Kualitas Ibrahimovic Tak Pernah Sekalipun Mengecewakan Mou

EFL Cup – Ketika perolehan skor masih berimbang 2-2. Rasa was-was dan gusar melanda kedua kubu baik Manchester United maupun Southampton sama-sama menginginkan kemenangan. Kedua juru taktik di kubu yang berlawanan pun tampak resah di pinggir lapangan. Tapi peruntungan baik berpihak kepada Setan Merah.


Zlatan Ibrahimovic memantapkan kemenangan bagi Setan Merah, usai pemain berkebangsaan Swedia itu sukses menuntaskan sebuah peluang yang menjadikan skor akhir berubah 3-2. Ibrahimovic, dengan akurasi yang terukur tentu saja tak menyia-nyiakan operan lambung Ander Herrera dari sisi kanan. Eks bomber Paris Saint Germain (PSG) menumbangkan Fraser Forster, kiper Southampton, melalui sundulan mematikan tiga menit jelang waktu normal selesai.

Dan tak lama setelahnya, Andre Marriner, hakim lapangan yang memandu jalannya pertarungan, meniupkan peluit panjang tanda selesainya laga. Begitulah, armada yang dikomandoi Jose Mourinho memenangkan partai puncak EFL Cup. Wembley Stadium menjadi saksi keperkasaan The Red Devils di kejuaraan ini. Ini merupakan hasil vital musim ini, mengingat MU agak kalang kabut di Liga Primer Inggris, kejuaraan paling bergengsi di Britania.

Dengan mengoleksi 48 poin, The Red Devils belum juga bergeser dari urutan keenam papan klasemen sementara. Tertinggal cukup jauh dari Chelsea, sang pemuncak klasemen, yang telah mengoleksi 63 poin. Tepikan dahulu perihal Liga Primer inggris, persaingan yang sangat ketat itu. MU sedang bersuka cita, menanggapi kemenangan mereka di Wembley. Ini adalah titel kelima. Sebelumnya, musim 1991/1992, 2005/2006, 2008/2009, dan 2009/2010, MU juga naik ke panggung kehormatan. Ibrahimovic memang pantas disebut sebagai pahlawan.

Bomber kawakan tersebut, di menit ke-18 membuka keunggulan bagi The Red Devils 1-0. Gairah pasukan arahan Mourinho semakin menggelora. Menit 38, Jesse Lingard menggandakan keunggulan menjadi 2-0. Namun, Southampton pun pantang menyerah. The Saints, bagaikan pejuang di medan pertempuran, berjuang tanpa lelah. Hasilnya impresif. Dua gol balasan berhasil dikemas, menit 45 dan 48. Dua gol dicuri oleh Manolo Gabbiadini dan dia hanya perlu waktu kurang dari tiga menit.

Bukan hanya kali ini Ibrahimovic tampil gemilang. Pada laga-laga sebelumnya, pemain yang berusia 35 tahun ini banjir pujian karena gol atau assist yang dia ciptakan. Tak ayal jika Mourinho begitu mengharapkan Ibrahimovic, kapan dan di mana pun timnya tampil. Dengan kata lain, Ibrahimovic adalah jawaban utama di sektor serangan The Red Devils.

Jika Mourinho pada akhirnya memuji Ibrahimovic setinggi langit, itu sesuatu yang biasa. Bukan hal yang berlebihan atau opera semata. Mourinho bahkan dengan percaya diri menimbang antara Ibrahimovic dengan Paul Pogba, pemain termahal di dunia. Pogba mungkin berada di tingkat yang setara, namun Ibrahimovic sangat spesial menurut Mourinho.

Claude Puel, juru taktik Southampton, tak ketinggalan melontarkan pujian. Ia telah lama mengenalnya semenjak di Ligue 1 Perancis. Menurut Puel, Ibra merupakan seseorang yang sangat percaya diri dan berjiwa pemimpin. Meski dia hadir ke sini di usianya yang telah menginjak 35 tahun, namun ia selalu berusaha untuk melakukan hal-hal yang impresif.

Highlights Final EFL Cup Manchester United Vs Southampton 2017

Awal Pembuktian Kiprah Mourinho Sebagai Juru Racik Strategi MU

EPL Cup – Tersisa satu laga terakhir bagi Jose Mourinho sebelum merengkuh piala pertamanya selaku juru taktik Manchester United, sudah barang tentu prioritas utama Mourinho saat ini adalah untuk memenangkan partai akhir EFL Cup. Komitmen untuk memulihkan The Red Devils ke masa kejayaan mereka seperti beberapa tahun lalu mungkin bisa diawali dengan mengangkat trofi pertama mereka musim ini.


Jika dibandingkan dengan Liga Primer Inggris atau FA Cup, meski EFL Cup hanya kejuaraan kasta ketiga. Tapi, bagi The Special One mungkin kejuaraan ini berarti lebih dari itu. Pada awal kemunculannya di Inggris, musim 2004/2005 selaku juru racik Chelsea, piala pertama yang ia hadiahkan adalah piala dari kejuaraan ini. Meskipun sukses merajai Liga Primer Inggris pada musim yang sama, tentu menjuarai EFL Cup kala itu seolah membuka pintu keberhasilan bagi Mourinho di Britania.

Mourinho pun berpendapat, Ketika seseorang terbiasa menang, dan saat gagal, ia pasti akan merindukan rasanya meraih kemenangan. Dan akan sangat sulit menerima kegagalan oleh sebab itu dorongan untuk berhasil akan terus diupayakan. Makanya kemenangan MU di kejuaraan ini akan membangkitkan motivasi para pemainnya untuk berupaya lebih keras di kejuaraan lainnya.

Sejauh ini, operasi yang dilakukan Mourinho untuk The Red Devils mulai menghasilkan rapor positif. Mewarisi kesebelasan yang berakhir di peringkat kelima musim lalu dan mempunyai sejumlah cacat pada aspek kapasitas skuat, Mourinho sukses mengatasi paling tidak sejumlah masalah itu. Zlatan Ibrahimovic, Paul Pogba, Eric Bailly, dan Henrikh Mkhitaryan didaratkan untuk memperkokoh tim mereka. Walau rumor kedalaman kesebelasan itu masih ada, paling tidak saat ini Setan Merah telah memiliki skuat yang mumpuni untuk bertanding di sejumlah kejuaraan.

Tentu, kini MU hadir dengan predikat mereka sebagai unggulan. Selain karena materi pemain dan penampilan yang lebih konsisten, histori pun ikut berpihak pada mereka. Southampton belum satu kalipun menang atas MU dalam fase knockout kompetisi apapun sejak 1986. Namun, terakhir kali kedua kubu ini bertautan pada partai akhir sebuah kejuaraan, Southampton kerap keluar sebagai pemenang. Kala itu kompetisi FA Cup tahun 1976 dimana The Saints menang 1-0 atas The Red Devils.

Psikis MU sendiri sedang dalam kondisi yang baik. Akhir pekan lalu, mereka baru menumbangkan Blackburn di kompetisi FA Cup. Meski terdengar biasa, tapi pada laga tersebut MU kecolongan angka lebih dulu dari lawannya itu. Ketenangan yang diperlihatkan oleh anak didiknya dan tentunya keikutsertaan Ibra dan Pogba dari bangku cadangan, membuat mereka terus melaju di FA Cup musim ini.

Playmaker MU, Ander Herrera berpendapat, semua pihak yang menyaksikan laga mereka akan langsung menyadari bahwa ada kesebelasan besar yang berlaga karena mereka sukses mendominasi seluruh laga atau paling tidak sebagian besar. Ketika Blackburn mencuri gol, timnya tetap tenang dan sukses menghasilkan cukup banyak peluang. Mereka sukses menunjukkan bahwa timnya tidak mudah ditumbangkan.

Sikap mental yang serupa tentu patut ditampilkan oleh The Red Devils pada partai puncak EFL Cup. Dengan beban berat di laga itu, tentu tidak menghapus kemungkinan jika The Saints mungkin saja mendominasi pertandingan tersebut. Jika mereka sanggup melalui itu semua nantinya, tentu kesuksesan mereka menjuarai kejuaraan ini bisa menjadi awal dari piala-piala lainnya di masa kepelatihan Mourinho.

Karir Sang Kapten MU Kian Meredup Dibawah Rezim Mourinho

Liga Primer Inggris – Jose Mourinho berhasil membuktikan bahwa ia mampu menuntun Manchester United kembali ke jalur positif. Kemenangan demi kemenangan sukses dipetik The Red Devils di tiap laga yang mereka mainkan. Terbaru, MU kembali mencatatkan kemenangan di kompetisi FA Cup. Gol yang disumbangkan oleh Marcus Rashford dan Zlatan Ibrahimovic membuat gol Blackburn Rovers yang dihasilkan oleh Danny Graham pun menjadi tidak begitu berarti.

Sebelumnya, mereka berhasil menumbangkan St. Etienne di kompetisi Europa League berkat aksi heroik Ibrahimovic dengan hattrick yang ia bukukan. Ini tentu menjadi modal penting bagi The Red Devils menjelang laga vital mereka akhir pekan ini, babak final EFL Cup kontra Southampton.


Dalam dua kemenangan terakhir The Red Devils, ada satu penglihatan yang serupa, yakni absennya Wayne Rooney dari skuat. Bahkan, jika dicermati lebih dalam, Rooney belum pernah berlaga untuk Setan Merah lagi sejak pertandingan kontra Hull, dimana ia hanya menjadi pemain pengganti. Pertandingan terakhirnya sebagai starter adalah melawan Wigan di FA Cup pada akhir Januari dan gol terakhir yang ia cetak adalah tendangan bebas ke gawang Stoke City di Liga primer Inggris, gol yang membuatnya mematahkan rekor Sir Bobby Charlton sebagai pencetak gol terbanyak sepanjang masa MU.

Memang tak mudah mengabaikan kenyataan bahwa Rooney adalah pemain yang krusial bagi Setan Merah secara klub. Namun, dalam level tim, ia kini sedang memperjuangkan karirnya. Dua sososk penyumbang gol bagi MU pada pertandingan kontra Blackburn masing-masing adalah pemain masa depan mereka dan pemain top saat ini. Lalu dimanakah tempat Rooney? Dengan pandangan The Special One saat ini, tak mudah untuk memilih dimana posisi terbaik sang kapten, baik di lapangan maupun dalam racikan tim secara keseluruhan.

Pada jendela transfer Januari silam, Rooney sempat dirumorkan segera angkat koper dari Old Trafford dan menuju ke Tiongkok. Namun hal itu tidak terwujud karena MU yang diperkirakan tidak ingin menjual sang punggawa. Memang, jendela transfer Tiongkok hingga saat ini masih dibuka. Tapi, jika kondisi ini tidak segera berubah, mungkin musim panas mendatang akan menjadi saat-saat terakhir bagi Rooney bersama The Red Devils.

Tentu, Rooney enggan menghabiskan 12 bulan selanjutnya hanya menjadi pemanas kursi cadangan. Lima titel Liga primer inggris dan satu Liga Champions mungkin bukanlah gelar yang semestinya dipunyai pemain pelapis. Di lain sisi, The Red Devils tentu tidak berharap menahan seorang punggawa dengan upah tahunan mencapai 16 juta poundsterling dan tidak bisa memberikan jasa banyak untuk klub. Harga untuk upah Rooney tentu akan lebih cermat bila dipakai untuk investasi dalam bidang lainnya di dalam kesebelasan.

Tapinya, Tiongkok juga bukanlah satu-satunya destinasi bagi Rooney. Menurut seorang sumber yang akrab dengan kerabat Rooney, sang pemain lebih mementingkan gaya hidup ketimbang harta jika memutuskan untuk pindah ke liga di negara baru. Tentu hal ini membuat Rooney cenderung ke arah MLS. Namun, dengan aturan MLS yang sedikit berubah dalam beberapa tahun terakhir mengenai pemain yang usianya diatas 30 tahun, maka Rooney akan kerepotan untuk bisa meyakinkan kesebelasan MLS manapun supaya mau meminangnya.

Masa depan Rooney mungkin saat ini sedang berada di periode yang sangat buram. Harus ada sesuatu yang ia korbankan jika memutuskan untuk angkat koper dari Old Trafford, entah itu gaya hidup, gaji, atau tingkat persaingan liga. Tiongkok mungkin menjadi satu-satunya tempat yang mengharapkan Rooney untuk saat ini. Namun, di musim panas mendatang, jangan heran apabila akan ada peperangan memperebutkan Wayne Rooney.

Ibrahimovic Jadi Top Scorer Sekaligus Pemasti Kemenangan Setan Merah

Liga Inggris – Zlatan Ibrahimovic sanggup membuktikan bila usia yang sudah dinilai tua bukan menjadi alasan penghambat untuk tetap aktif bermain sepak bola secara profesional. Banyak yang mempertanyakan Ibra ketika dia dipinang oleh Manchester United pada musim panas lalu. Di usianya yang sudah menginjak 35 tahun, pensiunan striker internasional asal Swedia itu diperkirakan tidak akan mampu berbuat banyak. Jasanya untuk ‘The Red Devils’ tidak akan banyak.

Zlatan Ibrahimovic (Manchester United) 2016/2017

Dalam tujuh bulan Ibrahimovic telah sukses menjadi pencetak gol terbanyak Manchester United di dua musim terakhir. Sumbangan sejumlah golnya sering kali merupakan gol penentu kemenangan bagi The Red Devils. Ibra menjawab semua keraguan atas dirinya dari berbagai pihak di atas lapangan dengan kemampuannya yang paling utama, yakni mencetak gol.

Setelah di tengah pekan lalu membukukan hattrick di kompetisi Liga Europa, Ibra kembali menambah pundi-pundi golnya ketika timnya, Manchester United bertautan dengan Blackburn Rovers di ajang Piala FA. Jika dijumlahkan sejak awal musim di semua kejuaraan, angka yang telah dia bukukan sudah berjumlah 24 gol. Tak ada satu pun pemain MU dalam dua musim terakhir bisa mengoleksi 24 gol di semua kompetisi. Sedangkan Ibrahimovic berhasil membukukannya hanya dalam waktu sekitar tujuh bulan.

Dan yang lebih menakjubkan lagi, gol yang dipersembahkan oleh Ibrahimovic tak sedikit yang berbuah menjadi penentu kemenangan timnya. Ketika kebuntuan melanda The Red Devils, Ibra hadir sebagai sosok pemecah kebuntuan tersebut. Sama seperti yang terjadi dalam laga kontra Blackburn.

Khusus di Liga Primer Inggris, eks ujung tombak Juventus, AC Milan, Inter Milan, Barcelona dan Paris Saint Germain itu sudah mengoleksi 15 gol. Dari semua gol yang ia hasilkan itu sebagian menjadi penentu tiga poin bagi United, yang jika dijumlah telah mempersembahkan 11 poin bagi United. Koleksi gol Ibra setara dengan koleksi Diego Costa.

Ibrahimovic menjadi sosok penentu kemenangan dalam laga kontra Southampton, Crystal Palace dan West Brom lewat gol yang dia ciptakan. Sementara dalam laga kontra Wesh Ham United dan Liverpool, golnya sukses menyeimbangkan ketertinggalan United.

Itu belum dijumlahkan dengan dua golnya yang bersarang di gawang Swansea, dan satu lainnya ketika United berhadapan dengan Everton. Di Europe League pun, Ibra menjadi penentu kemenangan MU atas Zorya Luhansk (1-0) di leg kedua, seusai menciptakan gol di leg pertama (2-0). Dan satu lagi golnya di panggung Community Shield. Gol yang hadir pada menit 88 itu sukses mengantarkan The Red Devils menang 2-1 atas Leicester City.

Pada tanggal 23 Februari nanti MU akan kembali berhadapan dengan Saint Etienne pada leg kedua babak 16 besar Europe League. Para pendukung The Red Devils pun tak sabar untuk melihat sang ujung tombaknya beraksi dan mengantarkan MU ke babak selanjutnya.

Shaw Akan Sabar Menanti Hadirnya Peluang Merumput Bagi United

Liga Inggris – Sejak kepindahannya ke Manchester United, Jose Mourinho memang melakukan perubahan pada banyak sisi secara teknis ataupun non-teknis. Dari formasi permainan ia sudah jelas menanggalkan gaya bermain Louis Van Gaal dan menerapkan gaya bermainnya sendiri. Untuk sisi non-teknis, cara Mourinho melahirkan permainan terbaik dari para pemainnya bisa dikatakan jauh dari kata kuno.

Lihat saja Henrikh Mkhitaryan. Pemain sayap berkebangsaan Armenia tersebut sempat melakoni awal karir yang sukar di MU. Ia sempat tidak masuk skuat inti, bahkan juga tidak di bangku cadangan, untuk sejumlah laga. Mourinho pun mengungkapkan bahwa ia tidak mempunyai perkara dengan Mkhitaryan. Kini, setelah menerima ‘treatment’ dari Mourinho tersebut, Mkhitaryan berubah menjadi salah satu pemain vital untuk sektor depan United.

Terkini, ada nama Anthony Martial yang sepertinya mendapatkan hal yang sama seperti Mkhitaryan. Setelah pada awal musim nomor punggungnya ‘dibajak’ oleh Zlatan Ibrahimovic, Martial pun tidak kunjung masuk ke skuat inti Mourinho. Performa gemilangnya musim lalu pun seakan hanya menjadi memori belaka. Tapi, dalam sejumlah laga terakhir, Martial sedikit demi sedikit mulai mampu meraih hati Mourinho. Performa pemain berkebangsaan Perancis tersebut perlahan tapi pasti mulai menampilkan grafik yang menanjak.


Satu nama yang juga diberi pelayanan khusus oleh The Special One ini adalah Luke Shaw. Tapi, lain hal dengan dua rekannya di atas, Shaw terlihat kesulitan untuk membalas pelayanan Mourinho tersebut dengan baik. Dalam 10 pekan terakhir, Shaw hanya satu kali tampil untuk skuat inti pada laga FA Cup kontra Wigan Athletic di babak sebelumnya. Bahkan, pemain belakang belia Inggris it upun belum lagi merasakan tekanan Premier League sejak laga antara The red Devils dengan Burnley di bulan Oktober lalu.

Cedera mungkin sempat menghalangi perkembangan Shaw musim ini. Tapi, saat ini sudah lebih dari satu bulan sejak Shaw pulih dari cederanya dan masih tidak dipercaya oleh Mourinho. Padahal, bila melihat pasukan The red Devils, dibandingkan dengan Marcos Rojo atau Daley Blind yang sering diletakkan di posisinya, Shaw merupakan bek kiri yang lebih natural dari kedua sosok tersebut.

Perkembangan Shaw di MU mungkin sedikit terhalang, disamping karena cedera, juga karena kesulitan MU selama dikomandoi oleh Van Gaal. Selama dua setengah tahunnya di Old Trafford, Shaw baru mengantongi 42 penampilang di semua kompetisi. Tentu ini bukanlah yang diinginkan MU ketika mengeluarkan dana 28 juta pounds bagi sang pemain di musim panas 2014. Belum lagi celaan dari Mourinho yang kecewa atas performa Shaw pada laga kontra Watford. Mungkin inilah yang menjadi penghalang bagi Shaw sejauh ini.

Kendati demikian, menurut orang-orang yang dekat dengan sang punggawa tersebut, mereka mengungkapkan bahwa tidak ada masalah dengan Mourinho. Sang juru taktik pun nampaknya masih menganggap Shaw sebagai pemain yang cukup vital bagi MU. Luke hanya perlu bekerja keras dan bersabar. Ia menunjukkan semangatnya dan Mourinho mengatakan bahwa ia tidak memiliki masalah dengannya. Dengan pertandingan FA Cup yang menunggu mereka malam nanti, mungkin sudah waktunya bagi Mourinho kembali memberikan jam terbang pada Shaw untuk membuktikan bahwa ia layak menjadi Opsi utama di tim The Red Devils.