Meski Tanpa Kane, The Lilywhites Tidak Merasa Cemas

Liga Inggris – Kehilangan pemain yang menjadi pilar utama jelang periode krusial musim adalah hal yang tentu tidak diinginkan oleh kesebelasan manapun. Terlebih, pemain yang harus absen itu adalah striker yang berposisi sebagai ujung tombak serangan bagi skuat mereka. Itulah yang sedang dialami oleh Tottenham Hotspur kini. Cedera yang menerpa Harry Kane pada akhir pekan lalu ketika berjumpa Milwall mengakibatkan juru gedor asal Inggris itu sepertinya harus menepi cukup lama dari skuat inti Spurs.


Laga pertama mereka selepas Kane diterpa cedera ini adalah menghadapi Southampton. Memang, The Saints kini sedang berupaya keras untuk menghindari zona degradasi. Tapi, jelang akhir musim, kesebelasan-kesebelasan yang bernasib seperti Southampton ini umumnya justru bermain lebih buas.

Dan, jangan lupakan kenyataan bahwa Southampton adalah kesebelasan terakhir yang menang di White Hart Lane pada Mei 2016. Tentu, akhir pekan ini dapat menjadi ujian yang cukup rumit bagi skuat Mauricio Pochettino tanpa adanya Kane di dalam skuat.

Tapi, setelah melewati dinding Southampton, bisa dibilang jadwal Spurs sedikit melunak. Usai istirahat dari kancah internasional pekan depan, Spurs akan melawan Burnley, Swansea, Watford, dan Bournemouth. Ditambah penjadwalan ulang laga kontra Crystal Palace yang ditangguhkan karena FA Cup. Termasuk Southampton, lawan yang akan dijumpai oleh Spurs adalah tim yang menghuni peringkat 10 atau dibawahnya. Tentu, jadwal ini seolah membuat waktu istirahat Kane muncul di momen yang tepat.

Disamping jadwal, Pochettino pun mempunyai pertimbangan lain untuk tidak cemas dengan absennya Kane. Lini serang Spurs lambat laun mulai kembali memperlihatkan ketajaman mereka. Di laga kontra Milwall, Heung-min Son dan Christian Eriksen sama-sama membuktikan ketajaman mereka dalam mengantarkan The Lilywhites memetik kemenangan.

Son berhasil membukukan hattrick pada laga itu, juga Eriksen dan Dele Alli yang juga menyumbangkan gol. Dalam lima laga terakhir pun, Spurs memenangkan empat diantaranya dan satu imbang serta mencatatkan 18 gol dan hanya kecolongan lima gol. Tentu ini menjadi alasan lainnya Pochettino tidak merasa frustasi akan absennya Kane.

Waktu untuk beristirahat memang dibutuhkan oleh Kane. Ini adalah cedera kedua bagi Kane setelah pada September ia juga pernah diterpa cedera. Kane pun patutnya mendapatkan waktu istirahat lebih mengingat andilnya yang sudah cukup banyak bagi tim sejauh ini.

Dan, seperti cedera pertamanya musim ini, Kane pun tidak memperlihatkan sama sekali gelagat bahwa ia sempat didera cedera karena sekembalinya ia ke lapangan, Kane sudah kembali membubuhkan namanya di papan skor.

Dengan waktu cedera yang diperkirakan paling lama enam pekan, maka Kane berpotensi baru akan kembali merumput pada akhir April. Kembalinya Kane pun bersamaan dengan jadwal berat yang telah menunggu Spurs, menghadapi Chelsea di putaran semi final FA Cup serta Manchester United dan Arsenal di Liga Primer Inggris.

Kualitas Ibrahimovic Tak Pernah Sekalipun Mengecewakan Mou

EFL Cup – Ketika perolehan skor masih berimbang 2-2. Rasa was-was dan gusar melanda kedua kubu baik Manchester United maupun Southampton sama-sama menginginkan kemenangan. Kedua juru taktik di kubu yang berlawanan pun tampak resah di pinggir lapangan. Tapi peruntungan baik berpihak kepada Setan Merah.


Zlatan Ibrahimovic memantapkan kemenangan bagi Setan Merah, usai pemain berkebangsaan Swedia itu sukses menuntaskan sebuah peluang yang menjadikan skor akhir berubah 3-2. Ibrahimovic, dengan akurasi yang terukur tentu saja tak menyia-nyiakan operan lambung Ander Herrera dari sisi kanan. Eks bomber Paris Saint Germain (PSG) menumbangkan Fraser Forster, kiper Southampton, melalui sundulan mematikan tiga menit jelang waktu normal selesai.

Dan tak lama setelahnya, Andre Marriner, hakim lapangan yang memandu jalannya pertarungan, meniupkan peluit panjang tanda selesainya laga. Begitulah, armada yang dikomandoi Jose Mourinho memenangkan partai puncak EFL Cup. Wembley Stadium menjadi saksi keperkasaan The Red Devils di kejuaraan ini. Ini merupakan hasil vital musim ini, mengingat MU agak kalang kabut di Liga Primer Inggris, kejuaraan paling bergengsi di Britania.

Dengan mengoleksi 48 poin, The Red Devils belum juga bergeser dari urutan keenam papan klasemen sementara. Tertinggal cukup jauh dari Chelsea, sang pemuncak klasemen, yang telah mengoleksi 63 poin. Tepikan dahulu perihal Liga Primer inggris, persaingan yang sangat ketat itu. MU sedang bersuka cita, menanggapi kemenangan mereka di Wembley. Ini adalah titel kelima. Sebelumnya, musim 1991/1992, 2005/2006, 2008/2009, dan 2009/2010, MU juga naik ke panggung kehormatan. Ibrahimovic memang pantas disebut sebagai pahlawan.

Bomber kawakan tersebut, di menit ke-18 membuka keunggulan bagi The Red Devils 1-0. Gairah pasukan arahan Mourinho semakin menggelora. Menit 38, Jesse Lingard menggandakan keunggulan menjadi 2-0. Namun, Southampton pun pantang menyerah. The Saints, bagaikan pejuang di medan pertempuran, berjuang tanpa lelah. Hasilnya impresif. Dua gol balasan berhasil dikemas, menit 45 dan 48. Dua gol dicuri oleh Manolo Gabbiadini dan dia hanya perlu waktu kurang dari tiga menit.

Bukan hanya kali ini Ibrahimovic tampil gemilang. Pada laga-laga sebelumnya, pemain yang berusia 35 tahun ini banjir pujian karena gol atau assist yang dia ciptakan. Tak ayal jika Mourinho begitu mengharapkan Ibrahimovic, kapan dan di mana pun timnya tampil. Dengan kata lain, Ibrahimovic adalah jawaban utama di sektor serangan The Red Devils.

Jika Mourinho pada akhirnya memuji Ibrahimovic setinggi langit, itu sesuatu yang biasa. Bukan hal yang berlebihan atau opera semata. Mourinho bahkan dengan percaya diri menimbang antara Ibrahimovic dengan Paul Pogba, pemain termahal di dunia. Pogba mungkin berada di tingkat yang setara, namun Ibrahimovic sangat spesial menurut Mourinho.

Claude Puel, juru taktik Southampton, tak ketinggalan melontarkan pujian. Ia telah lama mengenalnya semenjak di Ligue 1 Perancis. Menurut Puel, Ibra merupakan seseorang yang sangat percaya diri dan berjiwa pemimpin. Meski dia hadir ke sini di usianya yang telah menginjak 35 tahun, namun ia selalu berusaha untuk melakukan hal-hal yang impresif.

Highlights Final EFL Cup Manchester United Vs Southampton 2017

Beberapa Pemikiran Yang Patut Dievaluasi Mourinho Demi Keberhasilan MU

EFL Cup – Di partai puncak EFL Cup menghadapi Southampton, Jose Mourinho sepertinya harus mengambil sejumlah langkah vital. Cedera yang melanda Henrikh Mkhitaryan dan Michael Carrick di leg ke-2 babak 32 besar Liga Eropa membuat juru taktik berkebangsaan Portugal itu harus menentukan pilihan tepat demi menyabet trofi pertamanya bagi Manchester United.


Sejauh ini, kedua pemain itu memang masih dalam proses uji fisik, yang artinya masih ada harapan bagi keduanya untuk bisa ikut serta dalam laga kontra The Saints. Tapinya, dengan hanya selang empat hari, tentu itu merupakan resiko yang cukup besar. Menurut Mourinho, inilah hasil dari banyaknya laga. Sejumlah pemain memiliki resiko seperti itu tapi di lain pihak itu bisa menjadi peluang bagi pemain lain.

Baik Mkhitaryan maupun Carrick merupakan sosok yang bisa dikatakan vital bagi klub asal manchester itu. Sempat terdepak dari skuat int, Mkhitaryan sedikit demi sedikit menjelma menjadi tokoh yang tidak tergantikan di skuat inti The Red Devils. Ia bisa diperankan sebagai pemain sayap maupun bermain tepat di belakang striker utama, kefleksibelan Mkhitaryan menjadi salah satu jurus pamungkas yang diandalkan pemain berpaspor Armenia tersebut.

Sesungguhnya, The Special One tidak kekurangan pilihan pada pos yang biasa diisi oleh Mkhitaryan. Nama Anthony Martial tentu bisa menjadi salah satu alternatif yang cukup masuk akal. DItambah, Wembley menjadi tempat yang cocok bagi Martial dimana musim lalu golnya pada semi final FA Cup memantapkan The Red Devils lolos ke putaran final dan bahkan menjuarainya. Selain itu, Mou juga memiliki Marcus Rashford yang musim ini cukup sering ia tugaskan pada posisi yang lebih melebar.

Ketidakhadiran Carrick mungkin akan sedikit menenangkan dengan semakin apiknya pasangan Paul Pogba dan Ander Herrera. Walaupun peran Carrick adalah sebagai jangkar sementara dua rekannya itu bisa berfokus untuk mendobrak dinding pertahanan lawan. Memang beban itu terdengar tidak mudah, tapi dengan potensi Pogba atau bahkan Herrera untuk bermain di posisi yang lebih dalam. Walaupun sedikit menahan permainan mereka, tentu hal ini bisa menjadi pilihan yang wajib diperhitungkan oleh Mourinho.

Kendala MU hanya satu, yaitu siapa yang akan menempati posisi lainnya di sektor tengah. Alternatif yang dimiliki Mourinho di sektor tengah memang bisa dikatakan terbatas. Kini ia hanya mempunyai Schweinsteiger dan Fellaini yang tersedia. Memang, ia juga bisa menarik mundur Juan Mata sedikit ke tengah dan menugaskan Jesse Lingard sebagai pemain sayap. Tapinya, tentu Mata sudah lebih mahir berperan sebagai winger. Menurunkan Fellaini pun sepertinya menjadi taruhan yang lebih aman ketimbang memaksakan Schweinsteiger.

Dua hambatan di atas hanyalah satu dari banyaknya hal yang harus dilalui sang juru racik MU. Salah satu kendala lainnya tentu adalah sosok Rooney dalam laga nanti. Selaku kapten Setan Merah, tentu Rooney ingin turut berpartisipasi dalam babak final dan mengangkat tropi di akhir laga. Tapi, menilik rapor The Red Devils yang mampu memetik kemenangan tanpa sang kapten di lapangan, mungkin peran Rooney adalah menyaksikan laga dari bangku cadangan saja.