4 Punggawa Belia Il Diavolo Yang Bersinar Musim Ini

Liga Italia – AC Milan masih bersusah payah untuk kembali mendulang kejayaan musim ini. Hingga giornata ke-26, pasukan yang dikomandoi Vincenzo Montella masih menghuni posisi ketujuh papan klasemen sementara. Dengan Napoli yang mendiami peringkat ketiga, mereka terpaut 7 poin, sedangkan dari Juventus yang jad pemuncak klasemen sementara mereka berselisih 19 poin.

Walau begitu, manajemen AC Milan, kecuali Silvio Berlusconi, merasa puas dengan performa skuat mereka saat ini. Mereka berpikir, belum sanggupnya Milan berkompetisi kembali di level atas sebagai hal yang lumrah, karena I Rossoneri hanya mengandalkan pemain-pemain muda.

Membahas tentang pemain muda, dalam beberapa tahun belakangan Il Diavolo memang kerap membina pemain-pemain yang usianya masih terbilang muda. Faktor finansial menjadi pertimbangan utama. Dari sederet pemain muda yang mereka miliki, beberapa di antaranya mampu menjadi sorotan lewat performa gemilangnya. Tencatat ada empat pemain belia Milan paling menonjol musim ini. Berikut empat pemain yang usianya tidak lebih dari 23 tahun mampu bermain impresif bagi I Rossoneri :

1. Gianluigi Donnarumma


Jika membahas tentang pemain belia AC Milan, sosok Gianluigi Donnarumma pasti tidak akan lepas. Bahkan bisa dibilang, dialah pemain muda Milan yang paling bersinar saat ini. Pertama, di usianya yang baru 17 tahun, ia telah dipercaya sebagai penjaga gawang utama Milan sejak musim lalu. Dan ternyata kepercayaan itu masih berjalan musim ini dan ia berlaga penuh di seluruh pertandingan I Rossoneri.

Kedua, Donnarumma disebut-sebut sebagai suksesor Gianluigi Buffon di tim nasional Italia. Rumor itu mulai menjadi kenyataan, di mana saat ini ia menjadi kiper pilihan kedua bagi timnas. Ia pun telah merumput dua kali untuk timnas senior.

Dengan umur yang masih terbilang belia serta bakat yang mumpuni, membuat Donnarumma dibidik banyak kesebelasan top Eropa. Juventus adalah yang paling santer dikabarkan ingin menggaet Donnarumma, karena mereka ingin menjadikannya pengganti Buffon. Selain itu juga ada Chelsea, Real Madrid, dan Manchester City yang sudah siap merogoh kocek yang sangat dalam.

2. Manuel Locatelli


Pemain yang beroperasi di sektor tengah sebagai gelandang bertahan ini adalah salah satu pilar AC Milan saat ini. Musim ini, Locatelli terhitung telah berlaga sebanyak 16 kali di Serie A dan mempersembahkan dua gol. Bersama Gianluigi Donnarumma, Locatelli disebut-sebut akan menjadi pilar Milan dan tim nasional Italia di masa mendatang. Pada 8 Januari lalu, Locatelli baru saja menginjak umur 19 tahun. Ia lahirnya tepatnya pada tahun 1998. Tak aneh, remaja hasil binaan akademi sepakbola I Rossoneri ini menjadi salah satu pemain kesayangan publik San Siro.

3. Gerard Deulofeu


Gerard Deulofeu memang bukan kepunyaan AC Milan. Ia dipinjam dari Everton pada desember lalu selama enam bulan. Tapi, performa gemilangnya mampu menjadi sorotan. Dari enam penampilannya di Serie A, Deulofeu telah menyumbang satu gol dan satu assist. Akhir-akhir ini, pemain berusia 22 tahun ini kerap menjadi opsi utama sang juru taktik. Deulofeu sendiri mengaku kerasan berada di Milan dan berharap dirinya segera dipermanenkan.

4. Mario Pasalic


Satu lagi playmaker muda AC Milan yang paling dominan musim ini adalah Mario Pasalic. Ia lahir 9 Februari 1995 (22 tahun). Ia dipinang dari Chelsea pada setahun lalu dengan mahar 1 juta euro. Di musim pertamanya berkostum I Rossoneri, playmaker berkebangsaan Kroasia ini telah merumput sebanyak 16 kali, dan mempersembahkan dua gol dan satu assist. Sebelum berseragam Milan, Pasalic sempat memperkuat AS Monaco dan Elche dengan status sebagai pemain pinjaman dari The Blues.

Milan Ataukah Lazio Yang Pantas Berlaga di Kompetisi Eropa?

AC Milan Vs Juventus di Super Coppa Italia

Pada Desember yang lalu, AC Milan menjadi skuat yang menampilkan kejutan yang cukup besar. Kontra Juventus di ajang Super Coppa Italia, Rossoneri sukses menang lewat adu penalti dan mencegah Bianconeri meraih Treble Winner pada tahun 2016. Kemenangan itupun seakan menjadi bukti bahwa skuat asuhan Vincenzo Montela sedikit demi sedikit mulai kembali ke predikat mereka sebagai raksasa Italia.

Namun sayang, memasuki tahun 2017, Rossoneri malah menderita sederet hasil yang kurang baik. Kemenangan atas Bologna tengah pekan lalu, yang merupakan laga tunda mereka, mengakhiri deretan tiga kekalahan berturut-turut yang mereka alami masing-masing atas Napoli, Udinese, dan Sampdoria. Walaupun demikian, kemenangan yang mereka bukukan atas Bologna pun tetap menghasilkan sejumlah hal yang bisa dikatakan memberatkan Rossoneri untuk sejumlah laga mereka selanjutnya.

Yang paling vital tentu adalah dua kartu merah yang didapat oleh dua pemain Rossoneri. Gabriel Palletta dan Juraj Kucka sudah dipastikan tidak akan berpartisipasi pada laga selanjutnya karena ganjaran kartu merah pada laga kontra Bologna. Ditambah daftar anggota yang cedera pun semakin bertambah. Lini bertahan skuat asuhan Montella pun diyakini hanya tersisa nama Cristian Zapata dan Leonel Vangioni. Pasalnya, Zapata bermain kurang memuaskan pada laga kontra Sampdoria sementara Vangioni tak juga mendapat kepercayaan dari Montella.

Kondisi lini bertahan mereka yang mencemaskan ini juga bisa dimanfaatkan oleh calon lawan mereka pada akhir pekan ini. Lazio telah menunggu Rossoneri di Olimpico pada terusan Serie A pekan ini. Anak buah Simeone Inzaghi pun kini sedang berada dalam kondisi mental yang cukup baik. Kemenangan yang mereka bukukan atas Pescara, dengan skor memuaskan 2-6 juga seolah menjadi modal yang cukup bagi Le Aquile untuk bisa ikut di pentas Eropa musim depan, dimana Rossoneri juga merupakan salah satu kompetitor mereka.

Pescara Vs Lazio 5 Februari 2017

Kekuatan utama Le Aquille sendiri ada pada lini tengah mereka. Trio Marco Parolo, Sergej Milinkovic-Savic, dan Lucas Biglia akan menjadi tokoh-tokoh yang siap memporak porandakan permainan Rossoneri. Fokus pertahanan Rossoneri pun harus ditujukan pada nama pertama, selain tentunya pada trio Immobile, Anderson, dan Balde di lini serang. Parolo mengantongi empat gol pada kemenangan atas Pescara. Tentu, ia siap kembali menjadi momok menakutkan bagi gawang lawan bila dibiarkan bergerak leluasa.

Duel antara kedua kubu ini memang belum sampai pada titik perebutan Scudetto. Tapinya, dengan kans keduanya yang bisa dibilang masih cukup lebar untuk menembus ke kompetisi Eropa musim depan, baik itu Liga Champions maupun Liga Eropa, laga ini bisa menjadi salah satu laga yang memegang kunci untuk keberhasilan kedua skuat musim ini. Dan, siapapun yang meraih kemenangan pada laga nanti, tentu akan memiliki keunggulan lebih besar atas lawannya dalam mencapai zona Eropa.

Benarkah Allegri Ditafsir akan hengkang dari La Vecchia Signora?

Massimiliano Allegri (Juventus)

Massimiliano Allegri saat ini mungkin sedang berada dalam salah satu momen terbaiknya. Dengan performa yang ditampilkan oleh anak didiknya sejauh ini, Nyonya Tua dinilai akan segera menorehkan rekor baru di dunia sepakbola Italia. Kemenangan gemilang yang mereka raih atas Crotone pun semakin mendekatkan diri mereka pada Scudetto musim ini. Dan hal terspesialnya, jikalau si Nyonya Tua sukses menyabet titel tersebut, maka itu gelar tersebut akan menjadi gelarnya yang keenam secara berturut-turut.

Torehan fantastis itu sontak akan menghiasi karir Allegri sebagai pelatih. Dengan kesuksesannya mengantarkan The Old lady untuk kembali mendominasi di Italia, pastinya Allegri melanjutkan budaya yang sudah dicatatkan oleh juru taktik La Vecchia Signora sebelumnya. Disamping itu, Bianconeri pun masih mempunyai kans untuk meraih treble winner karena mereka masih akan berlaga di kompetisi Coppa Italia dan juga Liga Champions.

Rentetan prestasi yang sudah ia bukukan tersebut memang membuat Allegri menjadi salah satu manajer yang banyak diincar oleh kesebelasan-kesebelasan top Eropa. Satu klub yang kerap dihubung-hubungkan dengan pria berkebangsaan Italia tersebut adalah klub top Liga Primer Inggris, Arsenal. Dengan kontrak Arsene Wenger yang akan segera berakhir dan disinyalir tidak akan ada perpanjangan kontrak, petinggi The Gunners pun mulai mencari calon pengganti pria berdarah Perancis tersebut. Dan, nama Allegri pun sepertinya masuk ke dalam kriteria sebagai penerus Wenger.

Berita yang beredar dari Turin pun menjurus kepada Meriam London. Allegri dan Nyonya Tua diisyaratkan sudah membuat semacam persutujuan pada Januari lalu. Isi persetujuan tersebut pun tidak lain adalah sang juru taktik akan angkat koper pada akhir musim ini. Alasan kepergiannya itu pun bukan karena pertengkaran atau hal negatif lainnya namun memang karena Bianconeri ingin memulai era baru.

Jikalau benar angkat koper, maka Allegri bakal meneruskan jejak pendahulunya, Lippi di era 90-an, dimana tidak ada juru taktik Bianconeri yang tinggal lebih dari 3 tahun. Walaupun tidak ada klarifikasi dari kedua belah pihak, pernyataan Allegri pada konferensi pers pasca laga kontra Pitagorici semakin membuat isu ini berhembus kencang.

Dewan tinggi Bianconeri pun ikut menampik soal kepergian Sang juru racik, Giuseppe Marotta, yang menjelaskan bahwa Allegri masih mendapat respek dan dikagumi oleh petinggi lain, para pemain dan fans La Vecchia Signora. Ia tidak memiliki alasan untuk angkat koper dari klub asal Turin.

Jika benar Allegri akan angkat koper dari klub asal Turin, klub pun diberitakan sudah menyiapkan beberapa nama sebagai suksesor. Yang cukup sering disebutkan adalah manajer Fiorentina, Paulo Sousa. Meskipun belum berhasil mengantarkan La Viola menjadi juara musim ini, status Sousa sebagai legenda Bianconeri kelihatannya cukup mumpuni untuk menjadi suksesor Allegri dan tentunya dengan gaya bermain yang mengesankan.

Yang lebih mencengangkan mungkin adalah masuknya nama Luciano Spalletti dalam daftar belanja musim nanti. Dengan berakhirnya kontrak Spalleti yang akan habis pada akhir musim dan belum juga diperpanjang, Spalletti pun diisyaratkan bisa datang ke Turin apabila Allegri melepas tanggung jawabnya kelak.

Allegri Berharap Formasinya Kini Dapat Terus Membuahkan Hasil Positif

Massimiliano Allegri (Juventus)

Eks pemain belakang Juventus, Fabio Cannavaro, berkata ia puas menyaksikan strategi baru yang diracik oleh Massimiliano Allegri untuk Si Nyonya Tua.

Bianconeri di era kepelatihan Antonio Conte, dikenal dengan penerapan formasi 3-5-2. Taktik itu sempat diteruskan di masa kepemimpinan Allegri. Tapinya, Allegri kemudian menerapkan formasi 4-2-3-1. Alhasil membuat Cannavaro merasa sangat puas.

Massimiliano Allegri merasa cukup senang dengan pergantian strategi yang sudah ia lakukan bersama dengan Nyonya Tua. Sang juru taktik Nyonya Tua bahkan kini berencana untuk mematenkan skema 4-2-3-1 yang belakangan membuat Si Nyonya Tua tampil solid.

Di awal musim, Allegri punya dua skema unggulan yang dapat digunakan di Bianconeri. Formasi tersebut yakni 3-5-2 dan juga 4-4-2. Dengan dua skema itu, Allegri telah menghadiahkan dua titel scudetto untuk kesebelasan asal Turin.

Hanya saja, struktur formasi Allegri mulai berubah pada musim 2016/2017 ini. Berawal dari performa yang dinilai tidak konsisten yang dialami Bianconeri pada putaran pertama, eks juru taktik I Rossoneri ini kemudian mengganti formasi menjadi 4-2-3-1. Disamping itu, formasi ini juga diterapkan untuk memaksimalkan potensi para striker seperti Mario Mandzukic, Gonzalo Higuain dan Paulo Dybala.

Allegri berharap formasi itu bisa dipermanenkan oleh Bianconeri karena pergantian formasi akan berujung pada pergantian gaya permainan tim. Taktik yang telah dipakai oleh Allegri ini telah memperoleh hasil yang bagus dan membuahkan kebahagiaan yang luar biasa. Taktik tersebut juga telah menghasilkan banyak kemenangan bagi Bianconeri dan para pemain pun akan puas akan usaha yang telah dilakukannya berbuah manis.

Si Nyonya Tua saat ini bertengger di puncak klasemen Serie A dengan torehan poin sebanyak 54 dari 22 laga yang telah mereka lalui. Mereka unggul tujuh angka dari I Lupi yang sedang menghuni posisi runner-up dengan torehan 50 poin dari 23 laga yang telah mereka lalui. Tapinya, sejauh ini Bianconeri telah menderita kekalahan sebanyak empat kali.

Allegri mengaku puas dengan transformasi yang telah dilakukannya di Juventus. Walaupun demikian, ia merasa bahwa performa Miralem Pjanic dan rekan-rekannya masih belum sampai pada tahap maksimal. Allegri yakin bahwa anak didiknya masih bisa menampilkan performa yang jauh lebih baik lagi.

Allegri menuturkan bahwa tim arahannya harus terus meningkatkan performa dan menjaga stamina fisiknya. Karena dalam sepakbola selalu terjadi hal-hal diluar dugaan. Pertahanan yang diperkuat dengan 8 orang pun belum tentu bisa menjaga lini pertahanan lebih baik sehingga bisa mencegah kebobolan.

Dalam sepakbola, keseimbangan dan pengorbanan harus berjalan beriringan. Ketika melancarkan serangan, beberapa pemain belakang diharapkan bisa membantu sektor depan untuk memaksimalkan serangan, sedangkan ketika sedang berada dalam posisi tertekan, pemain depan pun terkadang harus mundur untuk membantu memperkokoh pertahanan. Semua penyeimbangan itu dilakukan semata-mata demi satu tujuan yaitu memperoleh kemenangan bagi tim.

Si Nyonya Tua Mendominasi Jendela Transfer Di Januari 2017

Liga ItaliaJuventus tidak Menyia-nyiakan jendela transfer di bulan Januari 2017. Kesebelasan yang kini memimpin di puncak klasemen sementara Serie A musim 2016/2017 ini dilansir telah meresmikan tiga punggawa baru di posisi yang berbeda.


Pada permulaan pembukaan bursa jual beli pemain musim ini, mereka dengan sigap sudah mendapatkan tanda tangan pemain tengah asal Klub Genoa yaitu Tomas Rincon dengan harga 8 juta euro. Dia merupakan pembelian pertama Si Nyonya Tua di bulan Januari dan ia merupakan penduduk asli Venezuela pertama yang akan mengabdi pada kesebelasan yang dikenal dengan corak hitam putih tersebut.

Dan saat ini pemain yang dipercaya mengenakan seragam bernomor punggung 28 di Juventus ini sudah berlaga sebanyak 5 kali bersama Si Nyonya Tua di semua ajang kompetisi. Laga perdananya adalah ketika Nyonya Tua menghadapi Bologna di Juventus Stadium di pekan ke-19 Januari yang lalu.


Hanya butuh waktu satu minggu, Bianconeri mengamankan jasa Mattia Caldara, pemain belakang yang bermain di Atalanta dan mendapat perhatian di publik Serie A. Caldera telah memperoleh tiga gol dari 14 pertandingan bersama La Dea hingga saat ini.

Pemain Belakang yang saat ini menginjak usia 22 tahun itu dibanderol seharga 15 juta euro dan disuguhi kontrak sampai 30 juni 2021. Biaya ini akan dinaikan 6 juta euro sebagai komisi bila alumni akademi Atalanta ini tampil konsisten di Juventus. Tapi Caldara baru bisa bergabung dengan Si Nyonya Tua setelah selesainya musim 2016/2017.


Begitu mendapat jasa dua pemain baru, Bianconeri terlihat santai hingga mendekati akhir penutupan transfer. Pada tanggal 30 Januari 2017 yang lalu, Bianconeri lagi-lagi mengamankan satu jasa pemain baru. Ia adalah Riccardo Orsolini dari Ascoli.

Winger muda jempolan ini sedang menjadi sorotan di publik sepakbola Italia, terutama Serie B. Bersama Ascoli, pemain yang tahun ini akan menginjak usia 21 tahun itu tampil dengan sangat apik. Ia berhasil memetik 4 gol dari 22 pertandingan di musim keduanya bersama Ascoli.

Orsolini yang di mahar sebesar 6 juta euro ini aslinya memang terus dipantau oleh Si Nyonya Tua. Sebelum turun sebagai pesepakbola profesional, ia sudah membukukan 17 gol di 21 laga bersama Ascoli. Banyak pengamat sepak bola yg kerap membandingkan dirinya dengan Arjen Robben karena kemampuannya yang terbilang diatas rata-rata serta kecepatan yang cukup baik, dia pun memiliki kesamaan dengan Sang Otak Tim Nasional Belanda itu yaitu mereka berdua adalah pengguna kaki kiri alias kidal.

Tapinya, para Juventini harus bersabar hingga musim yang akan datang tiba untuk menyaksikan penampilan dari Orsolini. Pemain yang memiliki tinggi badan 1,8 meter ini masih mengemban tujuan membawa Ascoli ke tempat tertinggi di Serie B. Saat ini, kesebelasan yang di nahkodai oleh Alfredo Aglietti ini terbilang rawan terjatuh di zona degradasi.

Walaupun Juventus masih bercokol di peringkat teratas Serie A, kesebelasan asal Turin ini harus terus menjaga peringkatnya. Karena itu, pembelian Caldara dan Orsolini diyakini sebagai peremajaan kesebelasan yang ditukangi oleh Massimiliano Allegri karena usia rata-rata pemainnya terbilang yang tertua di kompetisi kasta tertinggi di tanah Italia ini.

Kesebelasan yang ditukangi oleh Allegri ini merogoh kocek sebesar 29 juta euro dipertengahan musim ini dan bisa dikatakan yang tertinggi dibandingkan dengan skuat lain di Liga Italia. Adapun Napoli bisa dikatakan sebagai rival terdekatnya karena mereka sudah menghabiskan dana sebesar 18 juta euro demi mengamankan jasa Leonardo Pavoletti, pemain asal Genoa.