Andalkan Media Sosial, Dua Pemuda Ini Sukses Berbisnis Kepiting Nyinyir

Tak hanya bermanfaat untuk eksis, media sosial juga dapat difungsikan sebagai media pemasaran suatu bisnis dan menjaring konsumen. Kondisi ini dimanfaatkan dengan baik oleh dua pemuda bernama Gilang dan Rachman yang menggeluti bisnis kuliner kepiting melalui Instagram.

Mulanya, kedua pemuda ini melakoni dunia bisnis kuliner pada bulan Oktober 2016 lalu. Ketika itu, di Jakarta sedang tren menu kepiting ala Louisiana. Alhasil, restoran yang menawarkan menu tersebut pun banyak bermunculan. Tapinya, jarang dari mereka yang menggunakan medsos sebagai sarana pemasarannya.

Dalam menjalankan usaha kuliner kepiting ini, Gilang dan Rachman mengeluarkan modal awal sebesar Rp 3 juta. Modal tersebut dipergunakannya untuk melakukan promosi awal. Kuliner kepiting olahannya itu dinamai Kepiting Nyinyir, dimana istilah tersebut diambil dari kata-kata percakapan di Instagram.

“Kata Nyinyir ini kita ambil dari kata-kata yang sering digunakan orang-orang di Instagram. Sebenarnya, kata ini ditujukan buat mereka yang suka ngomongin orang. Nah, kita menggunakan kata itu supaya banyak orang yang ngomongin usaha ini, jadinya banyak yang pesan,” beber Gilang.

Dalam peluncuran olahan Kepiting Nyinyir ini, Gilang dan Rachman mengundang rekan-rekannya yang aktif di Instagram, dimana acara tersebut dilakukan di sebuah restoran miliki temannya. Sebagian dari modal yang dikeluarkannya ia gunakan juga untuk memberikan olahan Kepiting Nyinyir secara gratis kepada 30 orang rekannya.

Tapinya, 30 orang temannya itu haru membagikan pengalaman ketika mencicipi Kepiting Nyinyir melalui akun instagram pribadi mereka. Hal itu membuahkan hasil yang mengejutkan. Keesokan harinya, Gilang dan Rachman mendapatkan banyak pesanan. “Walaupun pesanan yang datang setiap harinya masih dalam hitungan jari, namun kita sangat senang karena usaha ini sudah mulai dikenal,” beber Rachman.

Selain itu, untuk meningkatkan kegiatan promosinya, Gilang dan Rachman juga telah mempersiapkan dana yang cukup besar. “Kami menyiapkan dana sebesar Rp 3 juta setiap bulannya untuk mempromosikan Kepiting Nyinyir ini. Jika sebelumnya kami lebih banyak untuk food blogger, kali ini kami ingin menambahkan ke Instagram ads,” pungkasnya.

Saat ini, rata-rata besarnya omzet yang mereka peroleh setiap bulannya adalah mencapai Rp 50 juta. Tak hanya itu, perkembangan usahanya yang menjanjikan itu tak terluput dari sejumlah inovasi yang selalu dilakukannya. Bahkan, pada awal tahun ini Kepiting Nyinyir telah resmi menjadi bagian dari Go-Jek, sehingga konsumen bisa memesannya melalui Go-Food.

“Awalnya kita kaget ada konsumen yang pesan pakai Go-Food, padahal kita belum kerja sama. Mungkin karena lagi tren banget, jadinya dari Go-Jek sendiri yang masukin Kepiting Nyinnyir. Dari situlah kita bekerja sama dengan mereka. Kalau ada kerja sama, ongkos kirimnya bisa gratis dan bisa update menu terus kalau ada penambahan. Sebenernya kalau tidak kerja sama juga tetap bisa pesan di Go-Food, tapi menunya tidak bisa di update,” jelas Gilang.

Tidak hanya gencar berbisnis, Gilang dan Rachman juga tidak lupa untuk melakukan kegiatan sosial. Dari awal mereka menjalani bisnis kuliner Kepiting Nyinyir ini, keduanya mengalokasikan sebagian dari keuntungan yang didapatkannya untuk aksi sosial, yakni 10%. “Dari awal usaha ini, kami sudah melakukan kegiatan CSR sebesar 10% dari keuntungan yang di dapat,” pungkasnya.

Saat ini, Kepiting Nyinyir juga menjalin kerja sama dengan sebuah program bernama Indonesia Mengajar. Melalui program ini, mereka mempunyai program bernama Nyinyir Sambil Iuran. Untuk itu, konsumen yang memesan produk ini turut menyumbang Rp 3.000 setiap pesanan yang nantinya dialokasikan untuk anak-anak yang belum mendapatkan pendidikan.