Wenger Diharapkan Mampu Mengantisipasi Keterpurukan Yang Tengah Melanda Skuatnya

Liga Inggris – Arsene Wenger mengungkapkan bahwa duel menghadapi West Brom adalah laga yang kerap terjadi Liga Inggris, dimana ada kesebelasan yang menguasai ball posession dan tim yang lainnya menjaga lini pertahanan dengan baik, mengandalkan strategi serangan balik. Meski skuat asuhannya mampu menguasai bola hingga 77 persen tapi tak cukup banyak membuat peluang.


Pernyataan Wenger itu seolah mendeskripsikan secara singkat hari sial lainnya bagi Arsenal di pentas Liga Inggris. Walau Arsenal sempat menyeimbangkan keadaan berkat aksi Alexis Sanchez, pada akhirnya ketidakberhasilan mereka untuk melahirkan peluang harus kembali diganjar mahal dengan membawa pulang kekalahan.

Tony Pulis selaku juru taktik West Brom pun turut berpendapat bahwa ia dan timnya telah bekerja sangat keras di sesi latihan demi tetap mengamankan posisi. Sewaktu anggota lawan berhasil lolos dari pengawasan, mereka bisa saja jadi ancaman. Mungkin itulah penyesalan satu-satunya Pulis ketika Alexis menyeimbangkan kedudukan.

Dari pernyataan ke-2 juru racik usai berakhirnya laga pun sangat terlihat perbedaan diantara keduanya. Satu pihak mengatakan bahwa memang begitulah jalannya Liga Inggris, sementara pelatih yang lain menungkapkan caranya bermain dalam pertandingan-pertandingan tertentu.

Hal ini sudah pasti dikarenakan satu juru taktik berhasil memetik kemenangan dan satunya harus rela kesebelasannya dikalahkan. Tapi, dari konferensi pers ke-2 pelatih kawakan tersebut, Pulis memang terlihat lebih siap untuk kembali menghadirkan kejutan bagi Wenger.

Kekalahan sepertinya sudah menjadi sesuatu yang biasa dialami skuat The Gunners tiap pekannya. Entah di ajang apapun, sepertinya para pendukung mereka pun tidak lagi bisa merasakan keyakinan untuk menang menjelang pertandingan.

Aksi protes pun sudah dilontarkan untuk memaksa kepergian juru taktik asal Perancis tersebut. Mulai dari aksi di tribun hingga spanduk menggunakan pesawat, semua itu rela dilakukan oleh pendukung The Gunners demi melihat skuat favoritnya bisa melangkah menuju periode yang baru.

Memang, Wenger sukses mengantarkan Arsenal berkompetisi dengan tim elit Eropa. Tapi, di sisi lain, ia juga membuat Arsenal mempunyai kelemahan-kelemahan yang dengan enteng dijelajahi lawan, seperti kecenderungan untuk mengelola bola terlalu lama dan kurang kuatnya pengawalan dalam bola mati.

Hal itu pun nampak ketika The Gunners kecolongan gol terlebih dahulu. Ramsey dan Chamberlain tak cermat dalam memperhitungkan pergerakan defender The Baggies itu di area kotak penalti. Begitu pula Xhaka yang tidak siap mengawasi pergerakan pemain lainnya. Hal inilah yang sukses dimanfaatkan oleh skuat besutan Pulis dengan sempurna dan menyumbangkan mereka tiga poin.

Sebelum kemunculan Wenger, bisa dikatakan Arsenal cukup ahli dalam memanfaatkan bola mati. Tony Adams dan Steve Bould yang saat ini merupakan asisten manajer terlihat teratur menebarkan teror dari kehadiran mereka dalam situasi tendangan sudut. Begitu pula ketika menghadapi situasi bola mati dari lawannya.

Di Bawah rezim George Graham, bola mati merupakan salah satu kekuatan utama The Gunners. Efektivitas skuat besutan Graham dalam mampraktekkan strategi tersebut menjadi kunci kesuksesan Arsenal yang jadi begitu mengerikan dalam memanfaatkan bola mati.

Satu hal yang mungkin dapat sedikit menghibur pendukung Arsenal adalah probabilitas perginya Wenger dari Emirates pada akhir musim. Dengan kontrak yang akan habis dan belum ada sinyal diperpanjang, Wenger pun menyatakan bahwa ia sudah memiliki rencana untuk masa depannya.

Saat ini, fokus juru taktik asal Perancis itu tentu adalah untuk mengantarkan The Gunners finis setinggi mungkin. Dengan Tottenham Hotspur, Liverpool, Manchester City, dan Manchester United yang juga memperebutkan tiket untuk tampil di zona Liga Champions, perjalanan Arsenal tentu masih cukup berat. Dan, tentu akan sangat disesalkan apabila kepelatihan Wenger di Arsenal harus diakhiri dengan berakhirnya tren positif mereka, yaitu finis diluar empat besar.

4 Kepindahan Kontroversial Yang Sempat Menggemparkan Sepakbola Eropa

Berita Bola – Setiap kali transfer pemain digelar, tiap kesebelasan akan sibuk di dalam bursa. Tapinya, ternyata ada sejumlah transfer menciptakan polemik yang menjadi sorotan dalam dunia sepakbola. Beberapa kesebelasan yang memiliki anggaran besar pasti berusaha untuk melancarkan gerilya. Selain perputaran uang yang luar biasa, masa transfer pemain dari musim ke musim kerap menciptakan polemik.

Musim panas lalu, ada contoh menarik kala penyerang berpaspor Swedia, Zlatan Ibrahimovic memilih angkat koepr dari kesebelasan yang telah dibelanya selama empat musim belakangan, Paris Saint Germain. Ibrahimovic memilih hijrah ke klub yang tidak tampil di ajang Liga Champions musim depan, Manchester United. Eks juru gedor AC Milan tersebut menyetujui kontrak berseragam MU selama semusim. Berikut contoh lain transfer kontroversial dunia sepakbola :

1. John Obi Mikel


Kedatangan Mikel ke Liga Inggris diganggu oleh polemik besar di antara dua kesebelasan top. Terungkap fakta bahwa Manchester United telah tertarik lebih dahulu dan kemudian Mikel menandatangani kontrak selama empat tahun.

Tapinya, dengan tidak adanya agen membuat Mikel seperti bebas hukum. Ketika berusia 18 tahun, dia kemudian mencari seorang agen. Dia padahal telah diperkenalkan oleh The Red Devils. Meskipun demikian, seperti petir menyambar Chelsea tiba-tiba hadir dengan agennya di London. Mikel kemudian muncul dan mengatakan jika ia dipaksa menandatangani kontrak dengan MU dan hatinya telah berlabuh pada The Blues.

2. Carlos Tevez


Penyerang berdarah Argentina, Carlos Tevez adalah pemain yang dihormati oleh pendukung Manchester United pada 2007 sampai 2009. Dia pun turut ambil andil membantu The Red Devils memenangkan Liga Champions 2008 setelah menumbangkan Chelsea di Moskow dalam drama adu penalti. Tapi rasa cinta pendukung Setan Merah menjelma menjadi kebencian pada 14 Juli 2009. Tevez memilih angkat koper ke rival abadi United, Manchester City. Kala itu, Tevez merasa kecewa lantaran MU terlalu lama menyodori kontrak baru untuknya.

Tevez mengatakan, Ferguson sempat memberitahunya bahwa mereka akan membeli kontrak baru padanya dan bertahan di Old Trafford. Namun, ia hanya mendengar itu selama setahun tanpa ada bukti yang konkret. Akhirnya, ia pun hijrah ke City dan MU justru protes. Ia tidak punya opsi untuk menandatangani kontrak dengan The Red Devils. Karena ia berstatus free transfer. Tevez bersama The Citizen sampai 2013 dan sukses menghadiahkan gelar Liga Premier Inggris dan FA Cup. Pada 26 Juni 2013, Tevez memutuskan untuk hijrah ke Juventus.

3. Robin Van Persie


Penyerang berdarah Belanda ini sejatinya merupakan pujaan fans, kapten, sekaligus juru gedor terbaik Arsenal. Fans begitu empati pada Van Persie, dan dia pun mencintai mereka. Tapi sayangyna, usai berselisih dengan Arsene Wenger, Van Persie memilih untuk angkat koper dari Emirates. Lantaran, dia merasa tak ada masa depan di Arsenal. Meskin begitu, yang menarik setelah dia hijrah ke Manchester United. Fans Arsenal merasa dikhianati dan kerap terdengar cemoohan jika Van Persie bertandang ke Emirates.

4. Sol Campbell


Kala seorang kapten mengatakan tak akan pernah hengkang kepada para fans, tapi faktanya hal itu diingkari oleh Sol Campbell sendiri. Dia membuat kericuhan pada 2001. Pemain belakang asal Inggris ini telah mencatatkan 315 penampilan untuk The Lilywhites dan bertugas sebagai kapten selama empat musim di sana. Dia dianggap sebagai pemain belakang terbaik Liga Inggris kala itu dan banyak yang menarik minat kesebelasan top Eropa, seperti AC Milan dan Barcelona.

Meski begitu, Campbell justru hijrah ke rival abadi Spurs, Arsenal pada 2001. Seperti menambah penghinaan, Campbell sukses mempersembahkan dua gelar liga dan tiga piala FA selama berseragam Arsenal. Fans Spurs bahkan menjulukinya sebagai judas.

Bila Hengkang, 3 Kesebelasan Ini Siap Pinang Wenger

Berita Bola – Desakan kepada Arsene Wenger untuk segera meninggalkan Emirates kian berhembus kencang usai memetik kekalahan telak 1-5 dari Bayern Munich di perdelapan final Liga Champions, dua pekan lalu. Wenger dinilai sudah tak lagi sanggup mendongkrak prestasi Arsenal.

Terlepas dari hal te18rsebut, kharisma dan nama baiknya sebagai salah satu juru taktik terbaik membuat Wenger tak bimbang. Tiga kesebelasan di bawah ini bisa menjadi kesebelasan layaknya Arsenal andai ia benar-benar mengakhiri masa baktinya di Emirates. Berikut kesebelasan yang dinilai akan disinggahi oleh Wenger bila ia angkat koper dari Arsenal :

1. Borussia Dortmund


Di tahun 2014, Arsene Wenger pernah memaparkan hasratnya untuk melatih di Jerman. Jerman merupakan pilihannya karena ia punya sedikit budaya Jerman dan ia sebelumnya tak pernah bekerja di sana.

Wenger sendiri lahir di daerah Alsace. Daerah tersebut berada di perbatasan Jerman-Prancis. Makanya, Wenger pun fasih berbicara Bahasa Jerman selain Bahasa Prancis. Borussia Dortmund saat ini tengah berada di bawah rezim Thomas Tuchel. Die Borussien terpaut selisih 15 poin dari sang pemuncak klasemen sementara, Bayern Munich.

Pierre-Emerick Aubameyang dan kawan-kawan saat ini berada di posisi keempat. Bukan hal mustahil, Wenger akan menggantikan Tuchel bilamana Dortmund tidak berhasil mengamankan tiket ke Liga Champions musim depan.

2. Paris Saint Germain (PSG)


PSG sesungguhnya sudah cukup lama diberitakan membidik tanda tangan Wenger. Namun Wenger diisukan selalu menyangkal tawaran PSG. Wenger sendiri punya relasi erat dengan pemilik PSG, Nasser Al-Khelaifi. The Professor adalah seorang juru bicara di channel televisi milik Khelaifi, BeIN Sport.

PSG saat ini dibesut oleh juru taktik berkebangsaan Spanyol, Unai Emery. Mantan juru racik strategi Sevilla tersebut ditunjuk jadi manajer PSG di awal musim ini. Sejauh ini, kinerja Emery bisa dikatakan cukup memuaskan. PSG kemungkinan besar melangkah ke perempat final Liga Champions, usai memporak-porandakan Barcelona 4-0 di leg pertama babak perdelapan final. Tapi di Ligue 1 Prancis, PSG masih terpaut selisih 3 poin dari AS Monaco yang memimpin tangga klasemen sementara.

3. AS Monaco


Monaco merupakan kesebelasan yang tidak bisa dikesampingkan dari perjalanan kiprah Wenger sebagai juru taktik. Di klub inilah, ia pertama kali mencicipi kesuksesan. Wenger pernah membesut Monaco dari 1987 hingga 1994. Ia menghadiahkan satu trofi Ligue 1 Prancis di musim 1987/88, dan Piala Prancis 1990/91.

Kala menyabet titel juara, The Professor juga meminang pemain top ke Monaco, George Weah salah satunya. Di era Wenger juga, beberapa pemain berubah menjadi pemain kelas dunia, seperti Lilian Thuram dan Thierry Henry.

Di samping sisi sejarah, Monaco punya pesona tersendiri bagi Wenger yaitu pembinaan talenta muda yang baik. Bukan rahasia lagi jika Wenger adalah sosok juru taktik yang gemar menggunakan jasa pemain yang masih belia.

Menjamu Meriam London, The Reds Berhasrat Bangun Momentum

Liga Inggris – Liga Primer Inggris akhir pekan ini akan disuguhkan duel panas antara kesebelasan Liverpool kontra Arsenal. Kedua kubu sangat membutuhkan kemenangan untuk menjaga peluang agar bisa mengakhiri musim di posisi empat besar.


Liverpool akan menjamu The Gunners di Anfield, pada hari Minggu (5/3/2017) dinihari WIB di lanjutan Liga Primer Inggris. Selain didukung oleh faktor kandang, laga ini jadi lebih vital bagi klub yang berjuluk The Reds karena mereka butuh momentum untuk kembali ke perebutan posisi empat besar.

Tahun 2017 sejauh ini tak berjalan mulus untuk skuat besutan Juergen Klopp. Bagaimanapun, The Reds diharapkan untuk maju terus dan menunjukkan respons kala menjamu Meriam London. Sudah 12 laga yang dilakoni Liverpool di semua kejuaraan di tahun 2017 ini. Namun hanya mampu memetik dua kemenangan, satu di Piala FA dan satu di Liga Primer Inggris yang dipetik oleh Philippe Coutinho dan kawan-kawan.

Rentetan torehan yang kurang memuaskan di dalam serangkaian laga tersebut membuat The Reds kehilangan kans menjadi juara di dua kejuaraan, yaitu EFL Cup dan FA Cup. Sementara di Liga Primer Inggris, The Reds terdepak dari empat besar usai tumbang dari Leicester City pekan lalu.

Di tengah kinerja yang masih inkonsisten, The Reds telah dihadang oleh ujian selanjutnya. The Gunners akan melawat ke Anfield. Simon Mignolet mengingatkan rekan-rekannya agar tak lagi menatap ke belakang mencari alasan untuk hasil-hasil yang kurang memuaskan di awal tahun. Penjaga gawang Liverpool itu meminta timnya agar fokus untuk bangkit ketika menghadapi kesebelasan besutan Arsene Wenger.

Mignolet berpendapat bahwa mereka meiliki sejumlah masalah dalam kesebelasannya, termasuk cedera yang menerpa para pilar utamanya, mereka mamainkan banyak laga, dan Sadio yang pergi untuk membela negaranya di Piala Afrika tapi pada akhirnya itu semua hanyalah alasan dan ia ingin agar mereka tak mencari-cari alasan atas hasil buruk mereka lagi.

Mignolet pun sadar bila januari bukan bulan yang terlalu bersahabat bagi timnya, tapi ia menegaskan bahwa ia takkan menoleh lagi ke belakang dan akan terus maju, dan kebetulan mereka mendapat kesempatan untuk menghadapi Arsenal, dan itulah yang harus mereka prioritaskan saat ini.

Di Pertemuan sebelumnya mereka sukses membuktikan diri di Emirates pada awal musim bahwa mereka sanggup mendulang hasil yang impresif, menampilkan sepakbola atraktif dan menciptakan banyak peluang, dan hal itulah yang akan mereka ulangi. Maka, mereka sangat menantikan pertarungan kontra kesebelasan asal London Utara.

Pertemuan pertama kedua kubu berlangsung di Emirates pada awal musim yang dimenangi oleh kesebelasan besutan Klopp dengan skor akhir 4-3. Liverpool saat ini menghuni posisi kelima klasemen sementara dengan koleksi 49 poin, berelisih satu angka dari The Gunners yang menduduki peringkat keempat papan klasemen.

Highlights Liga Primer Inggris Arsenal Vs Liverpool 2016

Walau Merengkuh Piala FA, Bukan Berarti Karir Wenger Terjamin

FA Cup – Beberapa waktu lalu, juru taktik Arsenal, Arsene Wenger menjelaskan bahwa tak ada keretakan di dalam kesebelasannya. The Gunners masih tetap solid. Perkataan Wenger pun terbukti, dimana Arsenal sukses memetik kemenangan dengan dua gol tak berbalas atas Sutton United pada Selasa (21/3) dini hari WIB.


Rapor manis dalam pertarungan putaran kelima FA Cup di Gander Green Lane ini membuat pasukan yang dikomandoi Wenger melenggang ke fase berikutnya. Dua angka kemenangan masing-masing dipersembahkan oleh Lucas Perez dan Theo Walcott.

Kemenangan ini juga sekaligus mengobati rasa frustasi fans, menyusul kekalahan telak tim favoritnya dari Bayern Munich di leg pertama Liga Champions. Tanpa perlawanan sama sekali, Arsenal dilibas 1-5. Alexis Sanchez, bintang Arsenal, diisukan sempat murka di ruang ganti. Striker berkebangsaan Cile itu tak bisa menerima kekalahan Arsenal. Isu pertengkaran internal klub pun kontan terdengar publik. Tapi Wenger meyakinkan tim asuhannya masih tetap kompak.

The Gunners tentu saja bertekad bisa merengkuh trofi FA Cup. Skuat yang ditunggangi The Professor memang seringkali berakhir menjadi juara, sama seperti Manchester United. Kedua tim sama-sama sudah menjuarai Piala FA sebanyak 12 kali. Arsenal terakhir kali naik podium kehormatan pada musim 2014/2015. Kala itu mereka mengulingkan Aston Villa 4 -0 di Wembley Stadium.

Melihat kompetisi di Liga Premier Inggris musim ini, tak dipungkiri bila The Gunners sangat berambisi memenangkan Piala FA. Pasalnya, Chelsea, klub yang masih kokoh di puncak klasemen sementara, semakin perkasa. The Blues yang memang lebih difavoritkan telah mengemas 60 poin, terpaut selisih 10 angka dari Arsenal yang masih terjerembab di urutan keempat.

Di tanah Britania, pamor Piala FA tak kalah mengkilap dari Liga Primer Inggris. Ini adalah kejuaraan sepak bola dengan sistem knockout tahunan di Inggris dan merupakan kompetisi sepak bola tertua di dunia, dimulai pada musim 1871/1872. Bagi sang juru taktik The Gunners, Arsene Wenger, Piala FA merupakan saat-saat penting untuk membuktikan bahwa pasukannya masih layak dibanggakan. Belakangan, sang juru racik berkebangsaan Perancis itu sering dikritik dan didesak agar segera angkat koper dari Emirates Stadium.

Posisi Wenger memang serba salah. Tak ada garansi nasibnya akan membaik, walaupun berhasil menjadi yang terbaik di Piala FA. Lantara yang dituntut para pendukung fanatik adalah trofi Liga Primer Inggris. The Gunners memang sudah sangat lama tak merasakan trofi paling bergengsi di Inggris, terakhir kali mereka merengkuhnya adalah musim 2003/2004.

Menurut Alan Smith, mantan punggawa Arsenal, Para fans tetap belum bisa tenang, walaupun Arsenal beberapa kali memenangkan Piala FA, karena mereka sangat menginginkan tim kesayangannya menggondol trofi paling bergengsi di Inggris, terlebih mereka pun mendambakan Arsenal bisa merasakan tropi paling bergengsi di Eropa, yaitu Tropi Liga Champions. Tercata Arsenal memang belum pernah memenangkan gelar Liga Champions sekalipun.

Highlights Sutton United Vs Arsenal (FA Cup 20116/2017)