4 Eks Pemain Pujaan Para Juventini di Juventus

Serie A – Juventus tiap eranya, selalu mempunyai pemain yang menjadi favorit atau kesayangan para fansnya. Salah satunya adalah Gianluigi Buffon. Sejak dipinang dari Parma 16 tahun silam, Buffon selalu menjadi idola para fans Juventus. Kesetiaan kiper 39 tahun itu bersama Bianconeri, termasuk saat dilengserkan ke Serie B karena skandal Calciopoli pada 2006 silam, membuat para tifosi makin mencintai dan menghormatinya.

Selain Buffon, saat ini La Vecchia Signora masih mempunyai beberapa pemain lain yang juga diidolakan pendukung mereka. Sebut saja Paulo Dybala dan Mario Mandzukic. Para tifosi akan bertanya-tanya bila dua pemain ini tidak merumput. Jika kita melihat mundur ke belakang, tentu masih banyak tokoh yang pernah menjadi idola kesebelasan asal Turin itu. Berikut lima eks punggawa Nyonya Tua yang sempat menjadi idola tifosi:

1. Pavel Nedved


Pavel Nedved sempat menjadi pemain kesayangan baik oleh manajemen maupun tifosi Juventus di tahun 2001 hingga 2009. Ketika itu ia dipinang dari Lazio dengan mahar 41,2 juta euro. Hal itu boleh dikatakan wajar. Sebab, kemunculan Nedved di lapangan membuat daya gedor La Vecchia Signora menjadi semakin mematikan. Selain mampu menyuplai umpan matang bagi striker, mantan kapten Timnas Repulik Ceko itu juga mempunyai kepabilitas melepaskan tendangan keras dan akurat.

Selama delapan musim berseragam Juventus, Nedved telah berlaga di 327 pertandingan, mencatatkan 65 gol, dan 34 assist. Seusai gantung sepatu, Nedved pun tak pergi dari Juventus Stadium. Ia tergabung dalam manajemen Bianconeri, dan kini menjabat sebagai Wakil Presiden Juventus.

2. Zinedine Zidane


Pemain selanjutnya yang pernah begitu dipuja oleh Juventini ialah Zinedine Zidane. Ya, meski lebih dikenal sebagai pemain andalan Real Madrid, ia pernah merasakan menjadi pujaan di Turin, tepatnya pada Juli 1996 sampai Agustus 2001. Tak aneh bila kemudian eks playmaker Timnas Prancis ini menjadi pemain termahal di dunia ketika dibeli Madrid masa itu, yakni 73,5 juta euro.

Selama berseragam Juventus, Zizou berlaga sebanyak 208 kali, dan membukukan 31 gol dan 33 assist. Hingga saat ini, Zidane pun masih menjadi pujaan para Juventini. Ia juga masih berhubungan baik dengan deretan petinggi La Vecchia Signora. Beberapa kali kedua kesebelasan bernegosiasi lewat perantara Zidane.

3. Andrea pirlo


Selanjutnya adalah Andrea Pirlo. Pemain yang kini merumput di Major League Soccer bersama New York City itu sempat menjadi fondasi vital sekaligus idola para pendukung di Turin selama empat musim, tepatnya pada 2011-2015. Para tifosi Juventus selalu menghendaki Pirlo dimainkan, terutama untuk laga-laga krusial. Eksekusi tendangan bola mati yang dilakukan Pirlo adalah satu momen vital yang selalu dinanti oleh para Juventini.

Meski terbentang oleh jarak, hubungan antara Pirlo dan Juventus ternyata belum usai. Belakangan ini, La Vecchia Signora mengumumkan akan mendaulat pria 37 tahun itu sebagai brand ambassador mereka ketika ia gantung sepatu nanti.

4. Alessandro Del piero


Jika ada perdebatan mengenai pemain yang paling setia bersama Juventus selain Gianluigi Buffon, maka jawabannya bisa dituliskan dengan nama Alessandro Del Piero. Ya, juru gedor yang selalu memeletkan lidahnya tiap kali menjebol gawang lawan itu telah memperkuat Bianconeri selama 19 tahun. Angka itu bahkan melewati durasi masa bakti Buffon yag tercatat 16 tahun. Total, selama 19 tahun itu, Alex (panggilan akrab Del Piero) membukukan 188 gol dan 39 assist pada 478 laga bersama La Vecchia Signora.

Keputusan manajemen Juventus untuk tidak memperpanjang kontraknya dan melegonya ke Sidney FC pada 2012 sempat membuat para Juventini kesal. Tifosi menganggap manajemen Bianconeri begitu dingin memperlakukan Del Piero yang telah banyak berjasa bagi klub asal Turin tersebut. Cinta para tifosi Juventus pada Del Piero dianggap wajar. Karena, selain loyal, ia merupakan pemain yang sangat atraktif di lapangan dengan kepiawaian dan teknik tinggi yang dipunyainya. “Pertunjukan” paling khas dari Del Piero adalah caranya mengeksekusi tendangan titik putih yang dinilai terlalu tenang.

3 Kiper Kawakan Asal Italia Yang Masih Aktif Berkiprah

Serie A – Pesepakbola pada umumnya telah mempertimbangkan untuk gantung sepatu ketika usianya menyentuh angka 30-an. Tapi lain hal dengan mereka yang berposisi sebagai kiper. Kebanyakan, kiper malah kian matang mengawal gawang kala umurnya memasuki kepala tiga. Pengalaman membuat mereka semakin paham bagaimana menghadapi segala ragam keadaan di depan gawangnya, mulai dari saat terjadi ketegangan ketika berhadapan satu lawan satu dengan juru gedor lawan, hingga bagaimana menghalau eksekusi tendangan titik putih.

Seringkali karena masih menikmati profesi sebagai penjaga gawang, mereka baru gantung sepatu sewaktu usianya sudah menyentuh kepala empat. Dida dan Van Der Sar adalah dua contohnya. Di Liga Italia Serie A, penjaga gawang yang telah terbilang tua itu pun masih sering dijumpai. Bahkan, ada pula yang masih menjadi tumpuan di kesebelasannya hingga kini. Berikut tiga di antaranya :

1. Marco Storari (40 tahun)


Marco Storari baru saja dipulangkan oleh I Rossoneri dari Cagliari pada jendela transfer musim dingin lalu. Namun, bukan untuk diposisikan menjadi penjaga gawang utama, tetapi untuk membagikan pengalamannya dengan penjaga gawang belia Milan, termasuk Gianluigi Donnarumma. Storari memang memiliki banyak pengalaman. Sepanjang kiprahnya, ia telah berpetualang ke berbagai kesebelasan, di antaranya Juventus, Fiorentina, Sampdoria, Levante, dan Cagliari. Walau seringkali dijadikan penjaga gawang cadangan, Milan menilai Storari punya cukup banyak pengalaman untuk diberikan.

Sebelum pulang ke San Siro, Storari sendiri merupakan tumpuan bagi Cagliari. Musim ini terhitung ia telah merumput sebanyak 16 kali di semua ajang kompetisi. Sejak pulang ke Milan, ia belum sekalipun dimainkan. Masa baktinya di San Siro pun terbilang sebentar, yakni hanya hingga akhir musim ini. Di saat itu, Storari berpeluang untuk pensiun.

2. Maurizio Pugliesi (40 tahun)


Pugliesi mungkin tak terlalu tenar. Sebab penjaga gawang 40 tahun ini lebih sering berkiprah di kejuaraan kelas kedua dan ketiga. Pugliesi akhirnya berlaga di Serie A usai dipinang Empoli tahun 2014 lalu dengan status bebas transfer selepas empat tahun menganggur. Bahkan, uniknya, ia menjalani debut perdananya di kejuaraan kasta tertinggi Italia ketika telah berusia 39 tahun.

Kala itu, Pugliesi merumput sebagai starter ketika Empoli bertautan dengan Torino di laga terakhir musim 2015/2016. Ia pun sukses mengantar Empoli menang dengan perolehan 2-1. Tapi, laga perdananya itu rupanya tak berlanjut. Musim ini, ia belum pernah sekalipun dimainkan. Ia hanya menjadi kiper ketiga di bawah sosok Lukasz Skorupski dan Alberto Pelagotti. Menilai sisa kontraknya yang akan habis musim panas nanti, kecil harapan Pugliesi akan sering merumput di Serie A.

3. Gianluigi Buffon (38 Tahun)


Nama Buffon barangkali sudah melekat dalam dunia sepakbola, terutama di Italia dan Juventus. Di tim nasional Italia saja, sejak World Cup 2002 hingga saat ini, ia tak tergantikan oleh kiper Azzurri lainnya. Di Bianconeri pun lebih-lebih. Dari musim ke musim sejak ia dipinang dari Parma 16 tahun lalu, ia tetap menjadi kiper utama La Vecchia Signoa.

Buffon baru saja menginjak usia 39 pada 28 Januari lalu. Tapi, hingga saat ini, kapten Juventus dan tim nasional Azzurri itu masih tetap gesit dalam memperhitungkan arah bola. Ditemani Leonardo Bonucci, Buffon masuk dalam Tim UEFA 2016.

Selama 16 tahun berkostum Bianconeri, Buffon telah menghadiahkan 7 titel Scudetto dan dua trofi Coppa Italia. Sebelum gantung sepatu, ia berambisi merajai Liga Champions yang belum pernah didapatnya selama kiprahnya menjadi penjaga gawang. Kabarnya, Buffon akan gantung sepatu usai Piala Dunia 2018.

3 Juru Racik Muda Yang Kinerjanya Terbilang Impresif

Serie A – Banyak pesepakbola yang selepas gantung sepatu terjun ke dunia kepelatihan. Tapi, menjadi seorang juru taktik faktanya bukan perkara mudah. Banyaknya pengalaman yang diperoleh selama menjadi pemain tak menjamin kesuksesan dalam menukangi sebuah kesebelasan. Pep Guardiola, Antonio Conte, dan Carlo Ancelotti memang termasuk segelintir pengecualian. Dalam usia masih 40-an, mereka sanggup mempersembahkan gelar juara bagi kesebelasan yang mereka tukangi.

Faktanya, tokoh layaknya mereka hanya sedikit. Pada umumnya juru taktik muda sering mengalami hambatan di awal kiprahnya. Seperti Ivan Juric di Genoa. Hari Minggu yang lalu (10 Februari), juru taktik berumur 41 tahun itu dibebas tugaskan oleh Genoa. Rentetan hasil negatif menjadi alasannya. Puncaknya adalah kekalahan 0-5 dari kesebelasan zona degradasi, Pescara. Ia pun digantikan Andrea Mandorlini, yang dikontrak hingga Juni 2018.

Hal sejenis pun sebelumnya terjadi pada Massimo Oddo di Pescara. Ia dibebas tugaskan pada 15 Februari lalu dan posisinya diambil alih oleh Zdenek Zeman. Alasan Kejatuhannya pun wajar. Dari 24 laga di Serie A musim ini, Delfino menderita 17 kekalahan, 6 kali imbang, dan hanya sekali menang. Disamping Ivan Juric dan Oddo, masih ada sejumlah juru taktik muda di Serie A yang sedang berupaya meniti karir kepelatihan musim ini. Berikut tiga di antaranya :

1. Simone Inzaghi


Bisa dibilang, Simone Inzaghi adalah juru taktik termuda di Serie A saat ini. Umurnya 40 tahun. Umumnya juru racik di Serie A berumur 55-57 tahun. Simone Inzaghi meniti kariernya mulai dari kesebelasan junior Lazio pada Juni 2010 sampai April 2016. Ia kemudian diajak untuk menukangi Lazio senior mulai Juli 2016.

Kepelatihan Inzaghi di Le Aquille sejauh ini bisa dikatakan lumayan. Torehannya sedikit lebih bagus ketimbang kakaknya, Filippo Inzaghi. Ia sanggup membuat Lazio berkompetisi dengan klub besar seperti AC Milan dan Inter Milan untuk beradu mendapat tiket Liga Eropa. Inzaghi harus berupaya demi mempertahankan jabatannya di Lazio.

2. Vincenzo Montella


Montella memulai kiprahnya di AS Roma pada tahun 2011. Ia menjadi pelatih AS Roma dalam waktu empat bulan, yakni Februari sampai Juni 2011. Setelahnya, ia mengkomandoi Catania, Fiorentina, dan Sampdoria secara beruntun.

Kemudian, pada Juni 2016, Montella dinobatkan menjadi juru taktik AC Milan. Ia disuguhkan kontrak hingga Juni 2018. Sejauh ini, hasil torehan Milan masih jauh dari kata baik. Selaku kesebelasan top, Milan masih terpincang-pincang untuk beradu memperebutkan tiket Liga Eropa. I Rossoneri sejauh ini masih menghuni peringkat ke-7 klasemen, tertinggal 4 angka dari peringkat keempat, Inter Milan, serta tertinggal 10 angka dari peringkat ketiga, Napoli.

3. Paulo Sousa


Dibanding tiga nama yang telah dibahas di atas, Paulo Sousa memang sudah membuktikan kesuksesannya. Sebelum menahkodai Fiorentina, ia telah melatih sejumlah kesebelasan di liga-liga yang berbeda. Ia juga sanggup menghadiahkan gelar untuk kesebelasan-kesebelasan yang ia komandoi.

Untuk Videoton, kesebelasan asal Hungaria, ia menghadiahkan trofi Liga Kupa dan Szuperkupa. Kemudian untuk kesebelasan Israel, Maccabi Tel Aviv, ia menuntun klub itu menjuarai Israeli Premier League. Lalu, di Basel ia hadiahkan trofi Swiss Super League musim 2014/2015.

Berjaya di liga-liga “kasta kedua”, Sousa masih harus menunjukkan kapasitas dirinya di liga “kasta tertinggi”. Ia dinobatkan sebagai pelatih Fiorentina sejak 21 Juni 2015, Sousa sejauh ini cukup memuaskan fans La Viola. Akhir-akhir ini, ia pun dihubungkan dengan La Vecchia Signora. Ia termasuk salah satu calon suksesor Massimiliano Allegri yang diisukan akan hijrah ke Arsenal.

Nerazzurri Akan Berupaya Keras Mendaratkan 3 Punggawa Belia Ini

Serie A – Walau perlu beradu dengan dua kesebelasan raksasa asal Inggris, Inter Milan pantang menyerah untuk memburu sasarannya. Bukan cuma itu, sasaran La Beneamata merupakan tiga punggawa yang terbilang masih belia. Ketiganya adalah Domenico Berardi, Federico Bernardeschi, dan Andrea Belotti.

Rencana perekrutan pemain baru tak lepas dari ambisi Suning Group untuk mengembalikan kejayaan Inter, bukan cuma di kompetisi kancah domestik tapi juga di kancah Eropa. Suning Group merupakan investor baru La Beneamata yang berasal dari China.

Ada pula legenda yang sekaligus merupakan salah satu pejabat tinggi di Inter yang memaparkan terkait tiga pemain yang akan segera direkrut ke Giuseppe Meazza, yakni Javier Zanetti. Bisa dikatakan, Zanetti adalah tokoh vital di balik mimpi besar La Beneamata. Ia pun mengakui menyukai gaya permainan ketiga pemain belia itu.


Baik Domenico Berardi, Federico Bernardeschi, ataupun Andrea Belotti, bisa dikatakan masih cukup muda. Ketiganya merupakan keturunan asli negeri Spaghetti. Domenico Berardi masih berusia 22 tahun, dan saat ini masih terhitung sebagai anggota klub Sassuolo. Dia menempati posisi lini depan sebagai penyerang. Federico Bernardeschi, pemain sayap milik Fiorentina yang kini berusia 23 tahun. Sedangkan Andrea Belotti berusia 23 tahun merupakan penyerang dari Torino.

Menurut pendapat Zanetti, Pasukan yang dikepalai oleh Stefano Pioli memang menaruh fokusnya pada punggawa yang masih belia yang berkebangsaan Italia. Bukan berarti mereka memojokkan pemain asing. Kalau pun ada pemain asing yang memperkuat Inter, itu bukan kendala bagi klub, mereka akan dengan senang hati menyambutnya. Yang pasti, pemain belia asal Italia adalah fokus utamanya.

Mendapatkan tiga punggawa yang masih belia sekaligus jelas tak semudah membalikkan telapak tangan. Selain bujukan, dana yang tidak sedikit pun sangat menentukan. Demi mewujudkan tujuan, Suning Group diberitakan telah menyediakan anggaran yang diminta oleh pihak manajemen.

Inter pun dilanda perasaan was-was. Pasalnya, kesebelasan raksasa dari Liga Primer Inggris, seperti Manchester United dan Chelsea juga menjadikan target La Beneamata sebagai bidikan. Bukan merupakan rahasia publik lagi, Andrea Belotti merupakan target utama The Red Devils. Di bawah arahan Jose Mourinho, MU masih memiliki kekurangan di lini penyerangan. Andrea Belotti diharapkan bisa menjawab ekspektasi dari MU, mengingat striker kelahiran 20 Desember 1993 sedang dalam penampilan terbaiknya.

Selain itu, Domenico Berardi dan Federico Bernardeschi masuk dalam daftar belanja The Blues. Antonio Conte, sang juru taktik Chelsea, yang sebelumnya melatih Juventus dan tim nasional Italia juga tertarik mendatangkan keduanya ke Stamford Bridge. Chelsea pun dikabarkan sudah lama memasukkan kedua pemain itu ke dalam daftar belanjanya dan kali ini, dengan campur tangan Conte, transfer itu diharapkan bisa segera terealisasikan.

Duel Napoli Vs Atalanta Dengan Taruhan Tiket Champions League

Serie A – Salah satu laga yang akan menghiasi giornata akhir pekan ini di Serie A adalah pertarungan antara Napoli dan Atalanta. Memang, pertemuan kedua kubu ini mungkin akan tertutupi dengan laga antara Internazionale dan AS Roma yang sudah jelas akan menarik perhatian dunia. Tapi, jika menilai performa kedua kubu musim ini, laga antara Napoli dan Atalanta merupakan salah satu suguhan yang tidak bisa dilewatkan.


Bila mengamati sejarah sepakbola Italia, kedua kubu ini memang tidak lepas dari predikat kesebelasan papan tengah. Napoli mungkin pernah meraih masa kejayaan mereka kala Diego Maradona mempersembahkan dua Scudetto ke Naples. Kemudia, Partenopei lebih banyak berpredikat sebagai tim yang tidak diunggulkan. Setidaknya mereka mungkin masih lebih baik dari La Dea, dimana trofi terakhir mereka adalah Coppa Italia tahun 1960an.

Musim ini, kedua kesebelasan ini pun berubah menjadi kompetitor untuk mendapat tiketk Liga Champions musim depan. Napoli mungkin telah membuktikannya sejak beberapa musim belakangan. Bahkan, musim ini mungkin mereka sudah bisa dikatakan sebagai kompetitor untuk Scudetto. Meskipun ditinggal oleh pemain top mereka, Gonzalo Higuain, pada musim panas lalu, Partenopei justru semakin sangar saat ini.

Hanya satu kali menelan kekalahan di Serie A sejak bulan Oktober, Partenopei juga kini memiliki jagoan baru di sektor depan. Trisula Mertens, Lorenzo Insigne dan Jose Callejon di sektor depan seolah tak memiliki hambatan besar untuk meneror gawang lawan. Satu rapor gemilang lain dari Napoli adalah pemain pengganti mereka juga sering membawa imbas positif. Sejauh ini, pemain pelapis Napoli sudah mengantongikan tujuh gol, paling banyak ketimbang tim Serie A lainnya.

Sementara itu, lima laga tak terkalahkan saat ini membuat La Dea hanya terpaut jarak enam poin dengan zona Liga Champions. Pasukan yang ditukangi Gian Piero Gasperini pun kini membukukan 19 poin lebih banyak dari musim lalu pada tempo yang sama. Tentu ini membuktikan bahwa skuat muda La Dea, meski telah ditinggal Roberto Gagliardini pada Januari silam, mereka tetap kompak dan sanggup untuk konsisten menghuni papan atas.

Pada pertautan pertama musim ini, gol semata wayang Andrea Petagna sukses mempersembahkan Atalanta tiga poin. Bukan Cuma itu, kemenangan tersebut pun merupakan kemenangan pertama La Dea atas Partenopei sejak Februari 2014. Dengan statistik kemenangan, 13 berbanding 10 untuk keunggulan Atalanta, tentu laga ini akan menjadi salah satu yang tidak boleh dilewatkan pada akhir pekan ini.

Saat ini Partenopei sedang menghuni peringkat ke-3 klasemen Serie A dengan torehan 54 poin dari 25 laga, sedangkan La Dea sendiri tengah menghuni peringkat ke-6 dengan torehan 48 poin dari 25 laga. Duel ini akan sangat penting bagi kedua kubu untuk tetap menjaga kans meraih tiket menuju zona Eropa musim depan.