Sejumlah Sajian Frozen Food Ini Berpotensi Jadi Ladang Penghasilanmu

Di tengah banyaknya konsep tentang makanan yang ingin diolah menjadi bisnis kuliner, mungkin sejumlah frozen food ini bisa jadi salah satu opsi bagi kalian. Dan jika masih cemas soal modal, beberapa bisnis frozen food ini ternyata bisa dilakukan dengan modal seminimalis mungkin namun juga bisa mendatangkan profit yang tidak sedikit. Berikut beberapa daftar frozen food yang dapat diolah menjadi ladang bisnismu :

1. Pisang Cokelat Meleleh


Istilah Piscok mungkin sudah tak lagi terdengar asing. Dari dulu hingga sekarang, jajanan ini tetap jadi favorit, bahkan sudah ada penjual yang mengolah pisang coklat menjadi sajian kekinian, dengan diisi coklat berkualitas dan meleleh ketika disantap. Pisangnya pun lembut sekali, tak heran makanan ini selalu ramai diincar pegawai kantor ataupun para pelajar.

Tapi tahukah kamu bahwa dengan menjalankan bisnis seperti ini, kamu bisa saja memperoleh banyak keuntungan. Menurut taksiran, harga grosiran jika kamu membeli di distributornya adalah Rp 2.000 dan kamu membeli 20 biji, kamu cuma butuh modal Rp 40.000. Sedangkan yang dijual di pasaran oleh pisang coklat kekinian biasanya adalah Rp 5.000, maka profit yang kamu dapatkan adalah 20 x Rp 5.000 = Rp 100.000, dikurang modal Rp 40.000 = Rp 60.000.

2. Rujak Cireng


Rujak cireng pun sedang naik daun. Sensasi kenyal dan garingnya cireng kemudian dicelupkan ke dalam saus bumbu rujak memang sungguh juara, apalagi ketika dinikmati saat sore hari. Itulah alasan kenapa jajanan seperti ini mulai banyak diminati dan banyak pula dijual di berbagai restoran atau rumah makan.

Sedangkan bagi kalian yang ingin mencoba berdagang jajanan seperti ini, bukanlah hal mustahil untuk dilakukan. Kamu tidak perlu merogoh kocek yang dalam seperti bisnis kuliner lainnya. Mari kita kalkulasikan, biasanya harga yang dijual oleh produsen adalah Rp 10.000 per pack dengan isi 20 biji. Ketika kamu menjualnya, mari kita asumsikan harga yang kamu berikan adalah Rp 8.000 per porsi dengan isi 5 biji tiap porsinya, maka total penjualan yang diperoleh adalah Rp 32.000. Profitnya yaitu Rp 32.000 – Rp 10.000 = Rp 22.000.

3. Otak-otak


Makanan ringan dari olahan ikan yang disantap dengan sambal kacang ini juga bisa jadi opsi ide jualan. Apalagi labanya pun cukup menggiurkan. Biasanya satu bungkus otak-otak berisikan 30 biji dan dibanderol dengan harga Rp 15.000. Kemudian saat kamu menjualnya, cukup tetapkan harganya dengan Rp 9.000 per porsi (5 biji). Maka total profit tersebut sebesar Rp 54.000 kemudian dikurang Rp 15.000 = Rp 39.000. Tertarik?

4. Cireng Isi


Selain cireng rujak, jangan lupakan juga cireng isi. Tentu kalian tidak asing dengan makanan ringan ini, kan? Sensasi menggigit cireng yang renyah dan empuk, kemudian ditambah isian pula di dalamnya pasti menarik hati. Mulai dari isian sosis hingga daging asap. Nah, tidak ada ruginya jika kamu berpikir untuk menjadikan ini sebagai objek bisnismu. Biasanya, harga yang dijual oleh produsen adalah Rp 45.000 per pack berisi 30 pcs. Namun jika kamu menjual satu porsi berisi 5 pcs dengan harga 15.000, maka total profitnya adalah Rp 90.000, lalu dikurangi RP 45.000, untung yang kamu peroleh adalah Rp 45.000.

5. Roti Maryam


Dewasa ini, roti maryam pun tak kalah tenar dengan hidangan-hidangan yang telah dibahas diatas. Roti jenis ini selain gurih ketika dikunyah juga punya rasa yang menarik, bisa digabungkan dengan aneka pilihan penyedap rasa seperti cokelat messes, selai, atau apapun yang rasanya manis. Coba bayangkan, dinikmati selagi hangat pasti akan terasa sangat enak. Nah, kenapa tidak dicoba usaha ini? Pendapatannya pun bisa membantu meringankan beban cicilanmu, kok!

Biasanya, taksiran harga yang dijual oleh produsen adalah Rp 15.000 untuk satu pack berisi 5 pcs. Tapinya jika kamu tertarik menjual ini, tentunya yang akan kamu beli tidaklah hanya satu pack saja. Nah, jika kamu jual dengan harga Rp 7.000 per satuannya, kamu sudah bisa menghasilkan profit sekitar Rp. 20.000. Itupun hanya kalkulasi untuk satu pack saja, entah jika kamu membeli puluhan pack. Profitmu bisa saja berkali lipat.

Peluang Bisnis Camilan ‘Keripik Tempe Buluk Lupa’

Sejatinya, untuk menggeluti sebuah usaha, keunikan sangatlah vital dan dibutuhkan bagi sejumlah pelaku bisnis. Salah satu pebisnis yang memprioritaskan keunikan dalam usahanya adalah Taufik Ismail yang menciptakan produk Kripik Tempe Buluk Lupa yang dilapisi dengan bubuk coklat dan juga green tea.

Mulai digeluti sejak November 2015 lalu, bisnis camilan ini merupakan usaha yang telah diimpikannya sejak tiga tahun yang lalu. “Memang sebelumnya, saya sudah mendengar makanan ini dari teman saya yang pada saat itu bekerja di pabrik tempe dan dia suka iseng membuat camilan tempe coklat untuk dikonsumsi sendiri. Namun sampai ia keluar dari pabrik itu, saya belum pernah melihat dan mencicipi dari keripit tempe coklat itu,” beber Taufik.

Berawal dari rasa penasaran itulah, akhirnya Taufik mulai mencari-cari artikel tentang cara pembuatan keripik tempe yang enak dan dapat diaplikasikan untuk menjadi keripik tempe coklat. “Karena memang tempe rasa coklat ini terbilang baru dan belum ada yang membuatnya, jadi resep dan cara pembuatannya harus dipikirkan sendiri,” tambahnya.

Lantaran merasa kesulitan untuk mencari referensi dalam pembuatan keripik tempe coklat ini, Taufik pun gencar melakukan beragam eksperimen untuk menciptakan keripik tempe coklat yang enak dan layak untuk dijual.

Usaha camilan yang digeluti Taufik diberi nama Tempe Coklat Buluk Lupa. Ia memulainya dengan menghadirkan 1 varian rasa saja, yakni coklat original dan dipasarkan melalui sistem online. Dalam kemasannya, awalnya Taufik hanya menggunakan kantung aluminium foil dan menyematkan sticker logo di bagian depan kemasannya.

Walaupun awalnya mendapatkan respon yang positif dari pasar, tapinya pelanggannya tidak semakin bertambah, hanya di sekitar kota Bandung saja. Taufik menyadari, hal tersebut dipicu oleh minimnya strategi pemasaran yang dilakukannya. Bahkan Taufik pun sempat mengalami yang namanya sepi pembeli dalam waktu 1 pekan.

keripik-tempe-buluk-lupa

Tidak ingin bisnis camilan yang menguntungkan itu terus melemah, Taufik melakukan perubahan terhadap strategi promosi yang dilakukannya. Ia pun menggunakan media sosial seperti twitter dan facebook memperkenalkan serta mempromosikan produk buatannya itu. Tidak hanya itu, Taufik pun mengubah tampilan kemasannya sehingga memberikan kesan yang lebih modern dan berkualitas.

Guna mendongkrak penghasilan dari bisnis makanan ringan miliknya, Taufik pun gencar mempromosikan produknya melalui pameran kewirausahaan yang banyak diadakan oleh pemerintah maupun instasi lainnya. “Untuk meningkatkan pelanggan dan wawasan, saya pun bergabung ke dalam sebuah komunitas pelaku bisnis di Bandung,” tuturnya.

Taufik berpendapat, peluang usaha camilan keripik tempe ini terbilang sangat menjanjikan apabila digeluti dengan serius dan dengan tekd yang bulat. Modal awal yang dikeluarkan Taufik untuk memulai bisnis camilan ini tidaklah besar, yakni hanya Rp 750 ribu yang dialokasikannya untuk membeli kemasan, bahan baku, dan membeli peralatan sealer. Sementara untuk perlengkapan produksi lainnya seperti, kompor dan wajan, Taufik menggunakan peralatan yang ada di dapur miliknya.

Setelah permintaan terhadap produknya semakin meningkat, Taufik pun mulai melakukan investasi dengan membeli perlengkapan bisnis camilannya yang lebih modern serta dapat mempersingkat proses produksinya, yakni seperti mesin pemotong meat slicer yang harganya Rp 4,3 juta. Mesin tersebut dirancang kembali untuk menghasilkan potongan tempe yang sama.

Saat ini, untuk mengembangan jaringan pemasarannya, Taufik menerapkan sistem reseller yang kini mitranya telah tersebar ke beberapa kota di Pulau Jawa, sampai ke Samarinda, Banjarmasin, Pulau Bali, Lampung, Kalimantan Timur, dan Kalimantan Selatan. Sementara untuk gerainya sendiri, Taufik menggunakan rumah pribadinya untuk melayani para pembelinya.

Meskipun bisnis camilan keripik Tempe Coklat Buluk Lupa ini tergolong masih baru, tapinya Taufik mampu mencapai omset yang cukup besar. Per harinya, ia mampu menjual hingga 120 bungkus keripik tempe coklat dengan kisaran omset per bulannya mencapai Rp 57 juta. Dalam menjalani bisnis camilan ini, Taufik diperbantukan oleh 2 orang karyawan.