Beredarnya Video Mesum PNS Banten Bikin Heboh

Baru-baru ini Kota Banten sedang dihebohkan dengan beredarnya video mesum Oknum PNS, Video mesum yang diduga menggunakan seragam PNS Banten hebohkan dunia maya sekaligus menggegerkan masyarakat Banten. Video mesum tersebut menggambarkan sepasang muda-mudi sedang berada dalam sebuah kamar sedang bercumbu dan asyik bermesraan hingga berakhir dengan hubungan intim. Wanita dalam video tersebut, meskipun terlihat sedikit blur, tampak jelas dia mengenakan seragam PNS Banten.

Adegan wanita yang menggunakan seragam PNS dengan seorang pria berlangsung di sebuah kamar yang tidak besar. Diperkirakan adegan mesum itu sengaja direkam oleh keduanya. Hubungan intim keduanya dilakukan di atas ranjang bersprei kuning yang didominasi warna ungu. Tidak jelas apa yang diperbincangkan keduanya. Dalam video yang beredar, suara keduanya tertimpa suara musik.

Hingga saat ini masih dalam penyelidikan. Karena video syur ini bukan hanya menyangkut dua sesosok sepasang atau dua sejoli saja. Namun terdapat dalam rekaman video hot yang berdurasi sekitar 38 menit ini sang wanita menggunakan baju pns untuk provinsi banten. Hal ini menjadi bisa menyebabkan menyemarkan para pns daerah banten.

Apakah Anas Ubraningrum Jadi Digantung Dimonas?

Anas Urbaningrum akhirnya divonis majelis hakim Pengadilan Tindak Pidana Korupsi Jakarta dengan delapan tahun penjara dan denda Rp 300 juta, Rabu 24 September 2014.

Mantan ketua Partai Demokrat itu dinyatakan terbukti melakukan tindak pidana korupsi dan pencucian uang terkait proyek Hambalang dan proyek APBN lainnya.

“Menjatuhkan pidana terhadap terdakwa Anas Urbaningrum dengan pidana penjara selama delapan tahun ditambah denda sebanyak Rp 300 juta, dengan ketentuan apabila denda tidak dibayar, diganti pidana kurungan selama tiga bulan” tegas Ketua Majelis Hakim Haswandi saat membacakan putusan.

Dalam putusan tersebut ada dua hakim anggota yang berbeda pendapat atau dissenting opinion. Menurut hakim hal memberatkan sebagai anggota DPR (saat itu), ketua fraksi, dan ketua umum partai seharusnya Anas memberi teladan yang baik kepada masyarakat.

Anas dianggap tidak mendukung program pemerintah yang giat memberantas KKN. Anas juga dianggap tidak mendukung spirit masyarakat, bangsa, dan negara dalam pemberantasan korupsi dan tidak dukung semangat membangun sistem yang bebas dari KKN.

Adapun hal yang meringankan Anas pernah mendapat penghargaan negara Bintang Jasa Utama pada 1999, belum pernah dihukum, dan berlaku sopan selama persidangan. Putusan itu lebih ringan dari tuntutan jaksa KPK.

Sebelumnya tim jaksa KPK menuntut Anas dihukum 15 tahun penjara. Dia juga dituntut membayar uang pengganti sebesar Rp 94 miliar dan 5,2 juta dollar AS. Menurut KPK uang ini senilai dengan fee proyek yang dikerjakan Grup Permai. Jaksa KPK menduga Anas dan mantan Bendahara Umum Partai Demokrat, Muhammad Nazaruddin bergabung dalam Grup Permai untuk mengumpulkan dana.

Dalam dakwaan Anas disebut mengeluarkan dana Rp 116,525 miliar dan 5,261 juta dollar AS untuk keperluan pencalonannya sebagai Ketua Umum Partai Demokrat saat Kongres Demokrat tahun 2010. Uang itu diduga berasal dari penerimaan Anas terkait pengurusan proyek Hambalang, proyek perguruan tinggi di Kementerian Pendidikan Nasional, dan proyek APBN lainnya yang diperoleh Grup Permai.

Selain menuntut hukuman penjara dan denda, jaksa KPK meminta hakim mencabut hak Anas untuk dipilih dalam jabatan publik. Atas tuntutan jaksa ini Anas dan tim kuasa hukumnya mengajukan pleidoi atau nota pembelaan. Dalam pleidoinya yang dibacakan pekan lalu, Anas menilai tuntutan tim jaksa KPK tidak berdasarkan alat bukti yang kuat.

Tim jaksa KPK menurut dia, hanya berdasarkan pada keterangan Nazaruddin dan anak buah Nazaruddin yang disebutnya telah dipengaruhi Nazar. Anas juga menilai tuntutan pencabutan hak politik jaksa KPK bermuatan politis.

Gantung Di Monas? Ini Komentar Anas!

Sementara itu Anas Urbaningrum tetap menjawab saat ditagih janjinya terkait gantung di Monas, jika terbukti melakukan korupsi dalam proyek Hambalang. Anas menilai putusan Majelis Hakim Pengadilan Tipikor tidak berkaitan dengan proyek Hambalang.

“Tadi malah di putusannya jelas tidak ada kaitannya dengan Hambalang” ungkap Anas usai sidang vonis di Pengadilan Tipikor, Rabu (23/9/2014).

Anas mengaku vonis Majelis Hakim Tipikor tidak adil bagi dirinya, tapi belum menyatakan akan banding atas putusan tersebut. “Bahwa memang tidak ada kaitan perkara saya ini dengan Hambalang” pungkasnya.

Pesawat SJ 585 Tergelincir di Bandara Hasanudin

Pesawat Sriwijaya Air dengan nomor penerbangan SJ 585 dilpoarkan tergelincir di Bandara Internasional Sultan Hasanuddin Makassar, Kamis (25/9/2014).

Informasi Tentang Pesawat Sriwijaya Air Tergelincir di Bandara Hasanuddin didapatkan dari dosen UI yang juga pakar manajemen Prof Rhenald Kasali.

“Saya lagi di Bandara Hasanuddin, Makassar. Saat ini pesawat saya, GA 605 belum bisa take off karena ada pesawat Sriwijaya yang tergelincir,” demikian tulis Rhenald dalam email kepada redaksi detikcom, Kamis (25/9/2014).

GM Humas PT Angkasa Pura I Hendy Heriyudhitianto membenarkan informasi itu. “Iya betul. Sriwijaya dari Manokwari ke Makassar (tergelincir). Terjadinya pukul 13.00 Wita, di runway 21,” kata Hendy saat dikonfirmasi detikcom.

Penumpang pesawat sebanyak 150 orang plus 6 kru, imbuh Hendy, semua dalam keadaan selamat.

“(Di) Runway masih (ada proses) evakuasi. Ditutup hingga 2 jam,” tutur dia.

Humas Sriwijaya Air Agus Sujono juga telah dikonfirmasi . “Tidak ada yang tergelincir, hanya mau perbaikan. Kerusakan biasa,” ujar Agus.