Ternyata, Google dan Facebook Pun Pingin Melahap LinkedIn

Bulan lalu, LinkedIn resmi dilahap Microsoft dengan nilai 26 miliar dollar AS atau setara Rp 342 triliun. Jikalau nantinya ditilik ke belakang, Facebook dan Google sebenarnya juga berambisi memiliki LinkedIn.

Hal itu terungkap dari dokumen Komisi Sekuritas dan Pertukaran (SEC) yang mengurus proses akuisisi LinkedIn dan Microsoft. Menurut dokumen, ada lima perusahaan yang paling getol mendekati LinkedIn, sebagaimana diberitakan Recode dan dihimpun Godetik, pada hari Selasa kemarin.

Salesforce adalah salah satunya perusahaan yang lebih dini pingin memikul “LinkedIn”. Sementara itu, Google dan Facebook tampaknya melewati jalan yang lebih sepi dengan jalur diam-diam. Seorang sumber yang familiar dengan rencana tersebut menyebut eksekutif Google dan Facebook beberapa kali bertemu dengan pihak LinkedIn untuk mengakuisisi perusahaan jejaring profesional itu.

Pada file “SEC”, perusahaan yang tertarik bakal dinamai Party A, Party B, Party C, Party D, dan Party E. Salesforce adalah Party A, Google adalah Party B, Facebook adalah Party D, dan Microsoft adalah Party E.

Lainnya dari keempat perusahaan itu, ada satu perusahaan yang merupakan Party C dan tak berjalan lancar diidentifikasi oleh media massa. Perwakilan LinkedIn membantah bersuara soal ini, begitu juga perwakilan Google dan Facebook.

Menurut file, eksekutif senior Party B (Google) berjumpa dengan “CEO LinkedIn Jeff Weiner” pada pertengahan Maret. Perjumpaan itu selepas Microsoft dan Salesforce lebih dulu mengeluarkan proposal pembelian.

Seusai pers pertama, Google kembali meminta Weiner dan dewan direksi LinkedIn untuk mengatur jadwal pertemuan berikutnya. Mereka akhirnya kembali bersua pada 4 April 2016, di mana Google secara formal mengatakan ingin ikut bursa pembelian.

Sementara itu, perjumpaan dengan Facebook lebih cepat. Jejaring sosial itu menyetujui untuk masuk bursa pembelian LinkedIn pada 1 April 2016. Pada akhirnya, Microsoft dan Facebook mengurungkan niatnya dan Microsoft menjadi pemenang.

Google Chrome Memulai Teknologi V Reality

Google miliki sebuah visi besar terkait dengan soal virtual reality “VR”. Salah satunya, raksasa internet itu ingin membuktikan pengalaman berselancar di internet yang lebih menggugah bagi para pengguna.

Karena itulah peramban Chrome (versi Beta dan Dev) terbaru untuk ponsel Android sudah mulai ditambahi fitur VR, menurut informasi yang telah diberitakan oleh Engadget dan dirangkum oleh Godetik, pada hari Senin kemarin.

Fitur VR pada Chrome berupa dukungan untuk patokan “open-source” Web VR untuk situs-situs yang dibuat untuk dijelajahi lewat VR. Untuk situs yang belum mendukung Web VR, Chrome Dev turut menyediakan “VR Shell” yang akan mempermudah pengguna dalam berpindah antara situs web non-VR dan VR.

Dengan teknologi VR Shell tersebut, pemakai nantinya enggak perlu mencopot headset pada saat mengintip situs “non-VR” sehingga bisa tetap memakai perangkat tersebut dalam menjelajahi internet. VR Shell pada Chrome Dev saat ini belum berguna penuh dan masih terus dikembangkan oleh Google. Tapi agaknya tinggal soal waktu saja sebelum dukungan VR yang stabil mulai tertanam di browser.

Lainnya dari Google, pihak lain yang juga telah meningkatkan fitur browsing VR yaitu adalah Samsung. Pabrikan gadget yang berasal dari negara Korea itu malahan sudah menawarkan peramban internet untuk teknologi headset Gear VR rakitannya.

Apa Jadinya Jikalau Brexit Keluar Dari Uni Eropa?

Sebutan Brexit adalah singkatan British Exit atau Inggris meminta referendum untuk keluar menjadi anggota Uni Eropa menjadi pusat perhatian di Dunia. Bahkan Mesin pencari Google mengklaim “Isu Uni Eropa?” adalah subjek yang paling dicari dalam sepekan ini.

Inggris telah mengambil ketetapan bersejarah tanggal 23 Juni, apakah akan tetap menjadi anggota atau malahan keluar dari keanggotaan Uni Eropa. Malahan negara-negara di luar Eropa ikut memantau perkembangan politik di Inggris. Hal itu terdekteksi melalui mesin pencari Google yang harus meladeni 10.000 kali kata Inggris dan Brexit.

“Apa maksudnya untuk angkat diri dari Uni Eropa?” itulah istilah yang paling yang berkaitan dengan Uni Eropa, dengan “negara-negara yang di Uni Eropa?”

“Apa yang akan terjadi jikalau nantinya Inggris angkat kaki dari Uni Eropa?” dan “berapa banyak negara di Uni Eropa?” itu juga masuk dalam lima besar dalam mesin pencaria Google seperti dilansir Daily, pada hari Sabtu kemarin

Survei online yang dioperasikan “YouGov” terhadap 5.000 orang mempertunjukkan 52% responden memilih bertahan di Uni Eropa, 48% membuktikan lebih baik Inggris keluar dari organisasi ini. Ipsos Mori melaksanakan jajak pendapat yang hasilnya menunjukkan yang pro-Uni Eropa 54% sementara yang memilih keluar dari Uni Eropa 46%.

Jikalau nantinya Inggris angkat kaki dari Uni Eropa, maka ini akan menjadi “pukulan terbesar” bagi organisasi ini sejak dibentuk beberapa dekade lalu. Bahkan Keputusan Inggris meninggalkan Uni Eropa mengguncang pasar keuangan dunia.

Google Menekel Radar Mini Tuk Smartwatch

Selain Project Ara, divisi ATAP (Advanced Technology and Projects) kepunyaan Google juga menekspos Project Soli dalam konferensi Google I/O. Proyek ini adalah usaha Google untuk mengembangkan sebuah radar sensor mini yang dapat menerjemahkan gerakan tangan menjadi sinyal digital untuk digunakan pada wearable.

Google menunjukkan versi developer dari Project Soli tahun lalu. Tapinya, Project Soli versi awal ini menggunakan terlalu banyak energi. Selain itu, meskipun sensornya kecil, tapi ia memerlukan sebuahdesktop atau laptop untuk dapat bekerja dengan sempurna. Karena itulah, tim lalu mendesain ulang sensor Project Soli. Mereka menggunakan Infineon untuk mengurangi konsumsi daya hingga 22 kali, dari 1,2 watt menjadi 0,054 watt.

Radar biasanya butuhkan energi komputasi yang cukup tinggi. Namun, versi terbaru dari Project Soli 256 kali lebih efisien dari versi sebelumnya. Dan hal ini berarti tim Soli dapat memasangkan sensor ini pada sebuah smartwatch. Dengan begitu, pengguna smartwatch dapat berinteraksi dengan jam yang mereka gunakan tanpa perlu menyentuh jam itu.

Dalam sebuah demonstrasi, tim ATAP menunjukkan bagaimana mereka dapat melihat berbagai pesan yang ada hanya dengan meletakkan tangan mereka di atas smartwatch dan menggerakkan tangan mereka mendekat atau menjauh dari smartwatch. Anda bahkan menggerakkan dial virtual untuk berinteraksi dengan muka jam.

Tim ATAP mengklaim, jikalau pengguna dapat berinteraksi secara virtual dengan jam, maka pengembang dapat menampilkan lebih banyak informasi pada muka jam, karena mereka tidak lagi harus mengkhawatirkan tangan pengguna akan menutupi muka jam.

Tim ATAP juga menyatakan bahwa Soli tidak hanya ditujukan untuk smartwatch. Mereka juga bekerja sama dengan Harman JBL untuk mengembangkan prototipe speaker yang dilengkapi dengan radar Soli di dalamnya, sehingga Anda dapat mengendalikan speaker dari jauh. Saat ini, sensor Soli dapat mendeteksi hingga jarak 15 meter.

Berikut Ini Beberapa Fitur Anyar Di Android N

Dalam ajang konferensi pengembang aplikasi Google I/O 2016 di Mountain View, California, perusahaan itu memublikasikan beberapa fitur terbaru yang ada di Android N.

Memang sistem operasi ini telah diuji oleh para developer aplikasi sejak Maret 2016, tapinya di panggung yang berbeda Google mengintroduksi lebih jauh fitur unggulannya kepada sejumlah pengembang.

Inilah Fitur terbaru di Android N

Multitasking

Beberapa mengklaim bahwa karakteristik multitasking di Android N yang dibawa Google tidak terlalu istimewa, sebab sudah ada sebelumnya sebagai fitur bawaan dari vendor ponsel.

Salah satu diantaranya misalnya pengguna bisa beranjak ke aplikasi satu ke aplikasi lainnya hanya dengan menekan tombol home dua kali. Aplikasi yang sudah dibuka kemudian akan tampil secara berentetan. Bila di versi Android sebelumnya pengguna harus menutup aplikasi satu-persatu, kini Google menghadirkan tombol ‘close all’.

Selain daripada itu juga hadirkan fitur multi-screen, yang mengatur pemakai Android N ini yang nantinya dapat membuka aplikasi tanpa harus menutup aplikasi lainnya. Misalnya saja, ketika membuka YouTube, video akan tetap terus berjalan bila membuka aplikasi lainnya dengan tampilan dua layar.

Keyboard Themes

Jenuh dengan tema warna atau latar dari keyboard? Jangan khawatir, karena Google memberikan pilihan bagi penggunanya untuk mengganti warna, tema, font bahkan bisa memasukan foto sebagai latar untuk keyboard.

Performa

Android N mengasuh grafis API baru yang diberi nama Vulkan. Teknologi grafis ini biasa ditemui di PC gaming dan sangat membantu untuk mendorong performa visual yang lebih baik di ponsel atau tablet. Sistem operasi ini juga dijanjikan oleh Google akan mengalami peningkatan dari sisi daya tahan baterai yang membuat hemat ponsel sekaligus 75 persen cepat.