Masih Fluktuatif, Ini Dia Tantangan Rupiah

Jakarta: Gubernur Bank Indonesia (BI), Agus Martowardojo, memaparkan sejumlah tantangan yang harus dihadapi mata uang Garuda ini.

Agus menyebut, tantangan utama bagi rupiah adalah besarnya defisit neraca transaksi berjalan yang hingga akhir 2014 sebesar USD26 miliar.

“Kami akan mengarahkan current account deficit (CAD) 2015 yang lebih sehat dan ingin dijaga pada 2,5-3 persen dari PDB,” ungkap Agus, dalam rapat dengan Komisi XI DPR RI, di Gedung DPR, Senayan, Jakarta, Rabu (25/3/2015).

Dia menilai, pelemahan nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) merupakan dinamika perekonomian global di tengah membaiknya perekonomian Amerika Serikat (AS). Menurut Agus, tingkat pelemahan rupiah terhadap dolar AS masih jauh lebih baik dibandingkan dengan mata uang sejumlah negara emerging market lain seperti Brasil, Turki, India, maupun Afrika Selatan.

“Selama Desember 2014 sampai awal Maret 2015, rupiah terhadap dolar AS terdepresiasi sebesar 4,19 persen,” ujarnya.

Jika dibandingkan, pada periode yang sama, ringgit Malaysia terdepresiasi 4,35 persen terhadap dolar AS. Begitu pula dengan mata uang Brasil yang melemah 18 persen terhadap dolar AS.

“(Mata uang) Afrika Selatan melemah 1,9 persen dan Turki melemah 9,3 persen. Depresiasi rupiah masih lebih baik daripada negara berkembang lainnya,” beber Agus.

Agus mengungkapkan, gejala pelemahan nilai tukar terhadap dolar AS ini tidak hanya terjadi di Indonesia, tapi juga mata uang di negara-negara lain. Dia pun mengakui pelemahan rupiah terhadap dolar, namun jika dibandingkan dengan mata uang lain, rupiah menguat.

“Rupiah menguat enam persen terhadap euro, terhadap Brasil menguat 13 persen, dan terhadap Turki menguat 5,2 persen,” tambahnya.

AHL

Sumber : metrotvnews.com

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here