Angin Segar Bagi Bianconeri Yang Tengah Diterpa Perselisihan Internal

Liga Champions – Di laga menghadapi Palermo akhir pekan lalu, terlintas sebuah pemandangan yang mungkin bisa dibilang kurang sedap. Bek unggulan Juventus, Leonardo Bonucci, terlihat sedang beradu pendapat dengan sang juru racik, Massimiliano Allegri. Tentu, hal tyang paling yang diidam-idamkan segenap fans dan pihak internal kesebelasan pada saat ini adalah hubungan baik antara pemain andalan dan sang juru racik, yang mungkin saja mengusik ketentraman tim.


Kala pertandingan berakhir pun Bonucci langsung masuk ke ruang ganti dengan tidak menegur sang manajer. walau sempat menyatakan klarifikasi, sepertinya ada sedikit insiden antara sang juru taktik dengan pemain belakangnya. Menurut Bonucci kejadian seperti ini memang lazim terjadi, karena adanya kesalahpahaman dan itu bukanlah hal yang besar. Walau begitu, pada akhirnya sang pemain belakang kawakan itu pun dikenai hukuman oleh pihak Bianconeri.

Tapi, hal itu sepertinya tidak berhenti begitu saja, Bonucci pun kemungkinan besar akan ditepikan oleh sang juru taktik pada pertarungan melawan Porto. Hal ini sepertinya akan menjadi alasan tersendiri bagi juru racik berkebangsaan Italia itu untuk memberi peringatan pada Bonucci bahwa sang manajer lah yang memegang kekuasaan di skuatnya. Di saat sama, dengan munculnya isu absennya Bonucci, La Vecchia pun bersiap untuk menyambut kembali dua tonggak lini belakang mereka, Giorgio Chiellini dan Andrea Barzagli, pada laga nanti.

Chiellini sendiri didera cedera ketika menghadapi Cagliari di Serie A, dimana ia digantikan oleh Daniele Rugani. Sementara itu Barzagli sudah absen lebih lama lagi, meskipun cuma sepekan lebih awal dimana ia didera cedera. Kedua punggawa ini sesungguhnya sempat diperkirakan akan kembali berlaga pada pertandingan kontra Palermo. Namun, seusai uji fisik yang dilaksanakan, kedua pemain itu pun masih harus menepi karena keadaannya dinyatakan belum sepenuhnya fit.

Sang juru taktik La Vecchia Signora sendiri sempat memaparkan bahwa ia tidak akan menurunkan kedua pilar utamanya itu apabila kondisi mereka tidak bugar sepenuhnya. Tapi, dengan kehadiran kedua sosok pemain pilar itu yang sudah terlihat ikut serta latihan bersama Bianconeri sebelum mengunjungi Porto di perdelapan final Liga Champions. Apabila tidak berlaga, paling tidak kedua nama itu akan masuk dan ikut serta dalam daftar skuat.

Kembalinya sosok kedua punggawa andalan Si NyonyaTua ini pun kemungkinan bakal sedikit menjadi peredam pada rumor yang sedang dialami Bonucci sekarang ini. Walau belum ada keyakinan apakah ketiga nama itu bakal tampil atau tidak, paling tidak ada sedikit kabar positif bagi La Vecchia Signora yang tentu sedikit menutupi konflik antara Bonucci dan Allegri. Tentu, kabar baik ini bisa sedikit membuat kubu Bianconeri menegakkan kepala mereka jelang pertandingan mereka di babak Perdelapan Final Liga Champions.

Skema Formasi Allegri Akan Diuji Di Laga Champions League

Liga Champions – Salah satu transformasi formasi yang diterapkan Massimiliano Allegri musim ini kepada kesebelasan asal Turin, Juventus adalah taktik formasi yang ia terapkan. Selepas beberapa musim terakhir dengan strategi tiga bek, Allegri pun memilih untuk berpaling pada strategi yang bisa dikatakan lebih sering diterapkan juru racik modern, yaitu empat pemain belakang dengan barisan 4-2-3-1.

Semenjak berpaling ke strategi tersebut, Bianconeri telah mengemas enam kemenangan di enam laga yang mereka jalani. Dalam deretan tersebut, kesebelasan asal Turin mengantongi 11 gol dan hanya kecolongan satu gol. Sempat disangsikan bisa bertahan menghadapi klub papan atas, kemenangan atas Internazionale dan AC Milan dalam sederet laga di atas sepertinya semakin menguatkan opini bahwa La Vecchia Signora kini sudah tidak lagi bergantung pada strategi tiga pemain belakang.

Massimiliano Allegri (Juventus)

Salah satu kiat kesuksesan strategi baru Allegri tersebut adalah performa dua pemain sayapnya. Sementara Cuadrado adalah pemain sayap alami, pertimbangan Allegri untuk memposisikan Mandzukic pun menjadi salah satu pertimbangan yang cukup vital. Bahkan, bisa dikatakan kedatangan pemain berpaspor Kroasia tersebut merupakan titik keberhasilan skema Allegri, ungkapan syukur pun dikeluarkan oleh Allegri kepada kerja keras yang ditampilkan oleh pemain berkebangsaan Kroasia tersebut.

Namun, sangat terburu-buru bila mengatakan taktik baru Allegri tersebut telah teruji kehebatannya. Juru taktik La Vecchia Signora sendiri mengungkapkan jika cobaan terberat untuk formasi skuat asuhannya adalah pertarungan di Liga Champions. Di pertandingan babak perdelapan final kontra Porto yang telah menunggu mereka dan Allegri yang akan mempertahankan formasi tersebut di kejuaraan Eropa, tentu ini menjadi saat-saat yang pas untuk membuktikan formasi tersebut.

Walau bukan merupakan klub raksasa seperti Bayern Muenchen atau Real Madrid, The Dragons tetap merupakan kesebelasan yang wajib diwaspadai. Rekor kandang Porto di Liga Champions musim ini cukup baik, dimana Leicester sempat mereka tumbangkan dengan skor 5-0. Musim lalu, Bayern dan Chelsea pun merasakan tekanan Dragao yang memang kurang bersahabat.

Dengan opini dari Allegri itu, laga antara kedua kubu tentu akan bergulir atraktif. Dua kubu ini sama-sama membukukan hasil fantastis pada ajang domestik mereka. La Vecchia Signora baru saja memetik kemenangan atas Palermo yang merupakan kemenangan keenam berturut-turut mereka. Begitu juga dengan Porto yang kini menghuni peringkat teratas Liga Portugal, dan juga membukukan enam kemenangan berderet.

Laga di Liga Champions memang tidak bisa disetarakan dengan laga di Serie A. Allegri tidak bisa mencoba-coba hal baru begitu saja karena peluang berlaga di rumah sendiri pada putaran perdelapan final tentu cuma datang satu kali. Sekali mereka tergelincir, kemungkinan mereka untuk bisa kembali menemukan pola pada leg kedua akan terasa sangat sukar.

3 Pesepakbola Yang Menumpahkan Kekecewaannya Di Lapangan Dengan Menangis

Sepak bola adalah olahraga yang dibumbui taktik dan keterampilan individu. Itu semua adalah faktor yang dibutuhkan pesepakbola untuk membuat pertandingan berlangsung dengan sukses. Para pendukung setia akan merasa kecewa ketika tim favoritnya menderita kekalahan dan kekecewaan ini bisa menggoreskan perasaan luka yang mendalam bagi setiap pemain.

Tapinya, ada juga sejumlah pemain yang terbawa emosi terlalu jauh. Terkadang, hal itu disebabkan oleh apa yang terjadi dalam pertandingan. Tapi, di lain sisi itu juga merupakan imbas dari momen yang tak bisa mereka terima.

Contohnya adalah sewaktu Cristiano Ronaldo tak bisa menahan air mata kala ia didera cedera di final Piala Eropa 2016 melawan Perancis musim panas lalu. Bomber asal Portugal itu, harus menyudahi upaya kerasnya selama bertahun-tahun agar bisa melaju ke final. Memang sukar menerima fakta saat melihat kans terbaik menghilang tepat di depan mata. Berikut enam pemain yang pernah bercucuran air mata tak terkendali dalam beberapa momen :

1. David Luiz


Di tahun 2014 Brasil dipilih sebagai penyelenggara Piala Dunia. Mereka senang ketika mendapat kesempatan kedua kalinya menjadi tuan rumah di kompetisi akbar seperti World Cup, dan itu adalah kans untuk kembali merengkuh tropi dan mengulangi masa kejayaan di era Pele.

Tapi, kisahnya berujung tragis bagi pemain belakang Chelsea, David Luiz dan rekan setimnya. Mereka ditumbangkan Jerman dengan skor telak 7-1 di semi final, dan kekalahan ini pastinya sangat mengguncang seluruh dunia. Parahnya, eks pemain Paris Saint Germain ini menjadi sorotan dan dikritik karena gagal melindungi sektor pertahanan Brasil, sehingga dengan egampangnya diacak-acak oleh Mario Gomez dan kawan-kawan. Diiringi kucuran air mata, Luiz kontan meminta maaf kepada publik Brasil setelah laga.

2. John Terry


Kapten Chelsea, John Terry telah merasakan banyak pengalaman dalam kiprahnya. Dia telah menjadi pemimpin di lapangan untuk satu-satunya kesebelasan yang pernah ia kenal sepanjang hidupnya. Terry turut menuntun The Blues merengkuh banyak tropi.

Dengan semua kesuksesannya itu, dia sesungguhnya patut mendapat medali atas semua kontribusinya. Tapi, kontroversi juga tak pernah luput dari perjalanannya selama berkiprah di dunia sepakbola. Pastinya semua ingat pada tahun 2008 di final Champions League kontra Manchester United.

Terry dinilai telah menyia-nyiakan kans terbesar bagi The Blues untuk merebut gelar juara. Saat bergulirnya adu penalti, Terry yang dipercaya mengeksekusi tendangan kelima, terpeleset hingga tembakannya membentur tiang gawang, dan akhirnya The Red Devils yang keluar sebagai juara. Terry pun mengeluarkan air matanya. Dunia berempati padanya, tapi tropi bergengsi itu tetap singgah ke kesebelasan lain.

3. Mario Balotelli


Penyerang Tim Nasional Italia, Mario Balotelli tak sanggup membendung air matanya ketika negaranya harus takluk di final Piala Eropa 2012 kontra Spanyol. La Roja, julukan lain Spanyol, menyatakan bahwa timnya pantas menjadi pemenang, tapi Super Mario juga berpikir negaranya pun pantas menang. Dia menangis tak terkendali seusai laga dan itu terus berkepanjangan bahkan setelah diberi pelukan dari orang tua angkatnya.

Tekad Balotelli untuk menyenangkan dua orang tercinta sepanjang hidupnya itu musnah. Italia kalah telak 0-4 dari Negeri Matador yang keluar sebagai juara Piala Eropa 2012. Panorama yang tak lazim terjadi setelah laga itu. Balotelli yang kerap terlihat jahil dengan wajah beringasnya itu meneteskan air mata. Bahkan, ibundanya sendiri, Rose tak percaya jika Balotelli meneteskan air mata di lapangan hijau.

Walau Babak Belur, The Gunners Tetap Menjadi Tim Solid

Liga Champions – Tak bisa dibenarkan, jika terdengar isu kerenggangan di ruang ganti Arsenal. Semua berjalan seperti apa adanya, semua baik-baik saja. Memang terlintas rasa sedih dan kecewa, tapi internal tim tetaplah solid seperti sedia kala. Semua orang pastinya pernah mengalami kesedihan juga kekecawaan. Namun Menurut Arsene Wenger hal itu bukanlah alasan terjadinya kerenggangan internal klub.

Lagi-lagi isu tak sedap melanda The Gunners. Internal tim dirumorkan mengalami keretakan dan ini semakin mengancam jabatan Wenger sebagai juru taktik. Menyusul kekalahan telak klub asal London Utara kala menjalani pertarungan versus Bayern Munich dalam leg pertama perdelapan final Liga Champions pada 15 Februari lalu. Tanpa perlawanan sama sekali, Arsenal yang turun dengan skuat inti dihajar lima gol. Tim yang menghuni peringkat empat Liga Primer Inggris, hanya bisa membalaskan satu buah gol yang membuat mereka hancur 1-5.


Usai laga tersebut, media Inggris yang memang terkenal ‘suka mencela’ sontak menuliskan berita-berita yang kurang sedap mengarah kepada Wenger. Periode ini kembali dimanfaatkan fans fanatik untuk memaksa sang pemilik kesebelasan agar segera melengserkan juru taktik asal Perancis itu. Nasib the Gunners memang belum berakhir.

Masih ada kesempatan di leg kedua, dimana mereka akan melakoni laga sebagai tuan rumah di Emirates. Kendati demikian, tidaklah enteng untuk bisa memenangkan pertarungan melawan kesebelasan sekuat Bavarians, terlebih dengan selisih skor yang cukup besar.

Kekalahan yang dialami The Gunners di Allianz Arena juga menambah kesuraman catatan yang dibukukan oleh Wenger, setelah di Panggung Premier League, Alexis Sanchez dan kawan-kawan kemungkinan besar akan kembali gagal menyabet titel kejuaraan liga domestik musim ini. Dengan mengoleksi poin 50 dan berada di posisi keempat klasemen sementara, Meriam London terpaut selisih 10 angka dari Chelsea yang masih kokoh di puncak klasemen sementara.

Menanggapi kekalahan kontra Bavarians, berhembus isu jika Sanchez sempat panas di ruang ganti pemain. Bersama beberapa rekan setim, striker berkebangsaan Chile itu tak bisa terima Arsenal ditaklukan dengan sangat mudah. Menanggapi rumor tak enak tersebut, Wenger meyakinkan pasukan arahannya baik-baik saja. Tak ada perpecahan atau masalah apapun. Kekalahan itu memang berimbas pada moral tim, tapi Wenger memastikan bila tak ada masalah besar di tim, semuanya berjalan baik-baik saja.

Arsenal akan melawan Sutton di laga lanjutan Piala FA dini hari nanti, empat hari setelahnya mereka akan melakoni laga lanjutan Liga Primer Inggris dan akan bertandang ke kandang Southampton. Ini merupakan kesempatan anak asuh Arsene Wenger untuk memperbaiki hasil bruuk yang telah mereka peroleh di beberapa laga terakhir mereka. Mereka pun harus kembali membangun kepercayaan diri mereka setelah laga kontra Bayern yang lalu.

Trio Playmaker PSG Ini Sukses Hancurkan Dominasi Trio MSN

Liga Champions – Di leg 1 babak perdelapan final kompetisi Champions League musim 2016/2017, Barcelona telah tumbang dengan perolehan angka 0-4. Empat angka yang dikemas oleh Paris Saint Germain hadir berkat aksi Di Maria pada menit ke-18 dan 55, Julian Draxler di menit 40 dan ditutup oleh Edinson Cavani pada menit ke-71. Hasil tersebut membuat Barcelona harus berupaya keras agar bisa tembus ke fase selanjutnya.

Kekalahan telak Blaugrana dari Les Parisien, Rabu (15/2/2017), masih menjadi bahan buah bibir di Spanyol. Kalangan media dan pengamat sepak bola ramai-ramai memaparkan hasil penilaian mereka. Dua di antaranya adalah mantan juru taktik Atletico Madrid, Arrigo Sacchi dan mantan left wing back El Barca, Sergi Barjuan. Keduanya memiliki pertimbangan yang hampir sama, khususnya apa saja yang membuat tim Catalan tumbang 0-4 di Stadion Parc des Princes.

Jika bertekad untuk lolos ke babak selanjutnya, Blaugrana harus mengemas minimal lima gol ke gawang Les parisien, tanpa kecolongan angka. Andai menang 4-0 dan bertahan hingga 120 menit, pertandingan akan diakhiri lewat adu penalti. Menurut Arrigo Sacchi, ada tiga punggawa yang menjadi kendala besar bagi permainan tim Catalan secara keseluruhan. Uniknya, trio tersebut bukan Edinson Cavani, Angel Di Maria ataupun Julian Draxler.


Menurut Sacchi, permainan pasukan yang dikomandoi Enrique tak bekerja dengan mulus karena sepak terjang dari Verratti, Adrian Rabiot dan Matuidi. Trisula playmaker itu tampil sesuai dengan tugasnya. Mereka bisa membatasi pola permainan para gelandang El barca seperti Iniesta, Andre Gomes maupun Busquets.

Sacchi melihat tiga punggawa tersebut juga sanggup menjadi pengacau pertama bagi pergerakan Messi dan Neymar. Imbasnya, Suarez menjadi terkunci di sektor depan. Ketiga gelandang Les Parisien sangat mengerti apa yang wajib mereka lakukan sejak menginjakkan kaki di lapangan. Mereka bermain dengan impresif dan lugas, sehingga memberi kerumitan tingkat tinggi bagi pergerakan lini tengah Blaugrana.

Barjuan pun memaparkan, penampilan Lionel Messi mendadak suram, dan semua bermula dari usaha Verratti, Matuidi dan Rabiot. Trisula playmaker tersebut tak terlihat condong saat menyerang, tapi performa mereka sangat kelihatan saat berada di sektor tengah. Maka menurut Barjuan Blaugrana harus mencari langkah untuk memecah fokus tiga pemain tersebut saat bola sedang dikuasai oleh El Barca.

Barjuan berharap mantan kesebelasannya bisa menanggapi kekalahan mereka dengan sikap positif dengan menemukan langkah terbaik agar trio playmaker Les Parisien tersebut tak bisa bermain seperti saat di Paris. Blaugrana bisa terlepas dari musibah jika trio gelandang tersebut bermain tidak seperti yang diharapkan. Barjuan pun tetap optimis Blaugrana mampu belajar dari kesalahan dan rasa malu yang mereka alami di Paris.

Highlights PSG Vs Barcelona 2017