Mane Bukan Satu-satunya Penentu Hasil Bagi Liverpool

Sadio Mane (Liverpool) 2017

Liga Primer Inggris – Sadio Mane menjadi tokoh vital atas kembalinya Liverpool ke jalur positif akhir pekan lalu. Walaupun begitu, bukan berarti dia adalah tokoh penentu nasib The Reds.

Armada yang dinahkodai oleh Jurgen Klopp memetik tiga poin ketika menghantam kesebelasan asal London, Tottenham Hotspur dengan perolehan angka 2-0 di Anfield pada matchday ke-25 Premier League, Minggu (11/02) kemarin. Kedua angka itu disumbangkan oleh Mane hanya dalam rentang waktu dua menit, yaitu di menit ke-16 dan 18. Itu merupakan kemenangan perdana The Reds di Liga primer Inggris di tahun 2017 ini, setelah lima laga yang telah mereka lalui. Dalam jangka waktu itu, mereka hanya memperoleh tiga hasil seri dan dua kekalahan.

Dari semua partai yang dijalani oleh The Reds, laga ini merupakan kemenangan kedua yang diperoleh kesebelasan yang ditukangi oleh Klopp dalam 11 laga di tahun 2017. Dalam 11 laga itu, mereka hanya memetik hasil imbang sebanyak empat kali dan menderita lima kekalahan. Masa-masa buruk itu kerap dihubung-hubungkan dengan ketidakhadirannya Mane. Pemain berkebangsaan Senegal itu memang sempat absen cukup lama karena ikut memperkuat negaranya di kompetisi Internasional, Piala Afrika 2017.

Mane absen di tujuh pertandingan, di mana The Reds hanya memetik satu kemenangan dalam jangka waktu itu dan menderita empat kekalahan. Tapi rekan setimnya, Georginio Wijnaldum, menyangkal dugaan timnya terlalu menggantungkan beban pada Mane, meski ia juga sempat menyebutnya sebagai sosok penting bagi tim.

Menurut Wijnaldum, sudah terlalu banyak media yang membicarakan Mane yang memang sudah mencetak gol yang tidak sedikit jumlahnya untuk Liverpool. Dia merasa rentetan hasil buruk yang didapat oleh timnya karena absennya Mane. Padahal sebelum Mane pergi untuk mengikuti kompetisi Piala Afrika, Liverpool sendiri memang punya rapor bagus kecuali saat melawan Sunderland yang kala itu mereka tidak mendapatkan hasil maksimal.

Pekan lalu, The Reds masih tetap melanjutkan tren negatifnya meskipun telah diperkuat kembali oleh Mane, Wijnaldum juga memaparkan bahwa di lain sisi, sangat tidak adil bagi pemain lain bila dikatakan karena Mane-lah Liverpool bisa menang. Wijnaldum tidak menyangkal jika Mane memang pemain yang hebat. Mane memiliki kecepatan diatas rata-rata, dan dia pun merupakan salah satu mesin gol milik Liverpool, wajar saja jika pemberitaan miring tentang Liverpool yang tidak dapat memaksimalkan performanya ketika tidak diperkuat oleh Mane mencuat begitu saja.

Jika situasinya pemain lain seperti Phil Coutinho yang menderita cedera, dan The Reds mengalami rentetan hasil yang kurang memuaskan karena absennya Coutinho, Wijnaldum yakin pemberitaan media akan berubah menjadi Liverpool mengalami hasil buruk karena absennya Phil Coutinho.

Berdasarkan opini Wijnaldum, memang tidak adil bila berkata The Reds mendapat rentetan hasil kurang memuaskan karena absennya satu punggawa mereka, seperti Mane. Mereka mendapat hasil buruk karena kurangnya komunikasi antar pemain dan berakibat pada salahnya pengambilan keputusan dilapangan. Inilah yang harus dibenahi oleh Klopp di pertandingan selanjutnya, yang dimana Liverpool akan melawat ke King Power Stadium tanggal 28 Februari mendatang.

Liverpool (Sadio Mane) Vs Tottenham Hotspur 2017

Gol Tendangan Bebas Luiz Memotivasinya Mencetak Lebih Banyak Angka


Liga Inggris – Pertandingan Chelsea melawan Liverpool di Anfield pada laga matchday ke-23 Liga Primer Inggris begitu membekas di benak David Luiz. Pasalnya ialah yang memberikan angka pertama bagi The Blues pada laga tersebut. Dengan gol yang ia hasilkan, The Blues sempat memimpin jalannya pertandingan sampai akhirnya Georginio Wijnaldum berhasil menyeimbangkan keadaan di menit ke-59.

 

Sontak saja, bila pertandingan di matchday ke-23 Liga Primer Inggris itu sangat membekas di hati Luiz. Karena sejak bergabung kembali dengan The Blues, Luiz akhirnnya bisa kembali mencetak gol pada pertandingan itu.

 

Cara Luiz mencetak angka di nilai fantastis dan memiliki kesan tersendiri baginya. Gol yang diciptakan oleh pemain berkebangsaan Brazil ini diakuinya sebagai kejutan. Seperti yang terlihat, Gol itu tercipta karena kiper lawan, Simon Mignolet belum dalam posisi siap siaga.

 

“Ini adalah gol pertama saya semenjak saya bergabung kembali dengan tim. Kejutan itu diperlukan. Saya melihat Mignolet sedang tidak dalam posisi yang siap kala itu jadi saya pun sengaja mengagetkannya,” ujar Luiz seperti yang dikutip dari situs resmi Chelsea.

 

“Supaya kesempatan tidak tersia-siakan, seorang pemain hendaknya selalu untuk melakukan spekulasi,” ucap Luiz. Dan untungnya, usaha yang dilakukan oleh pemain berkebangsaan Brazil ini menjadi sesuatu yang indah serta menjadi momentum baik bagi tim The Blues saat itu. “Aku bahagia karena aku tidak melakukan kesalahan dan berhasil mencuri angka,” tambahnya.

 

Pasalnya ini bukan kali pertama pemain yang bernomor punggung 30 itu mencetak angka melalui tendangan bebas. Ketika Brazil bertemu dengan Kolombia sebagai lawan di babak 8 besar Piala Dunia 2014, eksekusi tendangan bebas dari Luiz yang berjarak kurang lebih 30 meter tidak dapat diantisipasi oleh David Ospina, Kiper Tim Nasional Kolombia.

 

Aslinya The Blues dibekali beberapa eksekutor free kick yang tak diragukan lagi keakuratannya, salah satunya adalah Willian Borges, yang uniknya ia satu kewarganegaraan dengan Luiz.

 

“Mereka berdua memiliki hubungan yang tak tergoyahkan. Dia melesakkan free kick yang patut diacungi jempol. Aku bahagia untuk David, dia tampil tanpa mengecewakan.” Ucap Conte, Manajer The Blues.

 

Sejauh ini, Luiz dianggap pemain belakang yang kurang produktif dalam mencetak angka jika disandingkan dengan Ivanovic yang telah meninggalkan Chelsea dan bergabung dengan klub asal Rusia, Zenit st. Petersburg, total gol yang telah dibukukan Luiz tentu berada jauh dibawahnya. Namun bila dilihat dari menit bermain, Luiz jauh lebih banyak mendapat kesempatan merumput daripada Ivanovic.

4 Alasan Yang Menguatkan Manchester United Mampu Tandingi Liverpool

Bagi Manchester United, bertanding melawan Liverpool merupakan tantangan terberat yang harus dijalani dengan kekuatan maksimal. Apakah pelatih Manchester United, Jose Mourinho mampu memboyong skuadnya untuk menampilkan performa terbaiknya atau justru sebaliknya?

Kini, optimisme yang dimiliki Manchester United memang sangat tinggi. Hal itu terjadi bekat meningkatnya performa mereka dalam dua bulan terakhir ini. Kekecewaan yang dialami The Red Devils didapatinya ketika harus dikalahkan dengan Fenerbahce pada matchday 4 Liga Europa 2016/2017.

Sejak saat itu, MU telah melalui 15 laga tanpa menerima kekalahan dan didominasi oleh gelar jawara yang didapatkannya secara beruntun. Hal tersebut menjadikan The Red Devils masih harus kembali bersaing dalam 4 pertandingan sekaligus pada musim ini.

Akan tetapi, banyak yang menilai jika Manchester United sedikit diuntungkan lantaran rival-rivalnya adalah klub-klub besar yang sudah tak perlu diragukan lagi kehebatannya. Oleh karena itu, pertandingan melawan Liverpool Liga Inggris di Old Trafford pada esok hari diharapkan mampu dibuktikan MU dengan performa yang membanggakan.

Jelang pertandingan tersebut, Manchester United mempunyai modal besar untuk menorehkan gelar jawara untuk melawan Liverpool. Dibawah ini adalah beberapa alasan mengapa The Red Devils berpeluang besar untuk menjawarai pertandingan tersebut.

1. Miliki gelandang andalan

Manchester United miliki dua gelandang jangkar andalan pada musim ini, yakni Paul Pogba dan Ander Herrera. Dua sosok pemain ini mampu menampilkan kolaborasi yang berkualitas untuk membantu lini serang dan pertahanan. Tapinya, The Red Devils juga masih mempunyai alternative yang tak kalah bagusnya, yakni Michael Carrick.

Meskipun usianya sudah 35 tahun, tapinya statistik yang dicatatkan pemain kelahiran 28 Juli 1981 itu tetap membuktikan jika ia mampu menjadi pemain yang bisa diandalkan. Dalam 15 pertandingan yang dijalani, Carrick sukses memboyong The Red Devils menjawarai 13 laga dan 2 hasil imbang.

2. Miliki serangan berbahaya

Sepak terjang positif Manchester United dalam dua bulan terakhir ini tidak terluputkan dari kualitas serangan yang mereka miliki. Pada beberapa pertandingan terakhir, Jose Mourinho sukses menorehkan hasil positif berkat kolaborasi antara ketiga pemain jagoannya, yakni Henrikh Mkhitaryan, Paul Pogba, dan Zlatan Ibrahimovic.

Bahkan, musim ini Ibrahimovic sukses menjadi mesin pencetak gol bagi The Red Devils. Jumlah kontribusinya di musim panas 2016 ini sebanyak 18 gol dan 6 assist dari 28 pertandingan. Jelang pertandingan melawan Liverpool, Jose Mourinho dipastikan bakal menekankan kepada para pemainnya untuk bermain lebih menyerang.

3. Pertahanan Liverpool Rapuh

Menilik rapornya Liverpool sampai pekan ke-20, The Reds sukses menjadi klub yang miliki lini pertahanan terbaik di ajang Liga Inggris. Dari 20 pertandingan yang dihelat, serangan yang dilakukan Liverpool telah membuahkan 4 gol. Hal itu didasari oleh para pemainnya yang produktif dan berkualitas di depan gawang rivalnya, sebut saja James Milner, Philippe Countinho, Roberto Firmino, Lallana, dan juga Sadio Mane.

Tapinya sayang, kualitas pertahanan yang bagus itu tidak disertai dengan sistem penyerangan yang berkualitas. Dibandingkan dengan Manchester United yang hanya kebobolan 19 gol, Liverpool sudah kebobolan sebanyak 23 gol. Torehan buruk yang didapatkannya itu merupakan salah satu akibat dari cederanya Joel Matip. Alhasil, kondisi tersebut bisa memberikan peluang yang bagus untuk MU.

4. Tren positif di Liga

Posisi Manchester United saat ini harus diakui memang terlampaui cukup jauh dari Liverpool. The Red Devils masih menempati posisi ke-6, sedangkan The Reds lebih unggul di posisi kedua dalam klasemen Liga Inggris. Akan tetapi, rapor yang dicatatkan MU justru lebih baik dari Liverpool di dalam beberapa pertandingan terakhir Liga Inggris. Ketika The Reds hanya mampu menorehkan 4 gelar jawara dalam 6 laga terakhir, klub asuhan Jose Mourinho itu justru berhasil menjawarai 6 laga sekaligus.

Liverpool Bidik Defender Jerman, Jonas Hector

Berita bola terkini datang dari Liverpool menyatakan jika pihaknya belum ingin mengakhiri pembelian pemain di bursa transfer musim ini. Kini, tim yang ditukangi oleh Jurgen Klopp itu masih tetap memburu sejumlah pemain anyar untuk semakin memperkuat skuadnya di musim 2016/2017.

Kali ini pemain yang tengah diburu The Reds adalah Jonas Hector. Demi bisa memboyong pemain berkebangsaan Jerman itu, Liverpool harus menggelontorkan dana sebesar 20 juta pounds atau setara dengan Rp 349 miliar.

Hasrat The Reds untuk menggaet pemain berusia 26 tahun itu bersumber dari hasil buruk yang didapat Liverpool ketika berlaga melawan AS Roma pada 2 Agustus lalu. Ketika itu, sang pelatih mendeteksi adanya kelemahan di lini pertahanan skuadnya.

Pasalnya, Alberto Moreno dan Lucas Leiva sedang didera cedera sehingga saat ini mereka masih harus mendapatkan perwatan dari tim medis. Nasib kedua pemain itu pun sama halnya seperti yang dialami Joeal Matip, Joe Gomez, dan Mamadou Sakho.

“Ketika bertanding melawan AS Roma, lini pertahanan kami sangat lemah. Banyak peluang yang tidak mampu dimanfaatkan. Para pemain berdiri terlalu berenggangan sehingga pihak lawan sangat mudah memainkan bola dan mereka memiliki banyak kesempatan untuk mencetak gol di gawang kami.

Saat ini, pemain kami Lucas, Sakho, dan Joe Gomez masih terkapar akibat cedera yang menderanya sehingga kami kekurangan bek tengah. Masih banyak laga yang harus kami jalani, tapi persediaan pemain kami sangat kurang,” tutur Klopp.

Apabila tidak berhasil menghadirkan pemain pemain kelahiran 27 Mei 1990 itu, kabarnya Liverpool bakal mengalihkan minatnya kepada Mattia De Sciglio. Kabarnya, AC Milan bakal melegonya dengan banderol 28 juta euro atau setara dengan Rp 264 miliar.

James Milner Siap Berkorban Untuk Kepentingan Liverpool

Setelah sepakat menjadi bek sayap Liverpool, James Milner harus bersedia untuk mengemban tugas yang cuku besar. Akan tetapi, hal itu hanya akan dilakukan Milner hanya untuk opsi terakhir, tepatnya apabila Jurgen Klopp membujuknya untuk bermain disana ketika tim sedang berada di suatu kondisi yang kurang menguntungkan di musim depan.

James Milner dikenal sebagai salah satu pemain gelandang terbaik yang dipunyai Inggris. Akan tetapi, di The Reds, pemain berusia 30 tahun itu sudah pernah diposisikan sebagai pemain bek kanan atau kiri dalam beberapa kali laga, utamanya saat bertanding di penghelatan International Champions Cup 2016 kontra AC Milan.

Milner sendiri mengaku jika bermain di posisi tersebut bukanlah tempat favoritnya dan tentunya ia tidak akan mengambil pilihan untuk bermain didalamnya. Akan tetapi, pemain kelahiran 4 Januari 1986 itu menyatakan jika dirinya siap mengorbankan dirinya untuk keberhasilan tim dalam meraih prestasi, mengingat The Reds telah melego Brad Smith ke Bournemouth dan meminjamkan Jon Flanagan ke Burnley.

“Jurgen Klopp adalah sosok pelatih yang selalu peka terhadap barisan pemainnya. Ia sempat menanyakan kepada saya apakah saya bersedia untuk ditempatkan di posisi bek sayap apabila ada suatu hal yang diinginkan terjadi pada tim ini, seperti saat kami bertanding dengan Manchester United di Europa League, ada pemain kami yang mengalami cedera,” tutur Milner.

“Kami selalu serius dalam melakukan perbincangan terkait hal itu dan saya pun sudah mengatakan kepada peatih jika posisi itu bukanlah tempat favorit saya. Akan tetapi, ia adalah pelatih di tim ini dan saat ini saya masih berstatus sebagai pemain Liverpool. Untuk itu, saya pun harus melakukannya. Salah satu hal yang terpenting adalah yang terbaik untuk tim,” tambahnya.

Sejatinya, saat ini Liverpool masih memiliki satu bek kiri lagi, yaitu Joe Gomez. Akan tetapi, pemain muda berusia 19 tahun itu sedang menjalani masa pemulihannya akibat cedera parah yang dideranya pada musim lalu. Walaupun termasuk pemain yang bertalenta, tapi Gomez tetap harus memulai semuanya dari nol untuk bisa kembali mendapatkan posisinya.