Andalkan Inovasi Unik, Pasutri Ini Sukses Berbisnis Bakso Rusuk

Harus diakui bahwa dalam menjalankan bisnis kuliner, dibutuhkan inovasi yang unik dan menarik guna menarik minat konsumennya. Seperti halnya yang dilakukan pasangan Isa Juarsa dan Qorina Firkiana yang menggeluti usaha Bakso Rusuk yang berlokasi di jalan Mutiara Gading Timur, Bekasi.

Bisnis bakso yang dirintis oleh pasangan suami istri ini dimulai sejak bulan Oktober 2015 lalu dengan tingkat penjualan yang pasang surut. “Ketika baru buka, pengunjungnya ramai, lalu sepi lagi dan pendapatan pun jadi turun. Besar kemungkinan karena perekonomian negara sedang memburuk. Tapi kami mempunyai prinsip dalam berbisnis, yakni inovasi atau mati,” beber Isa.

Inovasi yang direalisasikan untuk mengembangkan usaha bakso ini adalah mengadakan kegiatan Jumat sedekah yang dilakukan setiap hari jumat selama 3 bulan. Omzet penjualannya pun disumbangkan kepada warga Palestina yang pada saat itu sedang mengalami masalah. Ada juga kegiatan sedekah selasa yang diperuntukan bagi anak yatim.

Mengakhiri tahun 2016, Isa dan istrinya pun kembali menciptakan inovasi. Mereka membuat bakso mangkok berukuran besar dan diisi dengan mie serta kuahnya. Ada pula bakso beranak, dimana bakso mangkok tersebut diisi dengan beberapa bakso, mie dan juga tahu. Kemudian ada juga bakso jumbo yang dalam satu mangkok diisi dengan bakso berukuran besar.

Setelah inovasi ini berjalan selama dua bulan, dalam dua bulan berikutnya Isa dan sang istri berencana untuk menciptakan inovasi kembali dengan menghadirkan bakso cinta terlarang, dimana baksonya dibuat dengan warna hitam, yang saat ini tengah popular di kalangan masyarakat.

Kini, Isa dan istrinya juga telah mempersiapkan inovasi lainnya yang bakal direalisasikan pada 3 sampai 6 bulan kedepan. Menurut Isa, inovasi adalah hal terpenting dalam bisnis yang mampu menjadikan bisnis baksonya semakin unik, sehingga dapat diminati banyak konsumen.

Sementara untuk harganya sendiri, Bakso Rusuk menawarkan satu porsi baksonya dengan harga Rp 30 ribu untuk bakso jumbonya. Sedangkan bakso beranak dibanderol seharga Rp 50 ribu per porsi dan bakso uratnya ditawarkan dengan harga Rp 16 ribu serta bakso standarnya dibanderol Rp 12 ribu per porsinya.

Menurutnya, omzet yang didapatkan di hari libur lebih besar apabila dibandingkan dengan hari biasa. “Perolehan omzet di hari Sabtu dan Minggu bisa mencapai Rp 12 juta hingga Rp 16 juta. Tapi kalau di hari biasa biasanya hanya dibawah Rp 10 juta saja. Apalagi di pertengahan bulan, omzetnya bisa turun dibawah Rp 7 juta. Di awal bulan meningkat lagi,” imbuhnya.

Modal bisnis bakso ini awalnya adalah sekitar Rp 130 juta. Setelah melihat respon dan minat dari para pembelinya, Isa dan sang istri mulai berinovasi. Menurutnya, karakter konsumen di daerah Bekasi adalah mereka lebih senang mendapatkan makanan yang banyak, enak, dan juga murah.

Kini, bisnis baksonya sudah didirikan di Mutiara Gading Timur Blok J dan jalan Mutiara Gading Timur Blok G. Ke depannya, Isa dan istrinya berencana untuk membuka cabang barunya di Jakarta dengan melihat karakter para konsumennya yang mencari kuliner enak, murah, dan unik.

“Saat ini saya sedang belajar bagaimana membuat legalitas dan SOP. Sebenarnya, bisnis kuliner yang baik adalah menu makanannya bisa diduplikasi dengan mudah. Tidak hanya bisa satu orang saja yang bisa meraciknya,” tuturnya.

Apabila tidak seperti itu, menurut Isa usahanya tidak akan bisa berkembang dan bakal kesulitan ketika membuka cabang baru. “Meski begitu, tentunya setiap usaha tetap memiliki rahasia dalam meracik menu sehingga memiliki cita rasa yang berbeda dengan bisnis lainnya yang serupa,” pungkasnya.

Menilik Kisah Suksesnya Pebisnis Bakso Hitam Chok Judes

Miliki pengalaman yang pahit dan kelam, menjadikan pelajaran yang berharga bagi pria bernama Sigit Prihanto yang kini memutuskan untuk bangkit dengan menggeluti bisnis kuliner usai melakoni sebuah pelatihan Pahlawan Ekonomi yang diselenggarakan di Surabaya.

Pria berusia 37 tahun itu sebelumnya terjaring dalam dunia narkoba yang menjadikannya terpuruk pada saat itu. Namun kini, Sigit merasa bersyukur karena bisa kembali bangkit dan memutuskan untuk pindah ke Sulawesi dengan meninggalkan sanak keluarganya tanpa adanya alasan.

Ketika tinggal di Sulawesi, tepatnya pada tahun 1998, Sigit berprofesi sebagai penjaga hutan lindung di sebuah LSM. Pada saat itu, salah satu rekannya memberikan pinjaman uang kepadanya sebesar Rp 5 juta. Kemudian uang tersebut dipergunakannya untuk merintis usaha martabak.

Tak hanya itu, disana pun Sigit mendapatkan pembelajaran bagaimana caranya untuk membuat bakso. Merasa dirinya sudah sukses, akhirnya Sigit memutuskan untuk hijrah ke Malaysia sebagai penjual bakso, tepatnya di tahun 2008. Berbeda dengan di Indonesia yang bahan dasar pembuatan baksonya dibuat dari daging sapi, Sigit menjual bakso di Negeri Jiran tersebut dengan menggunakan daging kijang.

Di tahun 2010, Sigit memutuskan untuk pulang kekediamannya di Tanah Air lantaran tak kuasa menahan kerinduannya dengan pihak keluarganya. Sigit pun kembali menggeluti bisnis bakso yang dinamainya bakso chok judes (coklat, keju, pedes).

bisnis-bakso-hitam

Pada saat itu, Sigit berkenalan dengan seorang wanita bernama Erika, yang berprofesi sebagai petugas Linmas Surabaya dan diajaknyalah ia mengikuti sebuah bazar Pahlawan Ekonomi, tepatnya di tahun 2015. Karena bisnis bakso buatan Sigit dinilai punya karakteristik yang unik dan cita rasa yang berbeda dari usaha bakso lainnya, kemudian Sigit diminta untuk mengikuti sebuah pelatihan bertajuk Pahlawan Ekonomi, yang berlokasi di Kaza City Surabaya.

Sejak mengikuti pelatihan tersebut, tercetuslah sebuah ide untuk membuat bakso yang lebih bervariasi dan berbeda dari usaha sejenis. Sigit diberi rekomendasi oleh creator desain grafis Kreavi di acara tersebut untuk memberikan warna yang berbeda karena saat ini sedang musimnya makanan berwarna.

Dari situlah, akhirnya Sigit memutuskan untuk berbisnis bakso hitam. Yang menjadikan bakso ini berbeda dari jenis bakso lainnya adalah digunakannya aktif charcoal (arang bamboo Jepang) dan proses masaknya yang menggunakan metode pengasapan.

Dalam penyajiannya, bakso hitam buatan Sigit disajikan dengan mie kuning, mie putih, sawi, dan juga taoge. Tak seperti usaha bakso lainnya yang menambahkan pelengkap seperti gorengan, siomay, maupun tahu, Sigit hanya menyediakan tambahan pentol saja.

Pentol yang ditawarkan dari bisnis bakso hitamnya terdapat 4 pilihan rasa yang berlainan, seperti keju, coklat, pedes, dan juga original. Dalam pembuatan baksonya sendiri, Sigit tak ingin menyerahkannya pada istri dan keluarganya. Karena, ia khawatir adanya perbedaan rasa dari bakso yang dihasilkannya. Untuk itu, ia memutuskan untuk membuat baksonya dengan tangan sendiri, tanpa mengandalkan bantuan orang lain.

“Lantaran dalam proses pengisiannya sedikit sulit, ada teknik-teknik tersendiri yang harus diperhatikan, mulai dari pengapian hingga proses pembentukan baksonya pun ada tekniknya sendiri. Keuntungan yang didapat dari bisnis bakso hitam ini cukup besar. Per harinya, untuk keuntungan penjualan bakso biasa bisa mencapai Rp 200 ribu. sedangkan bakso hitamnya bisa mencapai Rp 400 ribu,” beber Sigit.

Bisnis bakso yang dirintis Sigit dijalankan di sebuah kampus Unesa Lidah Kulon. Agar usahanya tetap aman dari ancaman penggusur, ia pun telah membuat Surat Izin Usaha Perdagangan (SIUP). Untuk mengembangkan bisnis bakso hitamnya tersebut, Sigit memutuskan untuk membuka bisnis bakso online. Dan kini, ia sudah memiliki pelanggan setia yang tersebar di Salatiga dan di Kota Baru. Setiap harinya, Sigit mampu mendistribusikan 40 pack bakso di satu kota.