Nelayan RI Diusir Kapal Asing Di Perairan Sendiri

DUAKALI.COM – Tindakan illegal fishing bukan hanya merugikan Indonesia secara finansial. Ternyata nelayan Indonesia sering mendapat ancaman dan diusir oleh nelayan asing di wilayahnya sendiri.

“Kami mendapat informasi dari pemda di Natuna, Anambas, Kepulauan Riau. Bahwa nelayan-nelayan mereka waktu itu diserang oleh nelayan asing. Nelayan kita lari karena dikejar-kejar,” ungkap Kepala Bakamla Laksdya Maritim Desi A. Mamahit.

Hal tersebut disampaikannya usai melakukan penandatangan kerja sama dengan 10 organisasi non pemerintah di Kantor Bakamla, Jl Pemuda, Rawamangun, Jaktim, Rabu (18/11/2015). Para nelayan yang lari ketakutan itu karena diancam disebut Mamahit lalu melapor ke pihak Pemda setempat.

“Pemda laporan ke kami. Lalu kami mengirimkan kapal dan nelayan asing itu kami usir. Sehingga nelayan kita bisa melakukan penangkapan ikan kembali,” ucapnya.

Peristiwa diusirnya nelayan Indonesia di wilayah perairannya sendiri oleh nelayan asing di Natuna itu terjadi sekitar awal tahun ini. Keadaan ini tentunya membuat miris. Apalagi ketika di tengah laut, nelayan Indonesia kalah jumlah dengan nelayan asing yang mencoba mencuri ikan.

“Nelayan asing kalau beroperasi di wilayah kita bisa 10 atau 20 kapal, sementara nelayan kita hanya 5 atau 2 kapal. Jadi pada saat mereka ketemu di tengah laut justru nelayan asing ini yang mengusir nelayan kita. Nah ini kan lucu, sampai dikejar-kejar dekat pulau dan ini nyata terjadi,” jelas Mamahit.

Peristiwa seperti itu ternyata cukup sering ditemukan di perairan lain, bukan hanya di Natuna semata. Para penegak hukum di laut, termasuk Bakamla, terus berupaya mengusir atau menangkap nelayan asing.

“Ada yang kita tangkap, ada yang sebelum kita datang mereka sudah tahu jadi lari duluan. Jadi ini salah satu kalau dibilang ini informan. Ya sekarang lumayan sudah berkurang,” kata Mamahit.

Bakamla sendiri disebut terus berupaya semaksimal mungkin mencegah potensi yang mengancam keamanan di laut. Termasuk mendukung kesemalatan bagi para masyarakat kemaritiman.

“Banyak juga yang kena musibah di laut, kapalnya terbakar, tenggelam, itu menjadi tanggungjawab biar bisa menolong secepatnya. Mengimbau masyarakat untuk memakai life jacket sebleum mereka berlayar. Makanya kami bagikan life jacket ke para nelayan,” tutur laksamana bintang 3 itu.

Untuk tahun ini saja, masalah keamanan di laut mencapai ratusan. Termasuk para korban yang meninggal. Mulai dari kapal tenggelam, terbalik, kandas, dan bocor.

“Trennya tergantung dengan cuaca. Dengan kita kerjasama ada sosialisasi-sosialisasi. Bagaimana masyarakat maritim, karena banyak kapal, pelayaran, pelayaran rakyat, standar keselamatan rendah,” ujar Mamahit.

“Misalnya kapalnya hanya bisa taruhlah, 10 orang. Tapi alat keselamatannya, cuma cukup 5, terus diisi 20 orang. Pas kebalik kan kurang alat keselamatannya. Mereka kadang abai dengan ramalan cuaca atau tidak memiliki akses informasi. Kami coba beri informasi ke seluruh pengguna perairan,” sambungnya.

Kerja sama sendiri memanfaatkan nelayan dan para unsur kemaritiman untuk menjadi informan. Dengan adanya pertukaran informasi, segala permasalahan menyangkut kelautan diharapkan dapat segera diatasi.

“Ada yang buat wisata, pas berenang mereka nggak lihat cuaca. Kerja sama ini menyangkut 5 dimensi. Perlindungan ekosistem laut, perbantuan pertahanan, keselamatan pelayaran dan penegakkan hukum, serta perbantuan SAR dan Rescue,” tukas Mamahit.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here