220 ribu – Rp 250 ribu.

“Rata-rata, penjualan dari produk oleh-olehnya itu mencapai 400 sampai 500 bungkus di setiap bulannya dan produk yang paling menjadi favorit konsumen adalah rendang dan juga ikan bilih. Ke depannya, kami ingin memperluas pasar sampai ke negara-negara tetangga, seperti Malaysia dan Singapura. Akan dibuatkan juga website khusus untuk bisa mempromosikan produk ini dengan lebih gencar lagi,” pungkasnya.

5 Tips Memulai Bisnis Kos Kosan Yang Janjikan Keuntungan Menggiurkan

Salah satu jenis bisnis yang semakin marak digeluti oleh sebagian besar pelaku usaha adalah bisnis kos-kosan, utamanya di perkotaan. Semakin meningkatnya perpindahan penduduk dari desa ke kota inilah yang menjadikan peluang usaha ini semakin terbuka lebar.

Sama halnya dengan jenis bisnis lainnya, bisnis kos kosan ini juga membutuhkan strategi khusus agar bisa berkembang dan memberikan profit yang menguntungkan. Nah, bagi anda yang tertarik untuk menggeluti bisnis ini, dibawah ini adalah beberapa tips memulai bisnis kos kosan yang perlu anda perhatikan.

1. Menentukan target pasar

Sebelum memulai bisnis kos kosan, poin tervital yang harus anda perhatikan ialah menetapkan target pasar. Dalam hal ini, tentukan target pasar yang sesuai dengan bisnis anda. Untuk usaha kos kosan ini, utamakanlah untuk memilih segmen pasar seperti pekerja kantoran, mahasiswa, maupun warga asing.

Pada dasarnya, setiap segmen pasar miliki kelebihan dan kelemahannya tersendiri. Apabila anda memilih mahasiswa sebagai target pasarnya, anda harus mempersiapkan diri untuk menghadapi keterlambatan pembayaran dan fasilitas yang ada kurang terjaga dengan baik. Sesuaikan target pasar tersebut dengan preferensi anda masing-masing.

2. Menetapkan lokasi yang sesuai dengan target pasar

Apabila anda sudah menetapkan target pasar, poin kedua yang juga tak kalah pentingnya adalah menentukan lokasi usaha kos kosan yang sesuai dengan target pasar anda. jika target pasarnya mahasiswa, maka lokasi usahanya harus di dekat tempat perkuliahan. Upayakan juga untuk mencari lokasi usaha yang strategis, sehingga dapat dengan mudah dikenali masyarakat.

Tak hanya itu, pastikan juga lokasi bisnis anda berdekatan dengan halte busway, pangkalan ojek, maupun terminal. Pasar dan pusat perbelanjaan juga bisa anda pertimbangkan dengan baik. Sebab, semakin dekat lokasi usaha anda dengan kebutuhan mereka, maka akan semakin menjual lokasi kos tersebut.

3. Prioritaskan keamanan dan kenyamanan

Selain lokasi yang strategis, anda pun harus memperhatikan tingkat keamanan dan kenyamanan bagi mereka yang nge-kos di tempat usaha anda. Dalam hal ini, anda harus mempertimbangkan tingkat pencahayaan, ventilasi udara, kebersihan, serta keamanan di lingkungan kosan tersebut.

Dalam hal ini, anda perlu menyeleksi setiap anak kos yang berminat dengan kosan milik anda. Upayakan untuk mengetahui data diri dan tujuan mereka nge-kos. Sebelum menerimanya, sebaiknya lakukan wawancara seputar data diri mereka. Hal ini sangat penting dilakukan guna menentukan nama baik bisnis kos kosan anda di mata masyarakat sekitarnya.

4. Tentukan harga yang bersaing

Di kalangan mahasiswa, faktor harga akan sangat mempengaruhi ketertarikan mereka untuk memilih tempat kos yang sesuai. Untuk itu, upayakan agar harga yang anda patok bisa dijangkau oleh mereka. Dalam hal ini, anda bisa menentukan harga dengan mempertimbangkan fasilitas dan kelengkapan yang dimiliki di setiap kamarnya.

Anda juga tidak disarankan untuk mematok harga yang terlalu rendah, sebab akan ada biaya renovasi untuk meningkatkan kenyamanan mereka selama nge-kos di kos kosan anda. Sebaiknya, lakukan survey terlebih dulu ke beberapa tempat kos lainnya guna mengetahui harga pasarannya.

5. Berikan nilai tambah

Nilai tambah yang tidak dimiliki bisnis kos kosan lainnya tentu akan menjadi ketertarikan sendiri bagi kos kosan anda. Dalam hal ini, anda bisa memberikan fasilitas makan makan malam gratis kepada mereka yang sudah nge-kos di tempat anda selama 3 bulan, atau bisa juga memberikan fasilitas tambahan WiFi secara gratis. Dengan hal tersebut, bisnis kos kosan anda akan lebih unggul dari para pesaingnya.

Beginilah Cerita Dibalik Kesuksesan “Cireng Salju”

Menjadi seorang karyawan di perkantoran terkadang memang akan terasa sangat menjenuhkan. Hal itulah yang mendasari Dimas Aritejo, seorang karyawan yang bekerja di BUMN tertarik untuk menggeluti sebuah bisnis. Bisnis tersebut berbasis di bidang kuliner, yakni makanan cireng.

Ide bisnis tersebut tercetus sejak ia mencoba cireng buatan temannya bernama Najib Wahab di tahun 2013. Yang ia rasakan dari cireng tersebut adalah tekstur dalamnya lebut namun bagian luarnya renyah. Rekannya itu memang sering membuat cireng sejak tahun 2011, tapinya sistem pemasaran yang dilakukannya kurang maksimal dan produksinya pun dilakukan jika ada pesanan saja.

Sejak saat itulah Dimas akhirnya memutuskan untuk mencoba mengembangkan bisnis cireng buatan temannya itu. Tapinya pada saat itu, Najib belum yakin jika dirinya bisa memproduksi cireng dalam jumlah besar. Kemudian, setelah usaha cireng ini sudah popular di kalangan masyarakat, Najib menghubungi Diman dan Catur Gunadi dan melakukan kesepakatan untuk menggeluti bisnis cireng lebih serius di awal tahun 2014.

Dalam menjalani bisnis cireng ini, Najib mendapat tugas dalam proses produksinya, Catur di bagian keuangan dan karyawannya, sedangkan Dimas mengurus branding serta pemasarannya. Ketiga pemuda ini pun berbisnis dengan mendirikan PT Bonju Indonesia Mas dengan mengandalkan modal sebesar Rp 100 juta untuk membeli perlengkapan memasak, menyewa tempat produksi, dan juga membeli mobil bekas sebagai media distribusi.

Bisnis cireng yang ditekuni oleh ketiga pemuda ini dinamai dengan brand Cireng Salju dengan menggunakan kemasan yang menarik dan rapih. Tepatnya di tahun 2014, Cireng Salju mulai dipasarkan dan dipromosikan melalui sebuah pameran yang diselenggarakan di Taman Mini Indonesia Indah (TMII).

Guna menjamin kualitas produk cirengnya secara maksimal, Dimas dan kedua rekannya pun segera mengurus sertifikasi halal dari izin Dinas Kesehatan setempat dan dari Majelis Ulama Indonesia (MUI). “Kami sudah mengurus surat perijinan dan sertifikasi halalnya untuk menjamin kualitas dari produk cireng ini. Awalnya cireng ini kami produksi secara manual, tapi sekarang sudah ada mesinnya sendiri,” ujar Dimas.

Seiring dengan berjalannya waktu, perkembangan bisnis Cireng Salju semakin meningkat. Awalnya mereka hanya mempekerjakan 7 orang karyawan saja, tapinya saat ini sudah ada 90 orang karyawan yang dimilikinya. Saat ini, total asset yang dimiliki PT Bonju semakin tinggi, yakni bisa mencapai Rp 5 miliar. Tak hanya asset, aliran kas pada usaha ini pun semakin membaik.

Walaupun baru menjalani bisnis cirengnya sejak 3 tahun yang lalu, tapinya Dimas mengaku jika pertumbuhan Cireng Salju mereka terbilang sangat pesat. Bahkan saat ini, setiap harinya mereka mampu memproduksi sebanyak 5.000 bungkus cireng. Guna semakin memperbesar usahanya tersebut, ketiga pemuda ini pun menambah inovasi terbarunya, yakni dengan memproduksi cilok salju di akhir tahun 2015 dan cuankie di tahun 2016.

Untuk produksi kedua produk terbarunya itu, setiap harinya mereka bisa memproduksi masing-masingnya sekitar 1.000 bungkus setiap harinya. Sementara untuk harga cireng salju yang ditawarkannya adalah mulai dari Rp 12.000 hingga 20.000.

Dengan harga jual tersebut, PT Bonju mampu meraup omzet hingga Rp 1 miliar setiap bulannya. Bisnis Cireng Salju ini juga mengandalkan sistem berjualan distributor dan reseller untuk semakin meningkatkan pertumbuhan bisnisnya. Kini, sudah ada 40 distributor, 600 agen dan ribuan reseller yang sebagian besarnya tersebar di seluruh kawasan Indonesia, kecuali Papua, Maluku, dan Sulawesi.

Kaaramel Juice, Bisnis Minuman Sehat Yang Janjikan Omset Besar

Dalam menggeluti sebuah bisnis, tidak ada yang tak mungkin untuk mencapai keberhasilan, asalkan ada usaha dan ketekunan dalam menjalaninya. Tidak hanya dibutuhkan usaha keras, tapinya kesuksesan berbisnis juga dapat dicapai apabila terlahir inovasi yang membedakan usaha kita dengan orang lain.

Seperti halnya yang dilakukan oleh Ferry Dafira yang mampu melahirkan inovasi yang unik dan menarik dalam memulai bisnisnya. Dari yang sebelumnya hanya seorang penjual jus buah biasa, kini Ferry sukses dengan merealisasikan strategi jemput bola dalam bisnis minumannya tersebut. Dengan mengandalkan mobil bak, Ferry mencari pelanggan dengan cara berkeliling sampai hari menjelang malam.

Apabila sebagian besar pelaku usaha jus buah lainnya menjalankan bisnisnya pada siang dan sore hari, berbeda dengan yang dilakukan Ferry Dafira. Justru ia berjualan pada malam hari dengan harapan mendapatkan pelanggan yang lebih banyak.

Ferry Dafira menyebut strategi usaha minumannya ini dengan sebutan blusukan, yakni menyerupai gaya kepemimpinan Presiden Jokowi. Strategi usaha tersebut dijalaninya dengan menerapkan strategi pemasaran jemput bola agar usahanya itu dapat dikenal secara luas oleh masyarakat.

Dengan mengusung brand Kaaramel Juice, bisnis minuman sehat yang ditekuni Ferry terbilang cukup berhasil untuk memikat minat para konsumennya. Hal ini tak terluputkan dari kemampuannya dalam melihat peluang usaha yang ada melalui beberapa strategi yang jitu.

“Berbeda dengan bisnis minuman lainnya yang berjualan di siang dan sore hari, saya menjalankan bisnis ini pada malam hari. Karena, malam hari adalah waktu yang tepat saat masyarakat memerlukan asupan energy tambahan setelah jam makan sore. Karena minuman ini tidak terlalu berat, jadi cocok dikonsumsi pada malam hari, khususnya bagi mereka yang sedang diet,” pungkas Ferry.

Selain jus buah dan sayuran, Ferry juga menawarkan menu lainnya, seperti karamel dan yoghurt yang dapat dijadikan sebagai menu pelengkap yang menyehatkan. “Saya bisa menjamin kalau jus ini mampu memberikan nutrisi untuk kesehatan kita,” tambahnya.

Dalam menggeluti bisnis minuman ini, Ferry membanderol produk jus dan minuman lainnya dengan harga mulai dari Rp 10.000. Dengan menetapkan harga tersebut, per bulannya omset yang berhasil didapatkannya melebihi angka Rp 100 juta.

Tentunya, keberhasilan tersebut tidak diperolehnya begitu saja, ada banyak hal yang harus di tempuhnya sehingga kini Ferry berhasil mencapai posisi seperti saat ini. Seiring dengan berkembangnya bisnis minuman tersebut, tepatnya di tahun 2013, Ferry telah memiliki 10 mobil bak, 5 gerai besar dan 24 gerai kecil yang tersebar di Jakarta, Tanggerang, hingga Surabaya.

Saat ditayakan mengenai omset usaha yanh diperolehnya, Ferry mengaku mampu meraup omset di kisaran 2 miliar setiap bulannya. Dalam hal ini, perolehan omzet tersebut diakumulasikannya dari semua unit bisnis yang dikelolanya.

Dari penjualannya menggunakan mobil bak saja, rata-rata omset yang didapatkannya paling besar sebesar Rp 110 juta setiap bulannya. Sedangkan untuk gerai besarnya, mampu mendapat omzet sekitar Rp 60 juta sampai Rp 70 juta per bulan. Nah, untuk gerai kecilnya ia mendapat omset sekitar Rp 30 sampai Rp 40 jutaan setiap bulannya.

Diakui Ferry, penerapan strategi bisnis jemput bola dalam bisnis minumannya itu tidaklah semudah seperti apa yang dibayangkan. Saat pertama kali menjalankan strategi tersebut, banyak penolakan yang diterimanya. Bahkan akhirnya ia sampai menemui kerugian yang cukup besar. Namun berkat tekadnya yang besar dan tidak mudah putus asa dalam bebisnis, alhasil saat ini ia mampu mencapai kesuksesan yang membanggakan.

Mamanduy ASI Booster, Bisnis minuman Pelancar ASI Beromzet 200 Juta/Bulan

Pada dasarnya, dalam memulai sebuah usaha tidak melulu harus disertai dengan modal yang besar. Modal paling krusial dalam hal ini adalah kejelian untuk melihat peluang yang dibutuhkan oleh masyarakat, sehingga usaha tersebut mampu berkembang dan tidak berhenti di tengah jalan.

Seperti halnya yang dilakukan oleh seorang wanita bernama Mahalinda Napitupulu, yang menggeluti bisnis minuman pelancar ASI dengan mengusung nama Mamanduy ASI Booster. Awalnya, bisnis ini tercetus karena adanya kebutuhan pribadi dan keinginannya untuk membantu setiap wanita yang sedang menyusui.

Selain dapat membantu kaum wanita, saat ini wanita yang akrab disapa Indah ini mampu meraup penghasilan yang menggiurkan melalui bisnis minumannya ini. Padahal, latar belakang yang dimilikinya sangat bertolak belakang, karena sebelumnya ia berprofesi sebagai politisi.

Berawal dari keinginannya untuk memiliki ASI yang berlimpah, Indah pun mulai mencoba untuk meracik minuman untuk memenuhi kebutuhan ASI bagi buah hatinya. Sejak saat itu, produk minuman pelancar ASI tersebut mulai diperkenalkan kepada teman-temannya di sekitar lingkungannya dan mendapatkan respon yang positif.

“Minuman ini sangat efektif untuk meningkatkan produksi ASI. Saya pun mengasupnya setiap hari dan alhasil ASI saya pun sangat banyak. Sehingga dapat didonorkan kepada rekan-rekan dan ke beberapa Rumah Sakit yang sedang membutuhkan,” beber Indah.

Lantaran ingin fokus mengembangan usaha minumannya, Indah pun mempelajari tentang cara meracik bahan-bahan pelancar ASI sehingga efektif dan digemari oleh kaum ibu yang sedang menyusui. Bahan baku yang digunakan Indah diimpor dari luar, yakni fenugreek. Ada juga campuran bahan lainnya, seperti oat, soya, chia seed dan bahan lainnya yang diolah dalam bentuk susu yang nikmat dan lezat.

bisnis-minuman-pelancar-asi

Penggunaan bahan alami pada minuman pelancar ASI yang diproduksi indah ini tidak hanya bermanfaat untuk meningkatkan jumlahnya saja, tapinya juga kualitas yang lebih baik. Bahkan berdasarkan komentar dari konsumennya, disebutkan bahwa peningkatan jumlah ASI mereka bisa mencapai 2 sampai 4 kali lipat apabila dibandingkan saat belum meminum produk susu pelancar ASI tersebut.

Dalam menggeluti bisnis minuman pelancar ASI tersebut, Indah tidak terluput dari yang namanya masalah. Pertama, dari daya tahan produk susu tersebut. Produk susu yang dibuatnya tidak mengandung bahan pengawet, sehingga tidak mampu bertahan lama serta harus di simpan di dalam kulkas.

Selain itu, ada juga konsumen Mamanduy ASI Booster yang mengeluhkan jika produk susu yang dihasilkan tidak memiliki daya tahan yang kurang baik, sehingga sering basi dan tidak layak dikonsumsi lagi. Untuk menyelesaikan masalah tersebut, Indah tetap memprioritaskan kualitas dari susu pelancar ASI yang diproduksinya.

Pasalnya, produk susu pelancar ASI yang diproduksi Indah terbuat dari beragam bahan alami yang pastinya memiliki kekurangan dari daya datahannya saat disimpan. Meski demikian, berkat mengutamakan kualitas produknya, justru Indah tetap mendapatkan pelanggan setia, bahkan semakin meningkat.

Tidak hanya fokus pada manfaat dari minuman pelancar ASI itu sendiri yang mampu meningkatkan kuantitas dan kualitas ASI, tapinya indah juga memprioritaskan rasa dari minuman tersebut agar disukai oleh setiap ibu menyusui. Untuk itu, Indah pun menawarkan 4 pilihan rasa, yaitu Red Velvet, Banana, Nutella, dan juga Matcha.

Di awal bisnis minumannya tersebut, Indah hanya mendapatkan pesanan sebanyak 50 botol saja per harinya. Namun seiring dengan semakin berkembangnya usaha tersebut, kini Indah mampu memproduksi 6.000 per bulan dengan perolehan omset sebesar Rp 200 juta.